OPINI: Algoritma Jurnalisme, Ketika AI Mengatur Berita yang Kita Konsumsi
Suatu fakta yang dibaca oleh algoritma Anda, mungkin dianggap hoaks oleh algoritma orang lain. Sungguh mencemaskan!
Oleh: Henry Sianipar, Mahasiswa Doktor Ilmu Komunikasi, Sekolah Pascasarjana Usahid Jakarta, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika, Praktisi Penyiaran Liputan6
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa feed media sosial Anda dipenuhi berita yangtemanya belakangan Anda cari? Atau mengapa headline berita online tampaknya selalumenargetkan emosi Anda? Jawabannya sederhana: algoritma jurnalisme sedangbekerja. Kekuasaan di Balik Layar
"Le pouvoir ne s’exerce que sur des sujets libres, et dans la mesure où ils sont libres."
"Kuasa hanya dapat dijalankan atas subjek yang bebas, dan sejauh mereka bebas."
Kalimat terkenal dari filsuf Prancis Michel Foucault, menggambarkan dilema era digital. Kita seakan merasa bebas memilih berita yang kita konsumsi, padahal pilihan kita sudah diatur oleh algoritma yang tak kasat mata.
Algoritma jurnalisme adalah sistem otomatis yang membuat dan mendistribusikan berita. Saat ini algoritma jurnalisme telah menjadi kekuatan utama yang membentuk wacana publik. Konten telah dipersonalisasi untuk preferensi spesifik pemirsa.
Teknologi yang mengubah cara kita memahami dunia. Panoptikon Digital Foucault menggambarkan konsep "panoptikon" yang diambil dari bentuk penjara bundar di mana sipir di tengah penjara, dapat mengawasi semua tahanan tanpa tahanan tahu apakah mereka sedang diawasi.
Algoritma jurnalisme bekerja persis seperti ini. Setiap klik, like, dan lama waktu baca atau views dipantau untuk memprediksi perilaku Anda selanjutnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, kita mulai menginternalisasi pengawasan ini.
Kita mengubah perilaku kita, yaitu apa yang kita baca, komentari, dan bagikan, berdasarkan kesadaran bahwa algoritma sedang mengawasi. Seperti kata Foucault, "Ia yang berada dalam jangkauan visibilitas, dan menyadarinya, menanggung sendiri batasan-batasan kekuasaan itu."
Gelembung Filter: Penjara Tak Kasat Mata
TikTok memiliki fitur FYP (For You Page) yang mempersonalisasi konten untuk Anda . Facebook memiliki algoritma EdgeRank. Google mengatur peringkat berita berdasarkan popularitas dan relevansi. Semua ini menciptakan "gelembung filter" yaitu ekosistem informasi yang hanya menampilkan konten yang “sesuai” kebiasaan Anda.
Apa akibatnya? Polarisasi terjadi! Dialog publik terfragmentasi. Bahaya pun timbul: kebenaran menjadi hal yang ‘relatif’. Suatu fakta yang dibaca oleh algoritma Anda, mungkin dianggap hoaks oleh algoritma orang lain. Sungguh mencemaskan!
Jurnalisme di Persimpangan Jalan
Pertanyaan kritis muncul: siapa yang mengatur ini semua? Jika algoritma dirancang oleh korporasi yang berorientasi profit, tentu saja informasi akan diatur oleh logika pasar. Strategi clickbait akan mendominasi karena memicu emosi, menghasilkan engagement lebih tinggi. Namun, kabar baiknya adalah bahwa di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan. Foucault menekankan bahwa kekuasaan tidak pernah absolut. Selalu ada celah untuk melawan.
Bagaimana kita bisa melawan kuasa algoritma? Berikut beberapa cara:
1. Tingkatkan Literasi Digital
Cara kerja algoritma dapat dipahami, saat kita menyadari bahwa feed berita kita diatur berdasarkan engagement, bukan kebenaran atau kepentingan publik. Untuk itu, kita bisa mulai mempertanyakan apa yang kita lihat. "Mengapa saya melihat berita ini? Apakah karena penting? Apakah karena tidak suka? Jangan diklik donk!
2. Buat "Diet Media" yang Seimbang
Carilah sumber berita dari berbagai perspektif. Jika Anda adalah fans Jokowi, sesekali bacalah lagi tentang Megawati atau Ganjar Pranowo, bahkan Anies Baswedan. Ini membantu memecah gelembung filter Anda. Gunakan mode "incognito" atau VPN ketika mencari informasi sehingga mengurangi bias algoritma.
3. Dukung Jurnalisme Independen
Berlangganan media yang mengutamakan kualitas, tidak sepenuhnya bergantung pada iklan digital. Misalnya Tempo.co, The Jakarta Post Premium, Kompas.id, Katadata Premium hingga Project Multatuli yang mengusung pendanaan dari pembaca untuk jurnalisme investigasi.
Tantangan Bagi Media
Media arus utama saat ini menghadapi dilema etis: mengikuti logika algoritma untuk bertahan hidup, atau mempertahankan nilai jurnalistik dengan risiko kehilangan pembaca/ pemirsa? Solusinya bukan menolak teknologi, tetapi menggunakannya dengan lebih bijak seperti:
1. Algoritma yang Transparan
Media harus lebih terbuka tentang bagaimana algoritma mereka bekerja. Fitur seperti “mengapa Anda melihat ini?" bisa membantu pembaca/pemirsa memahami logika di balik rekomendasi.
2. Algoritma yang Memprioritaskan Kebenaran, Bukan Engagement
Platform berita bisa merancang algoritma yang memberikan bobot lebih pada keakuratan, kepentingan publik, dan kedalaman investigasi, sekali lagi bukan hanya karena engagement.
3. Regulasi yang Tepat
Pemerintah saat ini perlu membuat regulasi yang mewajibkan transparansi algoritma tanpa mengorbankan inovasi. Ide mengenai Dewan Algoritma yang mungkin di bawah BSSN, mungkin perlu dipertimbangkan lagi. Alasannya, karena regulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara pengawasan dan kebebasan teknologi.
Masa Depan Jurnalisme
Algoritma jurnalisme tidak akan menghilang. Justru, dengan kemajuan AI generatif seperti ChatGPT, Deepseek dan sederet AI yang terbaru, maka perannya akan semakin dominan.
Pertanyaannya bukan lagi "apakah kita akan menggunakan algoritma?" Tetapi: "bagaimana kita merancang algoritma yang mendukung nilai-nilai demokratis?" Foucault mengajarkan bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang dimiliki, melainkan dipraktikkan. Pun dengan algoritma. Algoritma jurnalisme bukan hanya alat teknis, tetapi praktik sosial yang dapat kita bentuk bersama.
Tantangan kita adalah memastikan bahwa dalam era di mana algoritma semakin kuat, kebebasan informasi tidak menjadi ilusi. Kita perlu algoritma jurnalisme yang tidak hanya memprioritaskan engagement, tetapi juga kebenaran, keadilan, dan tentunya keberagaman perspektif dan cara berpikir.
Pilihan ada di tangan kita. Sebagai pembaca/ pemirsa, kita bisa menjadi konsumen pasif atau warga digital yang kritis. Yang jelas, masa depan informasi tidak ditentukan oleh teknologi itu sendiri, tetapi oleh bagaimana kita memilih untuk menggunakannya. Seperti kata Foucault,
"Kebebasan bukanlah tujuan akhir; ia adalah kondisi yang memungkinkan praktik etika."