Dari Manuskrip ke Metaverse: Jalan Sunyi Kebudayaan Islam
Langkah awal bagi kebudayaan Islam untuk menempuh jalan baru, yaitu menghadirkan masa lalu dalam bahasa masa depan.
Oleh: Novia Adibatus Shofah, Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya
Ketika dunia sibuk membicarakan metaverse, kecerdasan buatan, dan ketidakpastian global, tak banyak yang memperhatikan gerakan senyap dari ruang akademik di Surabaya.
Di salah satu sudut kampus UIN Sunan Ampel Surabaya, sejak 2023, sebuah forum ilmiah bernama ICONITIES terus merajut peta jalan kebudayaan Islam dalam era digital.
Tak heboh, tak viral, tapi konsisten. ICONITIES, yaitu International Conference on Islamic Civilization and Humanities, diselenggarakan oleh Fakultas Adab dan Humaniora dari tahun ke tahun menawarkan lebih dari sekadar konferensi tahunan. ICONITIES memetakan arah baru peradaban Islam, yaitu dari manuskrip menuju metaverse.
Sebuah Telaah Awal di Tahun 2023 (Ketika Humaniora Islam Bertemu Teknologi)
ICONITIES 2023, dengan tema besar Islamic Civilization and Digital Humanities, menghadirkan perhatian khusus terhadap transformasi warisan intelektual Islam di era digital. Gagasan utamanya adalah bahwa khazanah Islam, mulai dari teks-teks klasik, manuskrip kuno, tafsir, hingga kekayaan bahasa Arab, tidak lagi cukup hanya disimpan di rak perpustakaan. Dunia digital menuntut bentuk baru yang lebih dinamis, terbuka, dan dapat diakses generasi masa kini.
Hal ini tercermin dari berbagai topic discussion pada konferensi ini, seperti kajian tentang urgensi penguasaan bahasa Arab untuk memahami ilmu-ilmu keislaman, pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran bahasa Arab di madrasah, hingga strategi penerjemahan sastra yang relevan untuk mentransformasikan teks klasik ke dalam konteks modern. Dari tinta naskah ke kode digital, dari koleksi sunyi ke platform terbuka, ICONITIES 2023 menjadi langkah awal bagi kebudayaan Islam untuk menempuh jalan baru, yaitu menghadirkan masa lalu dalam bahasa masa depan.
Perayaan Berbagai Kekayaan di Tahun 2024 (Merawat Keberagaman, Bukan Menyeragamkan)
ICONITIES 2024 mengusung tema besar Cultural Diversity in the Islamic World, yang menyoroti kekayaan dan keragaman budaya dalam peradaban Islam. Konferensi ini menampilkan berbagai kajian yang menggambarkan bagaimana Islam hadir dalam beragam bahasa, sastra, arsitektur, pendidikan, dan praktik sosial di berbagai belahan dunia. Tema ini mencerminkan komitmen untuk menggali dan merayakan pluralitas ekspresi budaya dalam masyarakat Islam global.
Pembahasan konferensi ini mencakup beragam topik, seperti studi linguistik terhadap bahasa Arab, Persia, dan lokalitas seperti Jawa dalam konteks Islam, kajian sastra Islam dari berbagai wilayah, serta pendekatan pendidikan Islam di madrasah, pesantren di Indonesia, hingga komunitas Muslim di Australia. Pada konferensi ini, juga membahas peran gender, identitas diaspora, dan diplomasi budaya antarbangsa. Ini menunjukkan bahwa peradaban Islam tumbuh dari kekayaan konteks sosial-budaya yang melingkupinya.
Selain menjadi wadah akademik, ICONITIES 2024 juga menjadi forum pertukaran perspektif lintas negara dan disiplin. Dengan menghadirkan narasumber internasional dan riset-riset lintas budaya, konferensi ini memperkuat pemahaman bahwa Islam tidak hadir dalam satu bentuk, tetapi sebagai jejaring yang berakar pada tradisi lokal dan sekaligus terbuka terhadap dinamika global. Dari bahasa hingga arsitektur, dari pendidikan hingga sastra, Islam dipahami sebagai peradaban yang hidup dan terus berkembang dalam keberagaman.
Salah satu narasumber, Theis Greentree dari Centre for Islamic Da’wah dan Education and Al-Insaan New Muslim Learning Community di Australia, menjelaskan sejarah masuknya Islam ke Australia dan kehidupan Muslim kontemporer di sana.
