Dari Pesisir Sepi ke Lumbung Harapan: Transformasi Tuah Bersatu di Pulau Kundur
Mereka tak lagi hanya menggantungkan hidup dari laut, tetapi mulai membangun usaha alternatif yang berakar pada potensi lokal.
Di desa-desa pesisir, hidup kerap berjalan mengikuti irama alam. Saat laut bersahabat, rezeki datang. Namun ketika cuaca memburuk, penghasilan pun ikut terhenti. Ketergantungan pada satu sumber inilah yang selama bertahun-tahun membayangi warga Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau.
Dari kegelisahan itu, sebuah perubahan perlahan tumbuh. Lahan pesisir yang dulu terbengkalai kini disulap menjadi sumber harapan baru oleh kelompok warga "Tuah Bersatu". Mereka tak lagi hanya menggantungkan hidup dari laut, tetapi mulai membangun usaha alternatif yang berakar pada potensi lokal.
Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran (46), mengingat betul bagaimana ide itu bermula dari keresahan sederhana.
"Dulu kami ini nelayan, habis melaut ya sudah, istirahat. Tidak ada kegiatan lain. Dari situ kami berpikir bagaimana ada tambahan penghasilan," ungkap Amran dikutip Selasa (5/5).
Berbekal lahan kosong di pesisir, mereka mulai merintis budidaya ikan kakap putih pada 2022. Setahun kemudian, kegiatan tersebut berjalan lebih aktif dan berkembang secara bertahap. Tak berhenti di satu sektor, kelompok ini mulai merambah usaha lain dari hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga persiapan bank sampah.
"Awalnya kakap, lalu berkembang ke hidroponik dan terasi. Sekarang sudah masuk ayam petelur dan bank sampah. Semua bertahap," kata Amran.
Perkembangan itu memang belum spektakuler, tetapi dampaknya mulai terasa nyata. Unit peternakan ayam mampu memasarkan sekitar 100 ekor per bulan dengan omzet mencapai Rp10–12 juta. Sementara itu, hidroponik yang dikelola kaum ibu menghadirkan sumber penghasilan baru dari penjualan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis.
"Memang belum besar, tapi sangat membantu ekonomi keluarga," ucap Amran.
Lebih dari sekadar angka, perubahan paling terasa justru terjadi pada manusianya. Warga yang sebelumnya hanya memiliki keterampilan melaut kini mulai memahami teknik budidaya, pengelolaan usaha, hingga membangun jejaring.
"Kami jadi banyak belajar, kenal dengan Kepala Dinas, dapat ilmu dari ahli. Itu yang paling terasa," jelasnya.
Perjalanan Tuah Bersatu tidak berdiri sendiri. Kelompok ini mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Timah Tbk yang merupakan bagian dari holding industri pertambangan MIND ID. Dukungan tersebut mencakup pembukaan lahan, penguatan teknis, hingga pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Meski demikian, harapan untuk berkembang masih terus menyala. Amran ingin kelompoknya bisa melangkah lebih jauh, terutama dalam menciptakan kemandirian, termasuk dalam penyediaan pakan ikan.
"Harapan kami program ini terus dikembangkan. Kami ingin lebih mandiri dan bisa membantu masyarakat lebih luas lagi," harapnya.
Bangun Usaha
Bagi warga Sawang Laut, perubahan ini bukan sekadar soal tambahan penghasilan. Ini adalah perjalanan belajar tentang keberanian mencoba, membangun usaha bersama, dan merancang masa depan yang tak lagi sepenuhnya bergantung pada laut.
Bangun Ekosistem Ekonomi
Melalui pendekatan berbasis potensi desa, program ini dirancang untuk menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang lebih tangguh dan beragam. Inisiatif tersebut juga sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), yang menekankan keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan, dampak sosial, dan tata kelola.
Atas komitmennya dalam pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, PT Timah Tbk pun meraih penghargaan PROPER Emas dan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH sebuah pengakuan atas upaya menghadirkan perubahan yang tak hanya terasa hari ini, tetapi juga berkelanjutan untuk masa depan.