Imam Besar MAS Ajak Jamaah Jadi Muslim Berdampak Pasca-Ramadhan
Imam Besar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) menyerukan umat Islam untuk menjadi Muslim Berdampak setelah Ramadhan, berkontribusi positif bagi masyarakat luas.
Surabaya – Imam Besar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Prof. Dr. HM Ali Azis M.Ag, mengajak seluruh jamaah untuk menjadi Muslim berdampak pasca-Ramadhan. Seruan ini disampaikan dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah yang dilaksanakan di masjid tersebut pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Khutbah tersebut menekankan pentingnya peran Muslim dalam memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa. Ramadhan, menurut Prof. Ali Azis, telah melatih umat untuk menahan hawa nafsu dan memperbanyak sedekah, membentuk karakter Muslim yang memberi dampak positif.
Shalat Idul Fitri di MAS dihadiri oleh sekitar 50.000 umat, termasuk Menteri Sosial (Mensos) Syaifullah Yusuf, Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa, dan Wakil Gubernur (Wagub) Jatim Emil Elestianto Dardak. Kehadiran para pejabat publik ini menunjukkan relevansi pesan khutbah dengan upaya pembangunan sosial dan kemasyarakatan.
Memahami Konsep Muslim Berdampak
Dalam khutbahnya, Prof. Ali Azis menjelaskan bahwa konsep 'berdampak' dalam Islam dikenal sebagai "Anfa'uhum Linnas", yang berarti manusia yang paling bermanfaat bagi masyarakat. Istilah ini merujuk pada individu yang memberikan kontribusi positif dan solusi bagi lingkungan sekitarnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan Muslim berdampak dengan "rahmatan lil 'alamin" atau problem solver, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an (21:106). Ini adalah Muslim yang mampu membawa solusi dan kebahagiaan dalam masalah kemanusiaan, baik bagi sesama Muslim maupun non-Muslim, serta lingkungan.
Sebaliknya, Prof. Ali Azis juga menyinggung tentang "la’natan lil alamin" atau problem maker, yaitu Muslim yang justru menciptakan masalah di tengah masyarakat dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa spirit Ramadhan harus menjauhkan umat dari sifat tersebut dan mendorong untuk menjadi agen perubahan yang konstruktif.
Inspirasi Tokoh Muslim Berdampak
Prof. Ali Azis mengharapkan spirit Ramadhan dapat melahirkan lebih banyak Muslim berdampak yang mengikuti jejak para ilmuwan dan tokoh besar. Ia menyebutkan Al-Khawarizmi sebagai Bapak Aljabar/Algoritma dan Ibnu Sina di bidang kedokteran sebagai contoh kontribusi ilmiah yang abadi.
Dari Indonesia, ia mengapresiasi peran KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yang telah memberikan dampak besar bagi bangsa. Mereka adalah contoh nyata bagaimana kontribusi pemikiran dan gerakan dapat membawa kemajuan signifikan.
Secara khusus, Prof. Ali Azis juga menyoroti Dr. Achmad Syaifuddin, seorang anak muda asal Madura yang masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) ini menduduki peringkat ke-17 dunia berdasarkan rilis Stanford University bekerja sama dengan Elsevier BV Belanda pada 19 September 2025.
Dr. Achmad Syaifuddin mencatat prestasi internasional melalui teknologi UNUSA-Water, sebuah sistem filtrasi bertingkat berbahan alam yang mampu mengubah air kotor menjadi air layak minum dan sanitasi. Inovasi ini memiliki manfaat besar bagi jutaan orang di Indonesia yang kekurangan akses air bersih.
Sedekah Kebijakan untuk Kesejahteraan
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini menjelaskan bahwa dampak positif tidak harus selalu melalui penelitian ilmiah. Menjadi Muslim berdampak juga bisa diwujudkan melalui sedekah tenaga, pemikiran, maupun ilmu dalam berbagai profesi.
Bagi para penguasa atau legislatif, sedekah paling berharga adalah kebijakan atau keputusan penting yang menyangkut masa depan jutaan manusia. Kebijakan yang menyejahterakan masyarakat adalah bentuk kontribusi tertinggi dari posisi mereka.
Prof. Ali Azis menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI dan Wakil Presiden, serta seluruh anggota DPR, atas keputusan dan undang-undang yang menyejahterakan masyarakat. Ia menekankan bahwa inilah bentuk sedekah yang sesuai dengan peran dan posisi masing-masing, yang bermanfaat bagi semua pihak.
Sumber: AntaraNews