Diresmikan Utut Adianto, Museum Catur Indonesia Hadir di Bekasi
“Saya ingin mengubah paradigma, dulu Catur permainan dari lapak ke lapak. Saya ingin buat sekolah catur," kata Eka.
Para master catur Indonesia berkumpul di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/2). Salah satunya yakni grand master Utut Adianto. Mereka hadir dalam acara soft opening Museum Catur Indonesia.
Gagasan museum catur ini muncul dari Eka Putra Wirya. Eka Putra Wirya dikenal sebagai pendiri sekolah catur di Indonesia. Dalam sambutannya, dia merasa sangat senang akhirnya bisa membuat museum Catur Indonesia.
“Saya ingin mengubah paradigma, dulu Catur permainan dari lapak ke lapak. Saya ingin buat sekolah catur ingin meningkatkan permainan lebih baik lagi,” kata Eka.
Sumbangan Utut Adianto
Dia merasa, tanpa sekolah catur, para talenta muda Indonesia tidak mungkin bisa mengharumkan nama besar bangsanya di kancah Dunia.
“Tanpa sekolah catur, Indonesia akan tenggelam tinggal sejarah saja,” tegas dia.
Dia pun sangat gembira diperkenalkan dengan grand master Catur Indonesia, Utut Adianto. Eka bercerita, saat ingin membangun museum catur, tiba-tiba Utut datang dengan membawa sejumlah uang untuk menyumbang pembangunan musem tersebut.
Namun dia keberatan apabila biaya itu ditanggung Utut. “Kita gotong royong, kita enggak minta sponsor. Karena kepengurusan (Percasi) sudah Pak Utut yang bayar, mungkin sekarang duitnya udah banyak juga,” kata Eka meledek Utut.
Utut Mendukung Penuh
Sementara itu, Utut mengatakan, dalam menciptakan prestasi gemilang di dunia olahraga bukan hal mudah. Tidak bisa hanya berdasarkan coretan di atas kertas.
“Menciptakan prestasi pekerjaan sulit enggak bisa dengan cetak biru. Ini adalah journey, perjalanan. Bisa baik, bisa crash,” terang Utut.
Utut menegaskan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa melahirkan telanta berbakat.
“Yang membuat orang hebat mesti ada tiga hal. Ada pengurus yang sangat cinta, unit proses, pelatihnya hebat, dan orang-orang di sekitar itu yang menjalankan pasti orang integritasnya bagus,” ujar Politikus PDIP tersebut.
Utut menambahkan, olahraga Catur bagian dari tata nilai. Sehingga ketika dia berkomunikasi dengan Eka dalam rencana pembuatan museum, Utut langsung menegaskan setuju.
“Karena saya tahu ini akan menjadi satu step moving forward. Tapi yang paling penting dari sini orang melihat, belajar, dari sini inspirasi kekaguman, lebih bisa divisualisasikan,” jelas Utut.