Aktivitas Gunung Semeru Meningkat: 30 Gempa Letusan dan Getaran Banjir Terdeteksi
Gunung Semeru menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan dengan puluhan gempa letusan dan getaran banjir. Waspadai potensi bahaya dari peningkatan aktivitas Gunung Semeru ini.
Gunung Semeru, yang menjulang setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang serta Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan. Tercatat puluhan gempa letusan dan getaran banjir dalam periode pengamatan terbaru. Peningkatan ini memicu kewaspadaan bagi masyarakat sekitar lereng gunung.
Pada Minggu, 11 Januari, dari pukul 12.00 WIB hingga 18.00 WIB, gunung api tersebut mengalami 30 kali gempa letusan. Selain itu, satu kali getaran banjir juga terdeteksi, mengindikasikan potensi bahaya aliran lahar dingin pasca-hujan.
Mukdas Sofian, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, menyampaikan laporan tertulis ini yang diterima di Lumajang pada Minggu. Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi siaga untuk menjamin keselamatan warga.
Rincian Aktivitas Seismik dan Visual Gunung Semeru
Selama periode enam jam pengamatan yang intens, aktivitas Gunung Semeru didominasi oleh 30 kali gempa letusan atau erupsi. Gempa-gempa ini terekam dengan amplitudo antara 15-22 mm, menunjukkan kekuatan yang bervariasi, dan berlangsung selama 76 hingga 136 detik.
Selain letusan, sistem pemantauan juga mencatat satu kali gempa embusan dengan amplitudo 8 mm yang berlangsung selama 56 detik. Ini menunjukkan adanya pergerakan gas dari dalam kawah. Satu kali gempa tektonik jauh juga terdeteksi, dengan amplitudo 8 mm dan selisih waktu S-P 18 detik, berlangsung selama 38 detik. Gempa ini mengindikasikan adanya aktivitas tektonik di area yang lebih luas.
Fenomena lain yang patut diwaspadai adalah satu kali gempa getaran banjir. Gempa ini memiliki amplitudo 35 mm dan durasi yang sangat panjang, mencapai 6120 detik. Ini menjadi indikator kuat potensi aliran lahar jika terjadi hujan lebat.
Secara visual, puncak Gunung Semeru sering tertutup kabut 0-II hingga 0-III, sehingga sulit untuk mengamati kawah secara langsung. Asap kawah tidak teramati, dan cuaca di sekitar gunung cenderung mendung hingga hujan dengan angin lemah ke arah selatan.
Peringatan dan Rekomendasi Keselamatan dari PVMBG
Mengingat peningkatan aktivitas Gunung Semeru yang signifikan, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara resmi menetapkan status Level III atau Siaga. Status ini menekankan perlunya kewaspadaan tinggi bagi seluruh masyarakat.
PVMBG merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, khususnya di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). Area ini merupakan zona bahaya tinggi yang berpotensi terlanda awan panas.
Di luar jarak aman tersebut, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru. Zona ini sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Kewaspadaan juga harus ditingkatkan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru. Jalur-jalur seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta sungai-sungai kecil anak Besuk Kobokan, perlu diwaspadai secara khusus.
Sumber: AntaraNews