Karantina Lampung Gagalkan Penyelundupan 620 Satwa Liar, Dua Jenis Dilindungi
Karantina Lampung berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 620 satwa liar jenis burung di Pelabuhan Bakauheni. Kasus penyelundupan satwa liar ini menyoroti tingginya permintaan pasar di Jawa.
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung (Karantina Lampung) bersama tim gabungan kembali mengungkap aksi penyelundupan satwa liar. Sebanyak 620 ekor burung tanpa dokumen berhasil diamankan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Kejadian ini terjadi pada Jumat malam, 9 Mei.
Ratusan burung tersebut ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Satwa-satwa ini disembunyikan secara rapat di area toilet dan bagian belakang kabin bus. Modus ini dilakukan untuk menghindari pemeriksaan ketat dari petugas.
Kepala Karantina Lampung, Donni Muksydayan, menjelaskan bahwa kasus ini terungkap berkat informasi masyarakat. Petugas menerima laporan mengenai adanya kendaraan yang diduga mengangkut satwa liar menuju pelabuhan.
Deteksi dan Penemuan Satwa Liar
Penemuan penyelundupan satwa liar ini bermula pada malam hari sekitar pukul 20.35 WIB. Petugas menerima informasi krusial tentang bus yang mencurigakan. Informasi tersebut menyebutkan adanya pengangkutan satwa liar ilegal menuju Pelabuhan Bakauheni.
Sekitar pukul 21.00 WIB, bus yang menjadi target berhasil diidentifikasi. Kendaraan tersebut ditemukan di pintu masuk pelabuhan, sedang mengantre untuk penyeberangan. Petugas segera melakukan pemeriksaan mendalam terhadap bus tersebut.
Setelah pemeriksaan, petugas menemukan 25 keranjang dan 25 dus berisi burung hidup. Satwa-satwa ini disembunyikan di ruang sempit bagasi dan kabin bus. Total ada 620 ekor burung dari berbagai jenis yang berhasil diselamatkan.
Jenis burung yang diselundupkan meliputi Jalak Kerbau (220 ekor), Ciblek (170 ekor), Sikatan Rimba Dada Coklat (54 ekor), Kepodang (44 ekor), Poksai Mandarin (36 ekor), Burung Madu Pengantin (25 ekor), Burung Madu (25 ekor), dan Cipoh (20 ekor). Selain itu, terdapat Murai Air (9 ekor), Pelatuk (8 ekor), Prenjak (4 ekor), Gelatuk (2 ekor), Ekek Layongan (2 ekor), dan Cucak Kopi (1 ekor). Dua ekor Ekek Layongan merupakan satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Modus Operandi dan Jaringan Penyelundupan
Berdasarkan pengakuan sopir bus, ratusan burung tersebut dimuat dari sebuah agen di Palembang. Proses pemuatan dilakukan sekitar pukul 15.00 WIB pada hari yang sama. Sopir mengaku tidak mengetahui secara pasti isi muatan tersebut.
Rencananya, satwa-satwa liar ini akan dikirim ke wilayah Jatiwarna, Bekasi Timur. Penerima paket tersebut adalah seseorang berinisial Z. Sopir bus dijanjikan upah sebesar Rp2 juta untuk membawa seluruh burung itu ke Pulau Jawa.
“Sopir mengaku menerima upah Rp2 juta untuk membawa seluruh burung itu ke Pulau Jawa,” kata Donni Muksydayan. Penyelidikan lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengungkap jaringan penyelundupan yang lebih besar. Kasus ini menunjukkan pola yang terorganisir dalam perdagangan satwa ilegal.
Ancaman Terhadap Populasi Burung Liar Sumatera
Direktur Eksekutif FLIGHT, Marison Guciano, menyoroti seriusnya kasus ini. Penyitaan tersebut menunjukkan ancaman terhadap populasi burung liar Sumatera masih sangat tinggi. Tingginya permintaan pasar burung di Pulau Jawa menjadi pemicu utama.
Marison Guciano menyatakan, “Burung-burung Sumatera terus mendapatkan tekanan akibat skala perdagangan ilegal yang sangat masif sehingga mereka dihadapkan pada krisis populasi.” Beberapa jenis burung kini semakin sulit ditemukan di alam liar. Ini disebabkan oleh tingginya angka perburuan dan perdagangan ilegal.
Contoh burung yang terancam punah akibat aktivitas ini adalah tangkar ongklet dan cica daun Sumatera. Data dari FLIGHT menunjukkan skala masalah yang masif. Sedikitnya 300 ribu burung asal Sumatera telah disita petugas dalam delapan tahun terakhir.
Burung-burung tersebut hendak diperdagangkan secara ilegal ke Pulau Jawa. Penelusuran FLIGHT menemukan sekitar 11.100 toko burung dan 125 pasar burung tersebar di Pulau Jawa. Pasar-pasar ini terus membutuhkan pasokan burung kicau, terutama dari Sumatera, karena tingginya permintaan.
Sumber: AntaraNews