Fakta Unik: Banjir Kota Malang di 22 Titik Cepat Surut dalam Setengah Jam, Apa Penyebabnya?

BPBD Kota Malang mencatat 22 titik terendam Banjir Kota Malang akibat hujan deras, namun air cepat surut. Cari tahu penyebab utama banjir dan penanganannya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Banjir Kota Malang di 22 Titik Cepat Surut dalam Setengah Jam, Apa Penyebabnya?
Hujan deras mengguyur Kota Malang menyebabkan 22 titik terendam banjir. BPBD Kota Malang mengungkap penyebab utama dan lokasi terdampak. Apa saja? (AntaraNews)

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Malang pada Rabu menyebabkan setidaknya 22 titik lokasi terendam banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Jawa Timur, mencatat kejadian ini terjadi di empat kecamatan utama. Peristiwa ini menunjukkan kerentanan infrastruktur kota terhadap curah hujan tinggi yang intens.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, mengonfirmasi bahwa puluhan titik tersebut tersebar di Kecamatan Blimbing, Klojen, Sukun, dan Lowokwaru. Meskipun demikian, ketinggian air rata-rata 50 sentimeter yang merendam lokasi-lokasi tersebut dilaporkan surut dengan cepat. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pihak berwenang untuk mengidentifikasi akar masalahnya.

Meskipun cepat surut, kejadian Banjir Kota Malang ini tetap menimbulkan pertanyaan mengenai kapasitas drainase kota. BPBD telah melakukan asesmen awal untuk memahami faktor-faktor penyebab. Hasil asesmen ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi upaya mitigasi dan perbaikan sistem di masa mendatang.

Berdasarkan hasil asesmen dan pemetaan lokasi oleh BPBD Kota Malang, ke-22 lokasi yang tergenang banjir tersebar merata. Di Kecamatan Blimbing, titik-titik terdampak meliputi Jalan Sulfat, Jalan Ciliwung, Perumahan Deklaster Nirwana, Jalan Kedawung, Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan Raden Panji Suroso.

Sementara itu, di Kecamatan Klojen, banjir melanda area sekitar Early Warning System (EWS) Bukit Barisan, EWS Bareng, EWS Kayutangan, EWS Bogor, Jalan Surabaya di depan SMK Negeri 3 Kota Malang, Jalan Galunggung, dan Jalan Bandung. Kecamatan Sukun juga tidak luput dari dampak Banjir Kota Malang, dengan lokasi seperti Jalan I.R Rais Gang 9 dan Gang 15, Jalan Terusan Dieng, Pasar Kasin, dan EWS Candi.

Terakhir, di Kecamatan Lowokwaru, banjir terjadi di Jalan Bunga Coklat, Jalan Mbethek gang 11, Jalan Cengger Ayam, dan EWS Sudimoro. Prayitno menyebut, rata-rata air pada peristiwa banjir yang melanda puluhan lokasi di Kota Malang setinggi 50 sentimeter. “Tapi dalam waktu sekitar setengah jam sudah surut,” ucap dia, menunjukkan kecepatan air mengalir kembali.

Penyebab utama terjadinya Banjir Kota Malang ini diidentifikasi karena kurangnya kemampuan sistem saluran atau drainase. Sistem drainase yang ada tidak mampu menampung aliran air yang besar akibat hujan deras. Faktor ini diperparah oleh endapan sedimen dan tumpukan sampah yang menyumbat saluran air.

Selain itu, banyak lubang afur atau penyaring pada saluran yang kondisinya kurang terawat dan tertutup. Kondisi ini mengakibatkan air yang seharusnya bisa dialirkan melalui drainase justru meluber ke area jalan di 22 lokasi tersebut. Akibatnya, genangan air tidak dapat masuk ke dalam sistem pembuangan dengan lancar.

Prayitno mencontohkan, seperti banjir di Jalan Ciliwung, kondisi lubang afur yang terlalu rapat tidak memberikan celah bagi air untuk teralirkan masuk ke dalam saluran. Hal ini menjadi masalah krusial yang perlu penanganan serius. Penumpukan sampah juga menjadi faktor signifikan yang memperburuk kondisi drainase kota.

Menanggapi kondisi Banjir Kota Malang ini, BPBD telah melakukan asesmen menyeluruh terhadap lokasi-lokasi terdampak. Data yang terkumpul akan menjadi dasar untuk langkah-langkah penanganan lebih lanjut. Identifikasi masalah pada drainase menjadi prioritas utama untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, telah meminta Camat Blimbing untuk segera berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman). Hal ini dikarenakan pengelolaan drainase kota berada di bawah kewenangan dinas tersebut. Koordinasi antar instansi sangat penting untuk penanganan yang efektif dan berkelanjutan.

Langkah ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan dan pembersihan saluran drainase yang tersumbat. Upaya pencegahan, seperti sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan saluran air, juga perlu ditingkatkan. Dengan demikian, risiko Banjir Kota Malang akibat masalah drainase dapat diminimalisir.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi