DPRD Jabar Dorong Dukungan Penuh Pemda untuk SLBN Taruna Mandiri Kuningan
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat menyoroti kebutuhan mendesak akan dukungan Pemda untuk SLBN Taruna Mandiri Kuningan, terutama dalam hal tenaga pengajar dan sarana prasarana, demi keberlanjutan pendidikan siswa berkebutuhan khusus.
Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Encep Sugiana, menyoroti kebutuhan mendesak akan dukungan penuh dari pemerintah daerah (pemda) untuk Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Taruna Mandiri di Kuningan. Kunjungan kerja Komisi V pada Rabu (21/1) mengungkapkan beberapa tantangan utama yang dihadapi sekolah tersebut. Dukungan ini sangat krusial demi memastikan kualitas pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus.
Encep Sugiana menyatakan bahwa SLBN Taruna Mandiri, meskipun sudah sangat representatif dan layak menjadi percontohan di Jawa Barat, masih menghadapi kendala serius. Terutama dalam pemenuhan tenaga pengajar khusus dan ketersediaan sarana prasarana pendidikan yang memadai. Situasi ini memerlukan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pernyataan ini disampaikan di Cirebon pada hari Jumat, 23 Januari, setelah kunjungan langsung ke SLBN Taruna Mandiri. Hasil kunjungan kerja ini diharapkan menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi Pemprov Jabar. Tujuannya adalah memperkuat layanan pendidikan inklusif di wilayah tersebut.
Keterbatasan Tenaga Pengajar dan Prestasi Gemilang
SLBN Taruna Mandiri di Kuningan saat ini menampung sekitar 269 siswa dengan 13 program keahlian yang beragam. Program ini mencakup pendidikan akademik dan vokasi. Namun, sekolah ini menghadapi keterbatasan jumlah guru pendidikan khusus, yang menjadi tantangan utama.
Keterbatasan ini menjadi tantangan utama, mengingat tingginya jumlah siswa serta beragamnya program keahlian yang dikembangkan di sekolah tersebut. Meskipun demikian, SLBN Taruna Mandiri telah mencatat berbagai prestasi hingga tingkat nasional. Ini menunjukkan pengelolaan yang profesional.
Encep Sugiana menekankan bahwa meskipun prestasi banyak dan pengelolaannya profesional, kebutuhan tenaga pengajar khusus masih sangat kurang. Kondisi ini perlu segera mendapat perhatian khususnya dari Pemprov Jabar.
Pengembangan Vokasi dan Tantangan Sarana Prasarana
Sekolah ini mengembangkan program vokasi yang relevan, seperti keterampilan otomotif dan servis sepeda motor. Program ini bertujuan membekali siswa berkebutuhan khusus dengan kompetensi kerja. Tujuannya agar mereka siap bersaing di dunia kerja.
Pihak sekolah juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan. Ini dilakukan guna membuka peluang penyerapan lulusan ke dunia kerja sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Selain bidang vokasi, SLB tersebut mencatat prestasi di bidang olahraga dan seni, termasuk siswa yang tergabung sebagai atlet sepak bola dalam ajang olahraga difabel tingkat nasional.
Namun demikian, Encep menilai pengembangan potensi siswa tersebut membutuhkan dukungan sarana praktik yang memadai dan berkelanjutan. Peralatan praktik untuk beberapa program keahlian masih perlu ditingkatkan agar proses pembelajaran berjalan optimal.
Isu Kesejahteraan Guru dan Status Lahan Sekolah
Selain masalah sarana, kesejahteraan guru juga menjadi sorotan, khususnya guru PPPK dan PPPK paruh waktu. Encep Sugiana menilai kesejahteraan mereka perlu mendapatkan perhatian lebih dari Pemprov Jabar. Ini penting untuk menjaga motivasi dan kualitas pengajaran.
Masalah lain yang diungkapkan adalah status lahan sekolah yang hingga kini masih berstatus milik desa. Lahan tersebut digunakan melalui sistem sewa, yang menimbulkan ketidakpastian. Situasi ini perlu segera dicarikan solusi oleh pihak terkait.
Encep menekankan bahwa kepastian status lahan menjadi faktor penting untuk menjamin keberlanjutan pengembangan fasilitas pendidikan di SLBN tersebut. Keberlanjutan sekolah ke depan perlu didukung dengan kepastian status lahan.
Sumber: AntaraNews