Budayawan Ingatkan Pentingnya Penyampaian Aspirasi Damai untuk Hindari Perpecahan
Budayawan Widihasto Wasana Putra mengingatkan pentingnya Penyampaian Aspirasi Damai demi menjaga persatuan dan fasilitas umum, menyusul kericuhan unjuk rasa di Mapolda DIY.
Budayawan Widihasto Wasana Putra memberikan peringatan penting terkait penyampaian pendapat di muka umum. Ia menekankan agar semangat menyampaikan aspirasi tidak sampai menimbulkan perpecahan maupun kerusakan. Peringatan ini disampaikan Widihasto menanggapi kericuhan yang terjadi pada unjuk rasa mahasiswa di Markas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Mapolda DIY) pada Selasa (24/2).
Widihasto juga mengingatkan masyarakat untuk selalu menghormati hak-hak orang lain. Selain itu, menjaga fasilitas umum sebagai milik bersama merupakan kewajiban setiap warga negara. Hal ini penting untuk menciptakan suasana kondusif di tengah dinamika demokrasi.
Dalam alam demokrasi Indonesia, khususnya sejak era reformasi, penyampaian aspirasi dan sikap kritis terhadap pemerintahan adalah sebuah keniscayaan. Demokrasi memang memberikan ruang bagi rakyat untuk menyuarakan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab. Namun, kebebasan tersebut bukan tanpa batas dan harus tetap berada dalam koridor hukum.
Pentingnya Tanggung Jawab dalam Berdemokrasi
Kebebasan berpendapat merupakan salah satu pilar utama dalam negara demokrasi. Namun, budayawan Widihasto Wasana Putra menegaskan bahwa kebebasan tersebut harus diiringi dengan rasa tanggung jawab. Penyampaian aspirasi harus tetap menjunjung tinggi tata tertib serta menghindari cara-cara kekerasan, anarkisme, maupun perusakan fasilitas umum.
Widihasto secara khusus menyoroti insiden di Yogyakarta, daerah yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Yogyakarta menjunjung tinggi nilai kesantunan, tepa salira (toleransi), dan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakatnya. Oleh karena itu, tindakan anarkis dianggap tidak sesuai dengan karakter budaya lokal yang telah mengakar kuat di sana.
Menghormati hak-hak masyarakat lainnya adalah esensi dari demokrasi yang sehat. Setiap individu memiliki hak untuk menyampaikan pandangannya, namun tidak boleh mengganggu hak-hak individu lain. Menjaga fasilitas umum juga krusial karena merupakan aset bersama yang dibiayai oleh pajak rakyat.
Aksi Budaya "Kawula Ngayogyakarta" Tolak Anarkisme
Menyikapi situasi tersebut, ratusan warga Yogyakarta yang menamakan diri "Kawula Ngayogyakarta" menggelar aksi budaya. Aksi ini berlangsung pada Kamis (26/2) dan menarik perhatian banyak pihak. Mereka terdiri atas pelajar, mahasiswa, komunitas seni tradisi, budayawan, serta penggiat seni keprajuritan rakyat.
Dalam kegiatan tersebut, "Kawula Ngayogyakarta" menyampaikan seruan nasional untuk menolak praktik unjuk rasa anarkis. Aksi budaya ini dimulai dari Terminal Condongcatur, Sleman, kemudian menyusuri jalur lambat Ring Road Utara menuju Mapolda DIY. Peserta aksi mengemas kegiatan ini menyerupai karnaval budaya yang unik dan menarik.
Para peserta memainkan berbagai alat musik tradisional seperti terompet, seruling, bende, tambur, dan kendang. Mereka juga mengenakan kostum menyerupai busana prajurit keraton, menambah daya tarik visual aksi. Barisan terdepan membawa spanduk besar bertuliskan aksara Jawa berbunyi "Tolak Kekerasan, Utamakna Katentreman", yang berarti "Tolak Kekerasan, Utamakan Ketenteraman".
Apresiasi Kepolisian terhadap Aspirasi Damai
Wakapolda DIY Brigjen Pol. Eddy Junaedi menyambut baik dan mengapresiasi kedatangan massa aksi budaya "Kawula Ngayogyakarta" di Mapolda DIY. Ia menilai kehadiran peserta aksi yang mengenakan kostum adat budaya membawa kesejukan tersendiri di tengah isu kericuhan. Hal ini menunjukkan bahwa Penyampaian Aspirasi Damai dapat dilakukan dengan cara yang konstruktif.
Brigjen Eddy Junaedi berharap hal positif semacam ini terus dirajut bersama. Tujuannya adalah agar kondusivitas keamanan di wilayah DIY dapat tercipta dengan mantap dan berkelanjutan. Pihak kepolisian, menurutnya, tidak mempermasalahkan penyampaian aspirasi maupun kritik dari masyarakat terhadap kinerja kepolisian.
Namun, seperti harapan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, aspirasi tersebut diharapkan tidak disampaikan dengan cara-cara anarkis. Aksi budaya "Kawula Ngayogyakarta" ditutup dengan foto bersama peserta aksi dan jajaran Polda DIY. Kegiatan berlangsung lancar, dan massa membubarkan diri dengan tertib tepat pukul 17.00 WIB, kembali menuju Terminal Condongcatur.
Sumber: AntaraNews