Museum Catur Indonesia Raih MURI Award, SCUA Buka Peluang Ekspansi ke Luar Bekasi

Museum Catur Indonesia dan SCUA meraih penghargaan MURI sebagai yang pertama di Indonesia. Pendiri SCUA tak menutup kemungkinan untuk membuka Museum Catur Indonesia di lokasi lain.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Museum Catur Indonesia Raih MURI Award, SCUA Buka Peluang Ekspansi ke Luar Bekasi
Museum Catur Indonesia dan SCUA meraih penghargaan MURI sebagai yang pertama di Indonesia. Pendiri SCUA tak menutup kemungkinan untuk membuka Museum Catur Indonesia di lokasi lain. (Merdeka.com)

Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) dan Museum Catur Indonesia baru-baru ini menorehkan sejarah dengan menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan ini diberikan atas inovasi mereka sebagai sekolah dan museum catur pertama yang didirikan di Indonesia. Acara penganugerahan berlangsung di Museum Rekor Dunia Indonesia, Gedung Jaya Suprana Institute Kelapa Gading Jakarta, pada Senin (22/09).

Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan olahraga catur di Tanah Air, sekaligus menunjukkan komitmen dalam melestarikan dan mengembangkan warisan catur nasional. Pendiri SCUA, Eka Putra Wirya, menyatakan bahwa penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus berinovasi. Ia juga membuka peluang untuk ekspansi di masa mendatang.

Mengenai kemungkinan pengembangan, Eka Putra Wirya mengungkapkan, "Ya itu kemungkinan yang mungkin bisa terjadi, tentunya mesti dilihat juga dari kemampuan dan keuangannya juga." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Museum Catur Indonesia tidak menutup kemungkinan untuk hadir di kota-kota lain selain Bekasi, Jawa Barat.

Pendiri Rekor MURI, Jaya Suprana, memberikan apresiasi tinggi kepada Eka Putra Wirya, Ketua Umum PB Percasi GM Utut Adianto, dan jajaran pengurus atas gagasan mendirikan sekolah catur serta Museum Catur Indonesia. Inisiatif ini dianggap sebagai langkah progresif dalam memajukan olahraga catur di Indonesia. Keberadaan museum ini diharapkan dapat menjadi pusat edukasi dan inspirasi bagi generasi muda.

Penghargaan MURI menegaskan status SCUA dan Museum Catur Indonesia sebagai pelopor. Mereka telah berhasil menciptakan wadah yang komprehensif bagi para pecinta catur. Dari pelatihan hingga pelestarian sejarah, kedua institusi ini memiliki peran vital. Ini juga menjadi bukti nyata dedikasi mereka terhadap catur.

Pengakuan ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap catur. Dengan adanya Museum Catur Indonesia, sejarah dan perkembangan catur dapat lebih mudah diakses. Ini juga dapat menarik lebih banyak talenta muda untuk mendalami olahraga strategi ini. Potensi pengembangan Museum Catur Indonesia di luar Bekasi semakin terbuka lebar.

Eka Putra Wirya menegaskan bahwa ide untuk membuka Museum Catur Indonesia di lokasi lain adalah sebuah kemungkinan. Namun, realisasi rencana tersebut akan sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya dan kondisi finansial. Hal ini menunjukkan pendekatan yang terukur dan strategis dalam pengembangan institusi budaya dan edukasi.

Ekspansi ini bisa menjadi angin segar bagi pemerataan akses terhadap edukasi catur dan sejarahnya di berbagai daerah. Dengan adanya Museum Catur Indonesia di lebih banyak tempat, masyarakat luas dapat menikmati fasilitas dan koleksi yang ditawarkan. Ini akan memperkuat posisi catur sebagai olahraga intelektual yang penting.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya untuk terus mempopulerkan catur di seluruh pelosok negeri. Dengan mempertimbangkan kemampuan dan keuangan, SCUA berupaya memastikan keberlanjutan dan kualitas setiap museum yang akan didirikan. Ini adalah visi jangka panjang untuk kemajuan catur nasional.

Selain memberikan penghargaan kepada SCUA dan Museum Catur Indonesia, MURI juga menganugerahkan enam penghargaan lainnya kepada individu dan institusi yang berprestasi. Salah satunya adalah Dr. Rahmat Shah, yang kembali menerima penghargaan MURI. Kali ini, ia mencatat rekor sebagai pengelola resor pertama untuk kaum senior.

Rahmat Shah sendiri bukan nama baru di daftar rekoris MURI. Ini adalah rekor MURI keenamnya, setelah sebelumnya memecahkan rekor untuk kategori monumen nasional keadilan pertama di dunia, buku biografi terbanyak, dan "Rahmat" International Wildlife Museum & Gallery sebagai lembaga konservasi unik. Prestasi ini menunjukkan konsistensinya dalam menciptakan inovasi dan memberikan kontribusi nyata.

Tokoh lain yang juga meraih penghargaan adalah Sundari Soekotjo, yang memecahkan rekor sebagai penyanyi keroncong profesional pertama yang berprofesi dosen bergelar doktor. Ada pula Gerry Utama yang menjadi insan termuda yang menjelajahi benua Antartika. Pencapaian ini menginspirasi banyak orang untuk terus berprestasi.

Berikut adalah daftar lengkap penerima Rekor MURI pada Senin (22/09):

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi