Fenomena Amblesan Tanah Gunungkidul: Guru Besar UGM Sebut Hal Umum di Kawasan Karst
Amblesan tanah di Gunungkidul kembali terjadi, namun Guru Besar UGM Prof. Wahyu Wilopo menjelaskan Fenomena Amblesan Tanah Gunungkidul ini merupakan hal lumrah di kawasan karst saat musim hujan.
Amblesan tanah kembali menjadi sorotan di Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 7 Januari 2026 di dalam rumah warga.
Guru Besar Geologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Wahyu Wilopo, menjelaskan bahwa kejadian ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Menurutnya, amblesan di Gunungkidul merupakan fenomena umum yang sering muncul di kawasan karst, khususnya pada musim hujan.
Kondisi geologis Gunungkidul yang didominasi batu gamping menjadi penyebab utama fenomena ini. Batuan tersebut mudah mengalami pelarutan, sehingga membentuk rongga bawah tanah dan memicu terjadinya amblesan.
Karakteristik Kawasan Karst dan Pemicu Amblesan
Kawasan Gunungkidul didominasi oleh batu gamping yang memiliki sifat mudah mengalami pelarutan. Kondisi geologis ini secara alami membentuk rongga-rongga di bawah tanah. Amblesan atau sinkhole lebih mudah terjadi di area tersebut karena adanya pelarutan batuan.
Suplai air permukaan yang tinggi, seperti di persawahan atau sekitar permukiman warga, mempercepat proses pelarutan ini. Air merupakan agen utama yang memicu dan mempercepat proses pelarutan batuan karst.
Selain itu, keberadaan septic tank di sekitar permukiman juga dapat menjadi faktor pemicu amblesan. Air limbah yang meresap ke dalam tanah dapat mempercepat proses pelarutan batuan gamping.
Prof. Wahyu Wilopo juga menyebutkan bahwa amblesan di kawasan karst berpotensi merembet ke titik lain. Hal ini karena rongga bawah tanah bisa saling terhubung dan tidak hanya berada pada satu lapisan.
Deteksi dan Penanganan Amblesan Tanah
Terkait amblesan ini, Pemerintah Daerah DIY berencana melakukan uji geolistrik. Prof. Wahyu Wilopo menilai metode tersebut efektif untuk mengidentifikasi dimensi rongga bawah tanah.
Uji geolistrik dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi bawah permukaan, termasuk kedalaman dan lebar lubang. Hasilnya akan terlihat dari anomali nilai resistivitas tanah.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, dapat ditentukan apakah lokasi amblesan masih memungkinkan untuk dilakukan rekayasa teknis. Alternatifnya adalah perlu dilakukan pengosongan sementara area tersebut.
Meskipun demikian, Prof. Wahyu Wilopo menyarankan agar warga menghindari sementara lokasi amblesan. Ini penting hingga tersedia hasil kajian detail mengenai kondisi bawah tanah.
Risiko Pengurukan Tanpa Kajian Mendalam
Mengenai rencana pengurukan amblesan oleh warga di Girikarto, Prof. Wahyu Wilopo menilai langkah tersebut berisiko. Pengurukan tanpa kajian menyeluruh kondisi bawah tanah dapat menimbulkan masalah baru.
Apabila lubangnya besar, material urukan dapat lari ke mana-mana dan tidak efektif. Situasi ini bisa menyebabkan upaya pengurukan menjadi sia-sia.
Selain itu, jika amblesan tersebut merupakan jalur air, urukan bisa terbawa arus dan runtuh lagi secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat membahayakan warga dan struktur di sekitarnya.
Sumber: AntaraNews