DLH Cirebon Usulkan 24 Sekolah Ikuti Program Adiwiyata Nasional dan Mandiri 2026
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon mengusulkan 24 sekolah untuk Program Adiwiyata nasional dan mandiri 2026, memperkuat budaya peduli lingkungan di satuan pendidikan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengusulkan 24 sekolah untuk mengikuti Program Adiwiyata tingkat nasional dan mandiri pada tahun 2026. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di lingkungan satuan pendidikan. Pengusulan ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong kesadaran lingkungan sejak dini.
Usulan tersebut disampaikan oleh Amanda Elfas, Penyuluh Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Cirebon, pada hari Sabtu. Proses pengusulan sekolah Adiwiyata saat ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025 tentang Tata Cara Pemberian Penghargaan Adiwiyata. Regulasi baru ini akan mulai berlaku efektif pada bulan Juli 2025 mendatang.
Dari total usulan, sebanyak 21 sekolah diusulkan untuk mencapai tingkat nasional, sementara tiga sekolah lainnya merupakan calon Adiwiyata mandiri. Hingga saat ini, tercatat 95 sekolah di Kabupaten Cirebon telah berpartisipasi aktif dalam Program Adiwiyata. Hal ini menunjukkan antusiasme dan kesadaran yang tinggi dari institusi pendidikan di wilayah tersebut.
Penyederhanaan Jenjang Program Adiwiyata Cirebon
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025 membawa sejumlah perubahan signifikan dalam penyelenggaraan Program Adiwiyata. Aturan ini akan mulai berlaku efektif pada bulan Juli 2025 mendatang. Salah satu perubahan utamanya adalah penyederhanaan jenjang penghargaan Adiwiyata yang sebelumnya memiliki tingkatan yang lebih kompleks.
Amanda Elfas menjelaskan bahwa sebelumnya, jenjang Adiwiyata terdiri atas tingkat kabupaten, provinsi, nasional, dan juga mandiri. Namun, dalam regulasi terbaru ini, tingkat kabupaten dan provinsi kini berada dalam level yang sama. Penyederhanaan ini diharapkan dapat membuat proses penilaian menjadi lebih efisien dan terarah.
Dengan adanya penyederhanaan ini, sekolah-sekolah di Kabupaten Cirebon dapat lebih fokus pada implementasi program lingkungan yang substansial. Hal ini juga bertujuan untuk mempercepat pencapaian tujuan utama Adiwiyata, yaitu pembentukan karakter peduli lingkungan. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong partisipasi lebih banyak sekolah.
Proses Pengusulan dan Penilaian Adiwiyata Cirebon
Proses pengusulan sekolah untuk Program Adiwiyata Cirebon melibatkan beberapa tahapan yang sistematis. Sekolah yang diusulkan ke tingkat nasional harus terlebih dahulu menjalani tahapan pemenuhan bukti dukung. Bukti-bukti tersebut diunggah melalui Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA) sebelum dilakukan penilaian lebih lanjut.
Amanda Elfas menegaskan bahwa sebelum diusulkan ke tingkat nasional, sekolah harus dinilai terlebih dahulu oleh kabupaten atau kota. "Jika nilainya memenuhi syarat, baru bisa diajukan untuk dinilai kementerian," ujarnya. Proses berjenjang ini memastikan bahwa hanya sekolah yang benar-benar siap dan memenuhi kriteria yang akan melaju ke tahap selanjutnya.
Selain 24 sekolah yang diusulkan ke tingkat nasional dan mandiri, pada tahun ini terdapat sekitar 25 sekolah lain yang mengikuti proses Adiwiyata tingkat kabupaten serta provinsi. Dari jumlah tersebut, empat sekolah diusulkan menuju tingkat provinsi. Sementara itu, sekitar 21 sekolah mengikuti penilaian tingkat kabupaten setelah satu sekolah mengundurkan diri.
Partisipasi aktif dari berbagai sekolah ini menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pendidikan lingkungan di Kabupaten Cirebon. Proses penilaian yang ketat dan berjenjang diharapkan dapat menghasilkan sekolah-sekolah Adiwiyata yang berkualitas. Hal ini juga mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang berkelanjutan.
Aspek Penilaian dan Pembentukan Karakter Lingkungan
Penilaian Adiwiyata mengacu pada lima aspek utama yang komprehensif dan saling terkait. Aspek-aspek tersebut meliputi pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan. Kemudian, kebersihan dan sanitasi lingkungan sekolah yang memadai juga menjadi poin penting dalam penilaian.
Aspek lainnya adalah pelestarian keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah, yang mencakup upaya konservasi flora dan fauna lokal. Selain itu, konservasi air serta penghematan energi juga menjadi poin krusial dalam penilaian Adiwiyata. Kelima aspek ini menjadi tolok ukur utama untuk mengukur kepedulian lingkungan sekolah.
Penilaian tidak hanya melihat ketersediaan sarana atau kegiatan yang dilakukan sekolah semata. Lebih dari itu, perubahan perilaku dan pembiasaan warga sekolah dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan menjadi fokus utama. Tujuannya adalah untuk membentuk kebiasaan positif dalam keseharian.
"Tujuan akhirnya adalah pembentukan karakter," ucap Amanda Elfas. Ia menambahkan bahwa yang dinilai bukan hanya sekolah yang bersih atau adanya program lingkungan. Namun, bagaimana budaya peduli lingkungan itu menjadi kebiasaan sehari-hari bagi seluruh warga sekolah, mulai dari siswa hingga tenaga pendidik.
Sumber: AntaraNews