Hidup dalam Bayang-Bayang Ketakutan Tiap Musim Hujan
Sedikitnya 59 RT dan 30 ruas jalan di ibu kota masih terendam banjir hingga malam hari, sementara genangan air masih menghantui wilayah Jakarta Barat.
Jakarta dan sekitarnya tengah berada dalam status siaga akibat cuaca ekstrem yang belakangan melanda wilayah Jabodetabek. Berdasarkan data terbaru, sedikitnya 59 RT dan 30 ruas jalan di ibu kota masih terendam banjir hingga malam hari, sementara genangan air masih menghantui wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara.
Namun di perbatasan Bekasi, tepatnya di sekitar Perumahan Pantai Modern, hujan tidak sekadar menjadi fenomena cuaca ia berubah menjadi kecemasan setiap kali langit mendung.
"Hujan bagi sebagian orang mungkin hanya soal payung dan jas hujan. Tapi di sini, setiap tetes hujan selalu menimbulkan pertanyaan, apakah jalan utama akan kembali tergenang, dan seberapa tinggi air naik hari ini?" ujar Sabrina Dewi Adinda Putri, salah seorang warga setempat.
Jalan Utama yang Menjadi Sungai Keruh
Meski kompleks rumah Dinda tetap kokoh dan kering, kebanggaan itu seolah berhenti di gerbang perumahan. Begitu kendaraan menyentuh jalan di luar komplek, realitas pahit menyambut. Jalan Segara Makmur, akses utama menuju Jakarta Utara, Bojong, dan Kebun Kelapa, kini berubah menjadi jalur berbahaya, dipenuhi genangan air, lubang, dan lumpur tebal.
"Kalau yang kemarin itu, saya lihat videonya, air sampai setinggi lampu motor orang yang nekat lewat. Itu banjir terparah yang pernah saya saksikan. Salurannya tersumbat, pembuangannya mampet," ungkap Dinda dengan nada cemas.
Jebakan Lumpur dan "Makam" bagi Mesin Kendaraan
Bagi warga, banjir bukan sekadar genangan air kotor. Jalan yang retak dan berlubang menjadi ranjau tersembunyi di balik permukaan air. Mesin kendaraan bisa rusak, bahkan tergelincir di lubang yang tidak terlihat.
"Orang-orang di situ kayak ‘batu’ kalau diingatkan. Padahal saluran airnya sudah dangkal, ditambah sampah dan lumpur yang banyak," tambah Dinda, menunjuk titik kritis di dekat persawahan yang kerap dijadikan tempat pembuangan sampah liar.
Ancaman bagi Aktivitas Sehari-hari
Ikhsan, seorang pengguna jalan rutin, mengaku selalu was-was saat melewati Segara Makmur. Motor yang ia gunakan pernah mati total di tengah banjir, memaksanya menuntun kendaraan sambil menanggung biaya perbaikan yang tidak sedikit.
"Ini jalan utama. Banjir bukan hanya mengganggu perjalanan, tapi menghambat nafkah. Banyak orang terlambat kerja, bahkan batal berangkat karena risiko jatuh atau motor mogok,” katanya.
Harapan pada Infrastruktur dan Kesadaran Bersama
Warga kini menaruh harapan besar pada perbaikan infrastruktur yang permanen, gorong-gorong lebih besar, peninggian jalan agar tidak lebih rendah dari aliran, dan pengoptimalan fungsi lahan. Dinda bahkan mengusulkan agar titik pembuangan sampah diubah menjadi taman, sekaligus mendidik warga agar tidak lagi membuang sampah sembarangan.
"Harapan saya, jalannya jangan retak lagi. Gorong-gorong harus dioptimalkan. Tempat sampah bisa dijadikan taman supaya warga peduli lingkungan. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, tapi keselamatan dan produktivitas kita," kata Dinda.
Menatap Hujan dengan Gelisah
Kini, setiap mendung menggantung di langit Bekasi, Dinda, Pak Ikhsan, dan ribuan warga lainnya hanya bisa menarik napas panjang. Mereka tidak butuh spanduk baru, kampanye, atau janji manis. Yang mereka butuhkan adalah asal jalan yang mulus, saluran air lancar, dan jaminan perjalanan yang aman agar musim hujan tidak lagi menjadi mimpi buruk yang harus mereka hadapi setiap hari.
Reporter Magang - Mochamad Aidil Akbar