DWP Manggarai Barat Gandeng Pemerhati Anak, Fokus Cegah Kekerasan Anak Manggarai Barat
DWP Manggarai Barat berkolaborasi dengan pemerhati anak untuk Cegah Kekerasan Anak Manggarai Barat, fokus pada pola asuh dan pengawasan gawai demi Labuan Bajo ramah anak.
Dharma Wanita Persatuan (DWP) Manggarai Barat (Mabar) mengambil langkah konkret dalam upaya perlindungan anak di Labuan Bajo. Mereka berkolaborasi dengan pemerhati anak dan perempuan untuk mencegah praktik kekerasan terhadap anak. Inisiatif ini bertujuan menekan angka kasus kekerasan anak di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Langkah strategis ini diumumkan dalam perayaan HUT ke-26 DWP tingkat Kabupaten Manggarai Barat di Labuan Bajo pada Kamis (12/12). Ketua DWP Manggarai Barat, Fatinci Reynilda Sodo, menegaskan komitmen mereka. Ia menyatakan bahwa DWP tidak ingin kegiatan ini hanya sekadar seremonial belaka.
Fatinci Reynilda Sodo menjelaskan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan tagline HUT ke-26 DWP. Tagline tersebut adalah "mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, agar anak itu menuju ke generasi emas." Mereka bertekad menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak di Labuan Bajo.
Kolaborasi Strategis DWP Mabar dan Pemerhati Anak
DWP Manggarai Barat telah membangun kerja sama dengan Koordinator JPIC SSpS Flores Barat Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak, Suster Frederika Tanggu Hana, SSpS. Kerja sama ini bertujuan agar Suster Frederika dapat memberikan materi terkait kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Selain itu, kolaborasi ini mendorong upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan.
Fatinci Reynilda Sodo menyampaikan harapannya agar Suster Frederika Tanggu Hana dapat memberikan gambaran kondisi perkembangan anak di Manggarai Barat saat ini. Informasi tersebut akan menjadi dasar data awal yang kuat bagi DWP untuk menyusun program kegiatan di tahun-tahun mendatang. Hal ini menunjukkan komitmen DWP dalam merancang program yang berbasis data.
Lebih lanjut, DWP Manggarai Barat juga mendorong program kerja pada tahun 2026 mendatang untuk fokus pada sosialisasi dan edukasi. Kegiatan ini akan dilakukan di berbagai sekolah di Labuan Bajo. Tujuannya adalah untuk secara dini dapat mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan.
Visi DWP adalah untuk melindungi anak-anak dan menciptakan Labuan Bajo ramah anak. Mereka berharap anak-anak yang dibimbing dapat tumbuh penuh percaya diri dan mampu tampil menjadi pemimpin di masa depan. DWP ingin memastikan anak-anak tidak tumbuh dari luka batin akibat kekerasan di waktu kecil.
Peran Penting Pola Asuh dan Pengawasan Gawai dalam Cegah Kekerasan Anak
Sementara itu, Koordinator JPIC SSpS Flores Barat Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak, Suster Frederika Tanggu Hana, SSpS, menekankan pentingnya pola asuh orang tua. Ia menyampaikan kepada para pengurus DWP Manggarai Barat bahwa pola asuh yang tepat menjadi kunci utama dalam pencegahan kekerasan. Ini termasuk upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak di daerah tersebut.
Suster Frederika juga meminta para orang tua untuk lebih mengawasi penggunaan gawai pada anak-anak. Penggunaan gawai yang tidak terkontrol berpotensi memicu tindak kekerasan seksual dan perundungan. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat dampak negatif teknologi.
Ia menambahkan bahwa penggunaan gawai yang tidak bijaksana turut menyumbang pada tingginya angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak. Oleh karena itu, edukasi dan pengawasan menjadi krusial. Langkah ini penting untuk melindungi generasi muda dari ancaman digital.
"Tolong perhatikan anak-anak saat menggunakan handphone, karena mereka rentan mendapatkan kekerasan berbasis online," tegas Suster Frederika. Peringatan ini menyoroti bahaya yang mengintai anak-anak di dunia maya.
Sumber: AntaraNews