Harga Tinggi Jadi Kendala Pemanfaatan Energi Panas Bumi Indonesia, Stella Christie Dorong Riset
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan tantangan utama Pemanfaatan Energi Panas Bumi Indonesia yang berpotensi besar namun terhambat biaya tinggi, mendorong riset strategis untuk optimalisasi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyoroti belum efektifnya aplikasi energi panas bumi atau geothermal di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Stella di Jakarta pada Senin (7/4) lalu, menandai perhatian serius pemerintah terhadap sektor energi terbarukan.
Penyebab utama dari belum optimalnya pemanfaatan energi panas bumi ini adalah masalah harga listrik. Menurut Stella, harga listrik dari fossil fuel seperti batu bara berkisar 7-8 cent per kilowatt hours (kWh), sementara listrik dari panas bumi masih sekitar 18 cent per kWh di Indonesia. Perbedaan harga yang signifikan ini menjadi penghalang utama.
Meskipun menghadapi tantangan harga, Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang sangat besar, mencapai sekitar 40 persen dari total potensi dunia. Namun, saat ini Indonesia baru menggunakan sekitar 10 persen dari potensi tersebut, sehingga riset aplikatif dan kerja sama antar instansi menjadi sangat krusial untuk mengoptimalkan pemanfaatannya.
Tantangan Ekonomi dan Potensi Geothermal Global
Mahalnya harga listrik panas bumi menjadi kendala tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain di dunia, yang menyebabkan implementasi energi terbarukan ini belum masif. Namun, Stella Christie melihat ini sebagai peluang bagi Indonesia untuk menjadi yang terdepan dalam pengembangan energi panas bumi, mengingat cadangan yang melimpah.
Indonesia diberkahi dengan sekitar 40 persen dari potensi energi panas bumi global, menjadikannya salah satu negara dengan sumber daya geothermal terbesar di dunia. Potensi ini tersebar di berbagai wilayah, menawarkan peluang besar untuk diversifikasi energi nasional.
Dengan potensi sebesar itu, Indonesia memiliki kesempatan untuk memimpin dalam inovasi dan aplikasi teknologi panas bumi. Fokus pada riset dan pengembangan dapat membantu menurunkan biaya produksi, sehingga energi panas bumi menjadi lebih kompetitif dan dapat diakses secara luas.
Prioritas Riset Strategis Nasional untuk Energi Bersih
Wamendiktisaintek Stella Christie menekankan bahwa energi panas bumi harus menjadi salah satu prioritas riset strategis nasional. Hal ini didasari oleh karakteristik energi panas bumi yang bersih dan konsisten, tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti energi surya atau angin.
Pemerintah Republik Indonesia telah memosisikan riset energi sebagai pilar utama dalam Program Riset Strategis Nasional. Langkah ini diambil untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen, yang telah dicanangkan dalam kebijakan energi nasional.
Keunggulan energi panas bumi sebagai sumber energi yang stabil dan ramah lingkungan menjadikannya pilihan ideal untuk mendukung transisi energi Indonesia. Investasi dalam riset dan pengembangan diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang lebih efisien dan terjangkau.
Komitmen Indonesia Menuju Net Zero Emission
Integrasi riset energi panas bumi ke dalam skala nasional juga merupakan bagian dari komitmen Indonesia terhadap Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC). Komitmen ini bertujuan untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat.
Untuk mewujudkan tujuan ini, Stella Christie menegaskan pentingnya kerja sama yang erat antara berbagai instansi. Kolaborasi ini diperlukan untuk meninjau kembali dan memperbaiki ekosistem geothermal di Indonesia, mulai dari eksplorasi hingga pemanfaatan.
Melalui upaya kolektif dan riset yang terarah, Indonesia berambisi untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi panas bumi. Hal ini tidak hanya akan mendukung ketahanan energi nasional tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap upaya global dalam mitigasi perubahan iklim.
Sumber: AntaraNews