7.500 Ekor Sapi Diimpor DKI dari Australia, Gubernur Pramono: Tak Ada Terindikasi Sakit PMK
Sejauh ini, baru 3.100 ekor sapi yang tiba di Jakarta lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dharma Jaya.
Sebanyak 7.500 ekor sapi didatangkan dari Australia oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Hal itu diklaim Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebagai upaya menjaga stabilitas harga daging saat Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 H.
Sejauh ini, baru 3.100 ekor sapi yang tiba di Jakarta lewat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dharma Jaya.
"Dengan adanya sapi dari Australia ini saya meyakini bahwa kebutuhan daging terutama untuk di Jakarta mudah-mudahan betul-betul bisa terjaga untuk tidak naik harganya seperti yang selalu kita lakukan untuk menjaga supaya tidak terjadi inflasi," kata Pramono di Dermaga 101, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/2).
Ia menjelaskan, kenaikan inflasi Jakarta setiap tahun umumnya dipicu lonjakan harga pangan saat Ramadan, terutama daging, cabai, dan beras. Oleh sebab itu, Pemprov DKI memilih menambah pasokan daging sejak awal.
"Faktor inflasi di Jakarta yang utama adalah menyambut Idulfitri, Ramadan, biasanya daging, cabai, beras. Tapi alhamdulillah tiga yang utama ini mudah-mudahan di Jakarta tidak mengalami kenaikan yang signifikan," ujarnya.
Pramono menyebut impor langsung sapi dari Australia ke Jakarta ini baru kembali dilakukan setelah 28 tahun. Menurut dia, langkah tersebut menjadi tanda meningkatnya kepercayaan internasional kepada Jakarta.
"Kenapa ini sekarang dilakukan setelah 28 tahun? Karena memang selama ini mungkin kita belum dipercaya, tetapi sekarang kita sudah dipercaya untuk bisa mengimpor langsung sapi dari Australia," ucapnya.
Selain itu, kerja sama antarwilayah melalui skema sister city antara Jakarta dan sejumlah kota di Australia disebut turut membuka peluang impor tersebut.
Stok Sapi Tak Cukup
Ia menyatakan pemerintah pusat sebenarnya telah menyiapkan pasokan sapi dari daerah dalam negeri, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan konsumsi Jakarta.
"Sebenarnya pemerintah pusat pada waktu itu sudah menyiapkan untuk sapi ini bisa dari NTT juga. Tapi kenyataannya memang masih kurang. Sehingga dengan masih kurang itu, harus impor dari luar. Kalau enggak, harganya pasti akan naik tinggi," katanya.
Pastikan Sehat
Pemprov DKI juga memastikan kondisi kesehatan ternak impor asal Australia itu aman dari penyakit mulut dan kuku (PMK). Kondisi seluruh sapi yang sudah masuk dilaporkan tidak terindikasi penyakit apapun.
"Penyakit mulut dan kuku enggak ada sehingga dengan demikian yang sudah datang di Jakarta nanti dari 7.500 tidak ada satu pun yang terindikasi sakit," kata Pramono.