Dirut BRI: Percepatan Kredit Butuh Keyakinan Pelaku Usaha untuk Ekspansi
Percepatan Kredit nasional menghadapi tantangan bukan dari likuiditas, melainkan dari sisi permintaan. Dirut BRI Hery Gunardi menekankan pentingnya penguatan keyakinan pelaku usaha agar kembali berani berekspansi di tengah tantangan ekonomi.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menyoroti tantangan utama dalam akselerasi penyaluran kredit di Indonesia. Menurutnya, percepatan kredit saat ini sangat bergantung pada penguatan sisi permintaan dari pelaku usaha.
Hery menjelaskan bahwa persoalan utama bukanlah ketersediaan dana, melainkan prospek usaha dan kepercayaan diri para pelaku bisnis untuk kembali melakukan ekspansi. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada hari Jumat, 20 Februari 2026.
Penguatan keyakinan pelaku usaha menjadi kunci vital agar investasi dan roda perekonomian dapat bergerak lebih cepat. Tanpa adanya dorongan dari sisi permintaan, likuiditas yang memadai di perbankan akan sulit tersalurkan secara optimal.
Likuiditas Memadai, Permintaan Melambat
Hery Gunardi menegaskan bahwa secara fundamental, industri perbankan nasional memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan. Data menunjukkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) menguat hingga 11,4 persen (year on year/yoy), dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang terjaga di kisaran 84 persen.
Selain itu, permodalan industri perbankan juga tetap kuat, tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) yang berada di level 26 persen, jauh di atas ambang batas minimum regulator. Namun, meskipun likuiditas dan permodalan sangat sehat, pertumbuhan kredit secara year on year hingga Desember 2025 masih berada pada level single digit.
Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi bahwa perlambatan pertumbuhan kredit ini sebagian besar disebabkan oleh faktor permintaan. Permintaan kredit baru mengalami penurunan di sebagian besar segmen, terutama pada kredit konsumsi yang turun dari 62,9 persen menjadi 13,4 persen, serta segmen UMKM yang semula 78,4 persen menjadi 58,8 persen.
Fenomena menarik lainnya adalah peningkatan undisbursed loan secara rata-rata menjadi 10,22 persen. Ini menandakan bahwa fasilitas kredit yang telah disetujui bank dan likuiditas yang tersedia sebenarnya mencukupi, namun realisasi penarikan tertahan. Kondisi ini mencerminkan sikap kehati-hatian (wait and see) dari dunia usaha dan rumah tangga.
Sektor Ekonomi Kunci Jadi Penentu Percepatan Kredit
Pelemahan pertumbuhan kredit tidak dapat dilepaskan dari perlambatan tiga sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yaitu manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Ketiga sektor ini memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian dan merupakan penyerap tenaga kerja dalam skala luas.
Sektor manufaktur, yang menyumbang hampir 20 persen terhadap PDB, sangat menentukan kebutuhan modal kerja dan investasi. Perlambatannya secara langsung berdampak pada aktivitas usaha dan kebutuhan pembiayaan. Demikian pula sektor perdagangan yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat; ketika konsumsi melemah, perputaran stok melambat dan permintaan kredit ikut tertahan.
Sementara itu, sektor pertanian sebagai basis penyerapan tenaga kerja terbesar, memiliki keterkaitan langsung dengan segmen mikro dan UMKM. Tekanan di sektor ini dengan cepat tercermin pada permintaan kredit di level usaha kecil, yang juga terlihat dari peningkatan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada UMKM sejak Desember 2024.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sensitivitas pertumbuhan kredit terhadap siklus ekonomi masih cukup tinggi, sejalan dengan struktur kredit nasional yang didominasi sektor padat karya. Oleh karena itu, diversifikasi dan peningkatan pembiayaan di sektor bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk mengurangi sensitivitas siklus ekonomi di masa mendatang.
Dari Optimisme ke Implementasi Nyata
Hery Gunardi menilai bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan saat ini berada pada arah yang kredibel dan pro-growth. Hal ini telah memicu optimisme di kalangan mayoritas pelaku usaha terhadap prospek ekonomi ke depan.
Meskipun demikian, optimisme tersebut belum sepenuhnya terefleksikan dalam percepatan ekspansi riil di tingkat perusahaan. Sejumlah pelaku usaha masih menunjukkan sikap hati-hati dan belum memiliki keyakinan yang cukup kuat untuk mempercepat investasi maupun ekspansi bisnis mereka.
Untuk mendorong percepatan kredit dan pertumbuhan ekonomi, fokus perlu bergeser dari sekadar narasi optimisme menuju akselerasi implementasi kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh dunia usaha. Ini memerlukan langkah konkret untuk membangun kembali kepercayaan dan mendorong keberanian ekspansi.
Sumber: AntaraNews