BPBD Kalsel Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana Banjir di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
BPBD Kalsel memperkuat Kesiapsiagaan Bencana Banjir menyusul penetapan status siaga waspada cuaca ekstrem dan pemantauan tinggi muka air sungai yang mengkhawatirkan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan (Kalsel) secara proaktif memperkuat kesiapsiagaan guna menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, khususnya banjir. Langkah ini diambil menyusul penetapan status siaga waspada cuaca ekstrem yang berlaku mulai Sabtu (27/12) di hampir seluruh wilayah provinsi.
Penetapan status tersebut berdasarkan hasil pemantauan Nowcasting dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengindikasikan potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat, petir, dan angin kencang. Kondisi cuaca ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga pukul 10.30 WITA dan dipicu oleh aktivitas Siklon Tropis GRANT serta Bibit Siklon 96S yang memicu pembentukan awan hujan signifikan di Kalsel.
Sebagai respons cepat, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Bambang Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah mengintensifkan pemantauan kondisi cuaca dan tinggi muka air di seluruh wilayah rawan. Koordinasi lintas instansi juga diperkuat untuk memastikan kesiapan personel, logistik, dan sistem peringatan dini agar berfungsi optimal.
Peningkatan Kewaspadaan dan Pemantauan Cuaca Ekstrem
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, melalui BPBD Kalsel, telah menetapkan status siaga waspada cuaca ekstrem sebagai langkah antisipasi. Keputusan ini didasarkan pada analisis Nowcasting BMKG yang menunjukkan adanya potensi hujan lebat, kilat, petir, dan angin kencang di sebagian besar wilayah Kalsel.
Fenomena cuaca ini diperkirakan akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan, dengan puncaknya pada Sabtu (27/12) pukul 10.30 WITA. Pemicu utama kondisi ini adalah interaksi antara Siklon Tropis GRANT dan Bibit Siklon 96S yang secara signifikan meningkatkan pembentukan awan hujan.
Meskipun Siklon Tropis GRANT dan Bibit Siklon 96S terdeteksi di Samudra Hindia, dampaknya secara tidak langsung dapat memengaruhi cuaca di wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan, dengan memicu hujan lebat dan angin kencang.
Wilayah Rawan dan Kondisi Sungai Kritis di Kalsel
BPBD Kalsel telah mengidentifikasi beberapa wilayah yang sangat rawan terhadap dampak banjir akibat cuaca ekstrem ini. Kabupaten Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Banjar, dan Tanah Laut menjadi fokus utama perhatian.
Kondisi beberapa sungai utama di Kalsel juga menunjukkan tingkat kekritisan yang mengkhawatirkan. Sungai Riam Kanan, misalnya, telah mencapai Tinggi Muka Air (TMA) 7,70 meter, sementara Sungai Martapura bahkan menyentuh 9,6 meter, melampaui batas jagaan normal.
Peningkatan muka air sungai ini menjadi indikator penting potensi banjir. Oleh karena itu, pemantauan intensif terus dilakukan oleh BPBD Kalsel di titik-titik rawan tersebut untuk meminimalkan risiko dan memastikan respons cepat.
Imbauan dan Langkah Mitigasi untuk Masyarakat
Menyikapi potensi bencana yang ada, BPBD Kalsel mengimbau masyarakat untuk tidak menunda tindakan pencegahan. "Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu kondisi semakin memburuk," ujar Bambang Dedi Mulyadi.
Masyarakat dianjurkan untuk segera mengamankan dokumen penting dan melakukan evakuasi mandiri jika diperlukan, dengan memprioritaskan keselamatan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Selain itu, warga yang bermukim di bantaran sungai dan daerah rawan banjir diminta untuk tetap waspada, menghindari berteduh di bawah pohon besar atau papan reklame saat hujan lebat. Masyarakat juga diimbau untuk aktif memantau informasi resmi dari BPBD dan BMKG guna mendapatkan pembaruan situasi terkini.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan hingga kondisi cuaca kembali stabil, demi melindungi keselamatan seluruh masyarakat dari ancaman bencana hidrometeorologi.
Sumber: AntaraNews