DPR Desak Investigasi Menyeluruh soal Gangguan Sinyal GPS Misterius
Gangguan sinyal GPS itu bisa berpotensi menggangung keselamatan penerbangan komersil di Indonesia.
Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Sofwan Dedy Ardyanto menyoroti sebuah fenomena adanya gangguan sinyal GPS atau GPS Interference di ruang udara Indonesia. Hal ini dianggap berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan komersil di Indonesia.
“Berdasarkan informasi yang saya terima, Airnav Indonesia telah memberikan peringatan kepada komunitas pilot bahwa pada periode 8 sampai 13 April 2026 yang lalu, terdapat fenomena GPS interference yang terjadi secara masif,” kata Sofwan dalam keterangannya, Jumat (8/5).
Atas dasar informasi tersebut, Ikatan Pilot Indonesia telah mengimbau kepada seluruh pilot untuk untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga situational awareness, dan tidak hanya bergantung pada sistem navigasi GPS.
Dapat Mempengaruhi Akurasi Posisi
Hal itu sesuai unggahan akun media social @ikatanpilotindonesia pada tanggal 17 April 2026 yang menjelaskan hal tersebut.
"Peringatan ini penting mengingat gangguan sinyal GPS tersebut dapat mempengaruhi akurasi posisi, kecepatan, atau waktu pada GPS yang digunakan pesawat penerbangan komersial," ujarnya.
Dalam unggahan resminya, akun Ikatan Pilot Indonesia menyatakan, fenomena GPS Interference kini menjadi tantangan nyata dalam operasional penerbangan, termasuk di Indonesia.
Sehingga menuntut setiap pilot untuk tetap waspada, menjaga situational awareness, disiplin dalam melakukan cross check, serta tidak bergantung pada sistem navigasi saja.
“Pada akhirnya, di tengah kemajuan teknologi, kemampuan basic flying dan kesiapan pilot tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keselamatan penerbangan,” tulis unggahan di akun tersebut.
Kemudian, berdasarkan informasi yang diterimanya itu. Gangguan kembali terjadi pada 5 Mei 2026.
“Bahkan, saya mendapat informasi bahwa kejadian serupa terulang lagi pada tanggal 5 Mei dan 6 Mei 2026,” ujar Sofwan.
52 Penerbangan Komersial
Informasi yang beredar di kalangan terbatas menyebutkan, sebanyak 52 penerbangan komersial telah mengalami gangguan GPS selama dua periode tersebut.
“Saya meminta Ditjen Perhubungan Udara untuk mendalami hal ini dan memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kok bisa terjadi? Apa penyebabnya? Ini penting karena menyangkut jaminan keselamatan penerbangan sipil,” tegasnya.
Dalam dunia aviasi, antisipasi terhadap penyebab gangguan sinyal GPS menjadi penting. Apalagi jika terjadi secara masif.
“Ini persoalan serius karena pesawat komersil modern sangat bergantung pada GPS. Jika GPS terganggu, posisi bisa error, navigasi bisa terganggu, autopilot tertentu bisa terdampak, dan terrain awareness juga bisa terdampak,” paparnya.
Sebagai catatan, terrain awareness adalah kemampuan sistem avionik pesawat, yang dikenal sebagai TAWS (Terrain Awareness and Warning System), untuk mendeteksi posisi pesawat terhadap kontur tanah, gunung, atau rintangan di sekitarnya. Sistem ini memberikan peringatan visual dan suara kepada pilot guna menghindari tabrakan.