Hujan Deras Sebabkan Banjir Rangkasbitung, Sejumlah Ruas Jalan Utama Terendam
Hujan deras selama empat jam pada Sabtu menyebabkan sejumlah ruas jalan di Rangkasbitung tergenang banjir, menghambat aktivitas warga dan pengendara serta menyoroti masalah drainase.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, pada Sabtu, 7 Maret 2026, menyebabkan sejumlah ruas jalan utama terendam banjir. Genangan air ini berlangsung selama empat jam, mulai pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, mengganggu mobilitas warga dan aktivitas perekonomian di daerah tersebut.
Peristiwa ini menjadi sorotan setelah banyak pengendara kendaraan roda dua dan roda empat terjebak dalam genangan air yang cukup tinggi. Kondisi ini memaksa para pengguna jalan untuk ekstra hati-hati saat melintas, bahkan beberapa di antaranya harus mendorong kendaraan yang mogok akibat mesin kemasukan air.
Banjir ini tidak hanya menghambat perjalanan, tetapi juga menimbulkan kerugian materiil bagi sebagian warga. Kondisi drainase yang buruk di sekitar lokasi kejadian disebut-sebut sebagai faktor utama penyebab meluapnya air hujan ke jalanan.
Dampak Banjir Rangkasbitung terhadap Mobilitas Warga
Genangan air dengan ketinggian bervariasi antara 60 hingga 80 sentimeter merendam beberapa ruas jalan vital di Rangkasbitung. Jalan-jalan yang terdampak meliputi Jalan Sunankalijaga, Jalan Sunan Giri, Jalan Hardiwinangun, Jalan Dr Ir Soetami, Jalan Ir Djuanda, Jalan Multatuli, Jalan Bypass, dan Jalan Malanengah.
Seorang warga Rangkasbitung, Suheri, mengungkapkan pengalamannya terjebak banjir saat melintasi Jalan Sunangiri, tepatnya di depan Kodim 0603/Lebak. "Kami terjebak banjir saat melintasi Jalan Sunangiri, tepatnya depan Kodim 0603/Lebak," ujarnya saat mendorong sepeda motornya yang mati terendam banjir. Ia merasa beruntung karena ada anak-anak yang membantu mendorong kendaraannya.
Tidak hanya pengendara sepeda motor, pengemudi angkutan umum juga merasakan dampak langsung dari banjir ini. Jumadi, seorang pengemudi angkutan, menceritakan bahwa kendaraannya mogok setelah melintasi Jalan Dr Ir Soetami yang menghubungkan Rangkasbitung-Cikande. Mesin angkotnya mati karena karburator kemasukan air, sehingga harus diperbaiki selama kurang lebih 40 menit sebelum bisa beroperasi kembali.
Penyebab Utama Genangan Air dan Peran Drainase
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizky Pratama, membenarkan bahwa banjir yang melanda ruas jalan Rangkasbitung dan sekitarnya disebabkan oleh sistem drainase yang tidak berfungsi optimal. Air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar melalui saluran pembuangan, sehingga meluap ke jalanan.
Menurut Febby, banyak drainase di wilayah tersebut yang kondisinya memprihatinkan. Tumpukan sampah seringkali menyumbat saluran air, ditambah lagi dengan ukuran saluran yang terlalu kecil. Kondisi ini membuat drainase tidak mampu menampung debit air hujan yang lebat, terutama saat curah hujan tinggi seperti yang terjadi pada Sabtu lalu.
Oleh karena itu, Febby menekankan pentingnya normalisasi drainase sebagai langkah antisipasi. "Kami berharap pembangunan dan perbaikan saluran drainase perlu dilakukan untuk mengantisipasi banjir itu," katanya, menyoroti perlunya tindakan konkret dari pemerintah daerah untuk mengatasi masalah infrastruktur ini. Perbaikan dan pelebaran saluran drainase menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Harapan dan Solusi Jangka Panjang untuk Rangkasbitung
Insiden banjir Rangkasbitung ini menjadi pengingat akan urgensi penataan sistem drainase kota. Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merumuskan dan mengimplementasikan program normalisasi drainase secara komprehensif. Program ini tidak hanya mencakup pembersihan rutin dari sampah, tetapi juga evaluasi ulang kapasitas saluran air agar sesuai dengan volume curah hujan yang kerap tinggi.
Partisipasi aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air. Edukasi mengenai pentingnya menjaga drainase yang lancar dapat membantu mengurangi risiko genangan air di masa depan.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan Rangkasbitung dapat memiliki infrastruktur drainase yang lebih baik. Hal ini akan meminimalisir dampak negatif dari hujan deras, menjaga kelancaran lalu lintas, serta melindungi properti warga dari ancaman banjir.
Sumber: AntaraNews