FHI 2025: 436 Peserta dari 60 Negara Jalin Persahabatan Global Lewat Bahasa Indonesia
Festival Handai Indonesia 2025 (FHI 2025) berhasil menyatukan 436 peserta dari 60 negara untuk merayakan persahabatan global melalui diplomasi bahasa Indonesia, memicu rasa penasaran akan dampaknya.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sukses menyelenggarakan Festival Handai Indonesia (FHI) 2025. Acara ini dirancang sebagai wadah strategis bagi warga dunia untuk membangun persahabatan erat melalui medium bahasa Indonesia.
Puncak pengumuman peserta terbaik FHI 2025 berlangsung meriah di Jakarta pada Senin malam, 27 Oktober 2025. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar ajang kompetisi.
FHI 2025 secara khusus bertujuan untuk memperkuat diplomasi bahasa Indonesia di kancah internasional. Selain itu, festival ini juga berupaya mempererat hubungan antarbangsa melalui pemahaman budaya serta nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam bahasa.
Bahasa Indonesia sebagai Perekat Keberagaman Global
Hafidz Muksin mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya Festival Handai Indonesia 2025. Menurutnya, bahasa Indonesia memiliki peran krusial sebagai medium pemersatu dan perekat keberagaman yang sangat efektif.
Melalui Festival Handai Indonesia 2025, warga dunia dapat menjalin persahabatan yang tulus dan merayakan keberagaman budaya. Ini adalah langkah penting untuk membangun saling pengertian serta kerja sama demi perdamaian dan kemakmuran bersama.
"Bahasa Indonesia sebagai medium pemersatu dan perekat keberagaman. Melalui bahasa Indonesia, warga dunia dapat menjalin persahabatan, merayakan keberagaman, serta membangun saling pengertian dan kerja sama demi perdamaian dan kemakmuran bersama,” kata Hafidz.
Festival tahunan ini telah menjadi ajang apresiasi bergengsi bagi pembelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sejak tahun 2020. FHI terus berkomitmen untuk mempromosikan bahasa dan budaya Indonesia ke seluruh penjuru dunia.
Partisipasi Global dan Apresiasi Diplomatik
Festival Handai Indonesia 2025 mencatat partisipasi yang luar biasa dengan 436 peserta. Mereka berasal dari 60 negara berbeda, menunjukkan minat global yang tinggi terhadap bahasa Indonesia dan budaya Tanah Air.
Para peserta berkompetisi dalam lima kategori lomba berbahasa Indonesia. Kategori tersebut meliputi bercerita, bernyanyi, berpantun, berpidato, dan berpuisi, yang semuanya menguji kemampuan berbahasa dan ekspresi budaya.
Dari ratusan peserta, dewan juri telah menetapkan 35 nomine terbaik dari 23 negara. Mereka berkesempatan hadir langsung di Jakarta untuk mengikuti kegiatan apresiasi yang berlangsung pada 25–31 Oktober 2025.
Negara-negara yang mengirimkan nomine terbaik antara lain:
- Afganistan, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Filipina, India, Italia, Jepang, Kamboja, Kirgiztan, Korea Selatan, Malaysia, Pakistan, Peru, Republik Demokratik Kongo, Rusia, Sudan, Thailand, Timor Leste, Turki, Uzbekistan, Vietnam, dan Yaman.
Badan Bahasa Kemendikdasmen menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. Terutama para atase pendidikan dan kebudayaan yang berperan aktif dalam mengembangkan program BIPA di berbagai negara.
Menurut Hafidz, kolaborasi diplomasi budaya semacam ini merupakan kunci utama. Kerja sama ini penting dalam memperluas pemahaman dunia terhadap Indonesia melalui bahasa yang universal.
Pengumuman Pemenang dan Simbol Persahabatan
Dalam acara puncak Festival Handai Indonesia 2025, panitia mengumumkan para peserta terbaik dari setiap kategori. Nindawan Asavataweechok dari Thailand meraih posisi pertama untuk lomba bernyanyi.
Diikuti oleh Beatricha Da Costa Araujo dari Timor Leste sebagai peserta terbaik kedua, dan Kristen Elizabeth Spangernberg dari Amerika Serikat sebagai peserta terbaik ketiga. Prestasi mereka menunjukkan bakat luar biasa dalam seni vokal berbahasa Indonesia.
Untuk Lomba Bercerita, Sundes Ejaz dari Pakistan berhasil menempati posisi terbaik pertama. Sementara itu, Firadao Waehama menjadi peserta terbaik pertama untuk Lomba Pantun, menunjukkan kekayaan sastra Indonesia yang memikat.
Angus Asam Wood dari Australia dinobatkan sebagai peserta terbaik pertama dalam Lomba Pidato FHI 2025. Ini membuktikan kemampuan retorika yang kuat dalam menyampaikan pesan menggunakan bahasa Indonesia.
"Festival ini menjadi simbol bahwa bahasa Indonesia tidak hanya menghubungkan bangsa Indonesia dengan dunia, tetapi juga menghubungkan warga dunia satu sama lain dalam semangat perdamaian dan persahabatan,” ujar Hafidz Muksin. FHI 2025 menegaskan peran bahasa sebagai jembatan budaya yang kuat.
Sumber: AntaraNews