BKSDA dan YIARI Berhasil Selamatkan Bayi Orangutan di Kebun Sawit Ketapang
Tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI sukses dalam operasi penyelamatan bayi orangutan betina di Ketapang. Kisah penyelamatan bayi orangutan bernama Jani ini mengungkap tantangan konservasi satwa liar dan pentingnya menjaga habitat.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil menyelamatkan seekor bayi orangutan betina tanpa induk. Penyelamatan ini dilakukan di perkebunan kelapa sawit milik warga di Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang. Kejadian ini dilaporkan pada Jumat, 23 Januari, setelah warga menemukan bayi orangutan berkeliaran sendirian.
Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu ditemukan sendirian di area perkebunan, memicu kekhawatiran akan keselamatannya. Keberadaannya di lokasi tersebut berisiko tinggi mengalami konflik dengan manusia serta ancaman lainnya. Tim gabungan segera menindaklanjuti laporan warga untuk memastikan kondisi satwa dilindungi ini.
Proses penyelamatan berlangsung setelah tim melakukan verifikasi lapangan dan memastikan tidak ada induk orangutan di sekitar lokasi. Keputusan untuk mengevakuasi Jani diambil demi menjaga kelangsungan hidupnya. Penyelamatan ini menyoroti pentingnya respons cepat dalam menghadapi situasi kritis satwa liar.
Proses Evakuasi Tanpa Anestesi
Tim penyelamat menghadapi tantangan dalam evakuasi Jani, mengingat usianya yang masih sangat muda. Dokter hewan YIARI, drh. Komara, menjelaskan bahwa penggunaan obat bius atau anestesi dapat meningkatkan risiko pada bayi orangutan. Oleh karena itu, penanganan manual menjadi pilihan paling aman untuk proses penangkapan.
“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” kata drh. Komara, yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan. “Penanganan manual menjadi pilihan paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.”
Setelah berhasil ditangkap secara manual, Jani segera dimasukkan ke kandang transport. Bayi orangutan itu kemudian dibawa menuju Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI. Di sana, Jani akan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan awal untuk menilai kondisinya.
Kondisi Jani dan Rehabilitasi
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Jani diperkirakan berusia sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih sepenuhnya bergantung pada induknya untuk bertahan hidup di alam liar. Keterpisahan Jani dari induknya pada usia ini menimbulkan kekhawatiran serius.
“Di alam liar, anak orangutan bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, nutrisi, maupun pembelajaran bertahan hidup. Terpisah dari induk pada usia ini sangat berisiko,” jelas drh. Komara.
Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk pemulihan kondisi fisik dan mental. Jani juga akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan untuk memastikan kesehatannya.
Tim masih memantau kawasan sekitar perkebunan untuk mencari keberadaan induk Jani. Jika induknya ditemukan, upaya reunifikasi akan diusahakan. Namun, jika tidak, Jani akan menjalani program rehabilitasi komprehensif hingga siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Tekanan Habitat dan Upaya Konservasi
Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyatakan bahwa insiden ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa liar. Fragmentasi lanskap dan ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit menjadi penyebab utama konflik antara manusia dan orangutan. Kasus Jani menjadi bukti nyata dampak aktivitas manusia terhadap populasi satwa dilindungi.
“Kasus ini menunjukkan tekanan habitat yang terus meningkat,” kata Silverius Oscar Unggul. “Kami mengapresiasi respons cepat masyarakat, BKSDA, dan tim lapangan. Ke depan, pencegahan dan edukasi menjadi kunci agar kasus serupa tidak terulang.”
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam penyelamatan ini. “Di usia lima tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat orangutan masih tinggi,” ujar Murlan Dameria Pane.
Murlan Dameria Pane menambahkan bahwa edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan. Hal ini penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, terutama populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terus menurun akibat hilangnya habitat dan konflik dengan aktivitas manusia.
Sumber: AntaraNews