Cakupan CKG Gorontalo Tertinggi Nasional, Kemenkes Ungkap Data Partisipasi Program
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengumumkan Cakupan CKG Gorontalo mencapai 50,3 persen, menjadikannya yang tertinggi secara nasional, sekaligus membeberkan evaluasi partisipasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengumumkan bahwa Provinsi Gorontalo berhasil mencatatkan persentase cakupan Cek Kesehatan Gratis (CKG) tertinggi secara nasional. Angka partisipasi di Gorontalo mencapai 50,3 persen, menunjukkan komitmen kuat daerah tersebut dalam mendorong kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan preventif. Pencapaian ini menjadi sorotan utama dalam evaluasi program kesehatan nasional.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa setelah Gorontalo, Provinsi Sulawesi Tenggara menyusul dengan 48,72 persen, kemudian Maluku dengan 39,9 persen. Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Pers Capaian dan Evaluasi Program CKG 2025 Serta Rencana CKG 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (23/1).
Meskipun Gorontalo memimpin dalam persentase cakupan, Endang juga menyoroti bahwa dari segi jumlah peserta, provinsi-provinsi di Pulau Jawa menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Jawa Tengah mencatat 14 juta peserta, diikuti Jawa Timur dengan 13 juta, dan Jawa Barat dengan 10 juta penduduk yang telah menjalani CKG.
Capaian Nasional Program CKG 2025
Sepanjang tahun 2025, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) berhasil menjangkau sekitar 70 juta orang di seluruh 38 provinsi di Indonesia. Kemenkes melaporkan bahwa dari total 10.300 puskesmas yang ada, sebanyak 10.225 puskesmas telah aktif menyelenggarakan program ini. Maria Endang Sumiwi mengakui bahwa masih ada beberapa puskesmas yang belum dapat berpartisipasi, terutama yang berada di daerah-daar sulit dijangkau.
Partisipasi masyarakat dalam program CKG juga menunjukkan dinamika menarik sepanjang tahun. Pada Maret 2025, mayoritas peserta adalah perempuan, dengan persentase 64 persen berbanding 35 persen untuk laki-laki. Namun, menjelang akhir tahun, terjadi perubahan signifikan.
Data pada Desember 2025 menunjukkan peningkatan partisipasi dari kaum laki-laki, sehingga komposisi berubah menjadi 54 persen perempuan dan 45 persen laki-laki. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan kesadaran di kalangan laki-laki untuk memanfaatkan fasilitas CKG yang disediakan oleh pemerintah.
Partisipasi Berdasarkan Kelompok Usia dan Tantangan
Kemenkes juga merinci partisipasi program CKG berdasarkan kelompok usia, dengan hasil yang bervariasi. Kelompok bayi baru lahir menjadi peserta terbanyak, mencapai 2,3 juta orang atau 52 persen dari target 4,4 juta peserta. Tingginya angka ini disebabkan oleh kemudahan akses bayi ke fasilitas kesehatan yang melayani persalinan dan pemeriksaan pasca-kelahiran.
Untuk kelompok usia sekolah dan remaja (7-17 tahun), tercatat 19,7 juta peserta dari target 48 juta. Sementara itu, kelompok balita dan pra-sekolah (1-6 tahun) masih menunjukkan cakupan yang rendah, yaitu 2,7 juta atau hanya 10 persen dari target 27 juta. Maria Endang Sumiwi menekankan pentingnya peningkatan komunikasi dan edukasi kepada orang tua dan wali agar lebih proaktif memeriksakan anak-anak mereka.
Pada kelompok dewasa, meskipun jumlahnya cukup besar yaitu 31 juta, persentase partisipasinya masih rendah, baru mencapai 18 persen dari target Kemenkes sekitar 170 juta orang. Demikian pula untuk kelompok lansia, baru 6 juta atau 18 persen dari target 34 juta orang yang telah mengikuti CKG. Tantangan utama terletak pada mendorong kelompok usia dewasa dan lansia untuk lebih aktif dalam pemeriksaan kesehatan preventif.
Sumber: AntaraNews