NEXT Indonesia Center secara aktif mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Langkah ini krusial untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap energi fosil yang masih sangat dominan. Direktur NEXT Indonesia Center, Christiantoko, pada Minggu (08/3) di Jakarta, menyatakan transisi energi adalah agenda strategis dalam pembangunan Indonesia.
Namun, upaya menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan menghadapi tantangan besar. Struktur energi nasional Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Ketergantungan ini membuat target penurunan emisi jelas akan sulit tercapai, menurut Christiantoko.
Komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi telah tertuang dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang disampaikan kepada Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Komitmen ini kemudian diperbarui melalui Second Nationally Determined Contribution (SNDC) pada 2025. SNDC menargetkan penurunan emisi signifikan hingga 2030 dan 2035, sebagai bagian dari jalur menuju target net zero emission (NZE) pada 2060.
Advertisement
Advertisement
NEXT Indonesia Center menyoroti pergeseran signifikan dalam struktur emisi Indonesia selama dua dekade terakhir. Jika pada awal 2000-an emisi nasional didominasi sektor kehutanan atau forestry and other land use (FOLU), kini sektor energi justru menjadi penyumbang emisi terbesar di tanah air.
Kontribusi emisi dari sektor energi bahkan telah melampaui 50 persen dalam beberapa tahun terakhir. Tren ini sangat mengkhawatirkan karena emisi energi bersifat lebih konsisten dan sulit ditekan. Sumber emisi energi tersebut berasal dari pembangkit listrik berbasis batu bara, transportasi berbahan bakar minyak, dan aktivitas industri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan emisi dari sektor energi meningkat drastis dalam dua dekade terakhir. Pada tahun 2000, emisi energi tercatat sekitar 317 juta ton CO2e. Angka ini melonjak signifikan menjadi 752 juta ton CO2e pada tahun 2023.
Advertisement
Advertisement
Emisi karbon Indonesia dari sektor energi tercatat sebagai yang tertinggi secara absolut dibandingkan negara-negara di kawasan ASEAN. Data Energy Institute pada 2024 mencatat emisi CO2 dari energi Indonesia mencapai sekitar 747 juta ton. Angka ini jauh melampaui Malaysia (296 juta ton), Thailand (271 juta ton), Singapura (248 juta ton), Filipina (164 juta ton), dan Vietnam (334 juta ton).
Pihaknya juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap batu bara yang masih menjadi penghambat utama dalam proses transisi energi. Pada 2024, dari total konsumsi energi primer sekitar 10,75 exajoules, batu bara menyumbang porsi terbesar, yakni 43,9 persen.
Minyak bumi berkontribusi 29,4 persen dan gas alam 15,8 persen. Di sisi lain, kontribusi pemanfaatan EBT masih terbatas sekitar 10,8 persen. Christiantoko menyatakan, “Rendahnya porsi EBT Indonesia sebesar 10,8 persen ini tertinggal dibanding rata-rata global yang sudah lebih dari 19 persen.”
Advertisement
Padahal, secara potensi teknis, Indonesia memiliki sumber daya surya, air, panas bumi, dan bioenergi yang melimpah. Hal ini menunjukkan bahwa tantangannya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada kecepatan transformasi sistem energi.
Advertisement
Jika melihat komposisi pembangkit listrik nasional sepanjang periode 2015–2024, batu bara juga masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan Indonesia. Pada tahun 2015, energi ini menyumbang 53,3 persen produksi listrik nasional.
Proporsi ini meningkat signifikan menjadi sekitar 61,5 persen pada tahun 2024. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kebutuhan listrik Indonesia masih banyak dipenuhi oleh sumber energi dengan intensitas karbon tinggi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meskipun ada komitmen penurunan emisi, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala. Diperlukan upaya lebih serius untuk menggeser ketergantungan ini, dengan pemanfaatan EBT sebagai prioritas utama.
Advertisement
Advertisement
Christiantoko menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi sangat ditentukan oleh konsistensi. Konsistensi antara target yang ditetapkan dan implementasi kebijakan di lapangan sangat vital. Tanpa konsistensi, tujuan transisi energi akan sulit tercapai.
“Tantangan kita bukan sekadar menambah energi terbarukan, melainkan keberanian untuk mengubah sistem energi nasional secara menyeluruh demi masa depan ekonomi hijau Indonesia,” ucap Christiantoko.
Transformasi sistem energi memerlukan dukungan kebijakan yang kuat dan investasi signifikan. Hal ini juga membutuhkan kesadaran kolektif dari berbagai pihak. Pemanfaatan EBT secara masif akan mendukung pencapaian target net zero emission 2060.
Advertisement
Sumber: AntaraNews