Rupiah Fluktuatif, Suzuki: Ekspor jadi Lebih Menguntungkan
Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap USD memiliki dampak terhadap ekonomi nasional. Tapi, Suzuki positif jika kondisi ini tetap memiliki sisi menguntungkan.
Nilai tukar Rupiah terhadap USD mengalami penurunan dan mencapai Rp 17.051 pada 8 April 2025, yang menunjukkan bahwa keadaan ekonomi nasional sedang kurang stabil. Meski demikian, Suzuki Indonesia tetap memiliki keyakinan bahwa situasi ini dapat mendatangkan keuntungan.
Industri otomotif merupakan salah satu sektor yang sangat bergantung pada nilai tukar mata uang, terutama dalam hal ekspor dan impor. Donny Saputra, yang menjabat sebagai Deputy Managing Director 4W di PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), memberikan pendapatnya mengenai hal ini.
Dia menyatakan bahwa jika perubahan nilai Rupiah berlangsung dalam waktu yang lama, hal ini akan berdampak pada bisnis Suzuki. "Jika situasi ini terus berlanjut dalam jangka waktu yang lebih panjang, kemungkinan dampaknya bisa muncul. Namun, hingga saat ini, pengaruhnya secara langsung belum terlihat pada bisnis Suzuki dalam jangka pendek, karena kondisi ini baru terjadi satu hingga dua minggu terakhir," jelas Donny saat ditemui di Karawang, Senin (21/4/2025).
Potensi Kenaikan Harga
Penurunan nilai Rupiah terhadap USD pasti akan mempengaruhi harga barang yang dijual, khususnya untuk kendaraan yang diimpor secara Completely Built-Up (CBU), karena sangat bergantung pada nilai tukar USD pada saat itu.
Di sisi lain, model-model yang diproduksi secara lokal dengan persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi, seperti XL7 dan Ertiga, tidak mengalami penyesuaian harga yang signifikan.
“Hingga kini, produk seperti XL7 dan Ertiga memiliki kandungan lokal yang cukup tinggi, meskipun masih terdapat beberapa komponen yang diimpor. Oleh karena itu, besarnya kenaikan yang terjadi akan sangat bergantung pada kondisi nilai tukar USD saat itu. Dengan demikian, kami juga harus memastikan keberlangsungan produk kami untuk menjaga kelangsungan usaha,” ungkapnya.
Ekspor Lebih Menguntungkan
Donny mengungkapkan perspektif berbeda mengenai kenaikan nilai tukar USD yang memiliki dampak positif. Kenaikan nilai USD dianggap dapat memberikan keuntungan lebih bagi kegiatan ekspor Indonesia, karena harga produk menjadi lebih tinggi di pasar internasional.
“Namun, sebagai salah satu pengekspor kendaraan ke luar negeri, kami justru merasa diuntungkan oleh pelemahan Rupiah ini. Hal ini karena pendapatan dari ekspor akan meningkat,” jelas Donny.
“Sekarang ini baru satu atau dua minggu, tetapi ke depan kami ingin melihat bagaimana perkembangannya, tentu saja hal ini akan berpengaruh jika berlangsung lebih lama. Kami pasti akan terus memantau situasi tersebut,” tutupnya.