Dampak Kemarau Panjang, Warga Banyumas Buat Lubang di Dasar Sungai
Kondisi musim kemarau yang panjang membuat warga dilanda krisis air bersih.
Kondisi musim kemarau yang panjang membuat warga dilanda krisis air bersih.
Dampak Kemarau Panjang, Warga Banyumas Buat Lubang di Dasar Sungai
Musim kemarau yang panjang membuat warga merana, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah krisis air. Ironisnya, warga yang tinggal di pinggir sungai juga turut merasakan dampak dari sebuah fenomena yang disebut El Nino ini.
Di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, air sungai jadi kering kerontang akibat musim kemarau. Hal ini membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih.
Sungai kering itu kemudian dimanfaatkan warga untuk membuat sumur di dasar sungai dengan cara melubangi dasar sungai. Air kemudian akan keluar dari lubang buatan dan bisa langsung diambil oleh warga untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Perlu diketahui, bantuan dari BPBD nyatanya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Sebagai langkah dadakan, mereka membuat lubang di sungai untuk mendapatkan air sepuasnya.
“Air di sini kering semua. Untuk nyuci baju, nyuci gadung, nggak ada air juga. Air dari mana? Lha musim kemarau. Itu airnya keluar,” kata Jakam, salah seorang warga yang mengambil air tersebut.
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Banyumas, tercatat 25 desa dilanda krisis air bersih. Kondisi itu membuat warga mengandalkan kiriman air bersih dari pemerintah untuk keperluan sehari-hari.
Krisis air tak hanya berdampak pada kurangnya pasokan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Puluhan hektare lahan padi di Desa Wonokerso, Sragen yang semula hijau kini menguning dan tandus. Pemilik lahan membiarkan lahannya karena sulitnya mendapatkan air yang mengairi lahan mereka.
Air bendungan yang menjadi andalan para petani sejak April lalu debit airnya terus menyurut. Hal yang sama juga terjadi pada sungai ataupun saluran irigasi lainnya. Kondisi seperti ini membuat petani tidak berani menanam tanaman agar mereka tidak merugi.
Selain masalah pengairan, hama tikus juga menjadi penyebab petani membiarkan lahan mereka kering. Setidaknya 70 hektare area lahan di Desa Wonokerso dibiarkan begitu saja tanpa ada tanaman.
“Jadi petani kan kekurangan air, sehingga mereka kalau membutuhkan air langsung cari air di waduk. Itupun masih kurang sebenarnya. Sehingga kurang maksimal dari hasil petani itu sendiri. Sehingga dari warga petani jarang yang menanam padi, mengingat dari segi operasional, biaya, dan ada hama tikus. Jadi mereka takut gagal panen,” kata Suparno, kepala Desa Wonokerso.