Pasar Mobil Indonesia Kembali Terjun Bebas, Chery: Dampak Perang Tarif antara AS dan China
Pabrikan otomotif asal China, Chery menyebut jika perang tarif antara AS dan China berdampak pada industri nasional. Simak selengkapnya!
Tahun 2024 menjadi tantangan besar bagi sektor otomotif di tanah air. Terjadi penurunan yang cukup signifikan dalam angka penjualan jika dibandingkan dengan tahun 2023. Sayangnya, masalah ini masih akan dihadapi hingga akhir kuartal pertama tahun 2025.
Gabungan Industri Kendaraan Indonesia (Gaikindo) telah mengumumkan data penjualan untuk bulan Maret 2025, yang mencatat sebanyak 70.892 unit (wholesales). Angka ini mengalami penurunan sebesar 5,1 persen secara Year-on-Year (YoY) jika dibandingkan dengan Maret 2024 yang mencapai 74.720 unit.
Pada bulan Maret 2025, penjualan wholesales mengalami penurunan sebesar 2 persen dibandingkan dengan bulan Februari 2025, mencapai 70.892 unit, turun dari 72.336 unit sebelumnya.
“Data tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa kondisi penjualan di pasar Indonesia tidak dalam keadaan baik. Jika kita membahas situasi ekonomi, penjualan mobil dari tahun lalu belum memperlihatkan pemulihan yang signifikan,” ungkap Budi Darmawan, Sales Director PT Chery Sales Indonesia (CSI), saat ditemui di PIK, Jakarta pada Selasa (15/4/2025).
Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa persaingan tarif antara Amerika Serikat dan China memberikan pengaruh yang cukup besar. Selain itu, periode libur panjang untuk merayakan Idul Fitri 1446 H juga menjadi salah satu penyebab penurunan tersebut.
“Faktor perang tarif antara AS dan China ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar dalam beberapa bulan terakhir. Ditambah lagi dengan adanya libur panjang lebaran, sehingga dampaknya memang terasa,” ujarnya.
Walaupun demikian, ia berpendapat bahwa efek dari kejadian ini belum terlalu berarti.
“Saat ini, dampaknya belum terlalu signifikan. Proses negosiasi masih berlangsung di berbagai pihak, jadi kita masih perlu menunggu dan melihat bagaimana perkembangan selanjutnya,” tambah Budi.
Budi juga menekankan bahwa sejauh ini, tidak ada dampak pada produksi, terutama terkait impor. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa merek-merek dari China hanya sedikit melakukan impor komponen dari Amerika Serikat.
“Sebagai produsen, bisa dibilang bahwa China tidak banyak terpengaruh, bahkan hampir tidak ada. Oleh karena itu, saat ini kami belum merasakan dampak sama sekali,” tutupnya.
Sebagai pengantar, konflik tarif impor antara Amerika Serikat (AS) dan China dimulai ketika Presiden AS Donald Trump menerapkan tarif sebesar 145 persen pada barang-barang yang berasal dari China.
Tindakan ini kemudian direspons oleh Presiden China Xi Jinping dengan menetapkan tarif 125 persen untuk produk-produk AS yang ingin masuk ke pasar China.
Ketegangan ini terus berlanjut, hingga pada Selasa (15/4/2025) Gedung Putih mengeluarkan sebuah lembar fakta yang mengancam akan memberlakukan tarif impor yang sangat tinggi, yaitu sebesar 245 persen, terhadap China.