Ia juga membandingkan moderasi beragama antara Indonesia dan Australia, serta menyoroti tantangan umat Muslim di Australia. Melalui diskusi yang menyinggung persoalan keberagaman Islam di tingkat global, ICONITIES 2024 dapat menunjukkan bagaimana praktik dan pengalaman Islam sangat dipengaruhi oleh konteks sosial-budaya masing-masing wilayah.
Menjembatani Sejarah, Bahasa, dan Sastra dalam Era Ketidakpastian Global
Dan tahun ini, 2025, ICONITIES ketiga menyuguhkan tema reflektif sekaligus strategis, yaitu Expanding Cross-Cultural Perspectives on History, Language, and Literature in an Era of Global Uncertainty. Pada momen tersebut, ICONITIES menghadirkan beragam topik lintas disiplin yang mencerminkan kompleksitas dan kekayaan peradaban Islam serta dinamika sosial budaya global.
Para peneliti yang terlibat dalam ICONITIES berdiskusi secara aktif mengenai isu-isu historis, mulai dari pemberontakan lokal terhadap kolonialisme seperti kisah Ronggo Prawirodirjo III, hingga kajian mendalam tentang tokoh-tokoh Islam klasik seperti Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin al-Ayyubi, dan KH. Ahmad Dahlan.
Dari diskusi tersebut, para peneliti juga menyinggung bagaimana perspektif pemikir dan ulama dalam membentuk peradaban Islam, seperti peran Sayyidah Aisyah RA (istri Nabi Muhammad SAW) dalam periwayatan hadist dan Hunayn bin Ishaq (penerjemah empah bahasa) dalam transformasi ilmu pengetahuan Yunani ke dunia Islam.
Di sisi lain, dalam ranah budaya dan sastra, ICONITIES 2025 menyoroti akulturasi dan ekspresi lokal Islam, seperti wayang sebagai media dakwah Sunan Kalijaga, tradisi sesaji dalam budaya Jawa-Islam, serta keindahan stilistika Al-Qur’an.
Isu-isu kontemporer turut mendapat perhatian, seperti dinamika pesantren di era digital, analisis wacana kritis terhadap media daring, hingga representasi perempuan dan ekologi dalam karya sastra modern. Tema lintas budaya juga muncul melalui kajian bahasa, baik Arab maupun Inggris, dengan pendekatan historis, stilistika, dan psikolinguistik, yang menunjukkan interkoneksi antara kebudayaan, bahasa, dan identitas umat Islam dalam berbagai konteks.
ICONITIES 2025 juga menghadirkan studi-studi komparatif dan refleksi filosofis, seperti persoalan fasting dalam Islam, serta penggunaan bahasa Arab dalam konteks BIPA dan media sosial. Bukan hanya itu saja, pada konferensi ini juga menyinggung bagaimana rekonstruksi pemikiran Ki Hajar Dewantara dan bagaimana analisis tokoh fiksi dalam sastra barat. Melalui pembahasan yang kaya tersebut, ICONITIES 2025 memperlihatkan bagaimana Islam sebagai tradisi intelektual dan kultural terus berdialog dengan dunia, merespon tantangan zaman tanpa kehilangan akarnya.
Mengapa Ini Penting?
Karena tidak semua yang sunyi itu lemah. ICONITIES mungkin bukan headline media nasional. Tapi ICONITIES adalah kerja jangka panjang. Jalan sunyi yang tak mengejar viralitas, melainkan kejelasan arah. Bahwa peradaban Islam memiliki tempat dalam dunia digital, bukan sebagai kenangan namun sebagai pengarah.
Warisan budaya Islam seperti manuskrip, bahasa, dan nilai tidak boleh hanya dikenang. Warisan budaya Islam harus dimaknai ulang, disebarkan ulang, dan dibicarakan ulang. Dan di saat dunia sedang kehilangan arah, bisa jadi jalan sunyi seperti ini justru yang akan menyelamatkan kita.
Dari manuskrip ke metaverse, dari mushaf ke layar gawai, ICONITIES sedang membuktikan bahwa Islam punya jalan. Jalan yang pelan, senyap, tapi pasti. Dan bisa jadi, dari ruang kelas kecil di Surabaya, lahir peta besar masa depan kebudayaan Islam dunia.