Pabrik Permen Mint Tertua di Indonesia Ternyata ada di Purbalingga, Begini Kisahnya
Nama “Davos” sendiri berasal dari nama sebuah kota pegunungan berhawa sejuk di negara Swiss.
Nama “Davos” sendiri berasal dari nama sebuah kota pegunungan berhawa sejuk di negara Swiss.
Pabrik Permen Mint Tertua di Indonesia Ternyata ada di Purbalingga, Begini Kisahnya
Davos merupakan merk permen mint pertama di Indonesia. Industri permen ini didirikan pada 28 Desember 1931 saat Belanda masih menjajah negeri ini.
Tak banyak yang tahu, permen Davos tercipta di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yaitu Purbalingga. Kini pabrik permen Davos masih berdiri di kota itu, malah terus berkembang menjadi pabrik yang besar.
Dilansir dari Wikipedia, permen Davos pertama kali didirikan oleh seorang pemuda bernama Siem Kie Djian. Nama “Davos” sendiri berasal dari nama sebuah kota pegunungan berhawa sejuk di negara Swiss.
Seiring waktu industry permen Davos berkembang pesat. Namun pada saat pendudukan Jepang, pabrik ini sempat mengalami keterpurukan.
Namun selang tiga tahun kemudian pabrik ini bisa bangkit kembali.
Dilansir dari kanal YouTube Jejak Siborik, usaha permen legendaris ini kini telah dilanjutkan oleh generasi keempat.
Melalui sebuah video yang diunggah pada Rabu (5/6), pemilik kanal YouTube Jejak Siborik berkesempatan mengunjungi pabrik permen tersebut di Purbalingga.
Walaupun kini sudah modern, beberapa peninggalan zaman dulu masih tersimpan di pabrik tersebut. Salah satunya adalah pedati pengangkut gula pasir dari Kroya, Cilacap, menuju pabrik tersebut.
Canggih Setiawan, divisi markom pabrik permen Davos, mengatakan, dulu kereta pedati itu pernah ditarik hingga Semarang.
Di pabrik tersebut, masih ada bangunan yang dijaga keasliannya. Hingga kini bangunan itu masih berfungsi sebagai ruang kerja.
“Dulunya bangunan ini jadi tempat nongkrong para tentara Belanda. Mereka dulu santai-santai sambil makan limun di sini. Bahkan bertahun-tahun kemudian anak cucu mereka masih rutin berkunjung ke sini. Terakhir tahun 2019 sebelum pandemi,” kata Canggih.
Di pabrik itu juga masih tersimpan mesin cetakan permen yang digunakan pertama kali. Kini mesin itu sudah tidak berfungsi dan hanya sebagai pajangan.
Canggih mengatakan, mesin tua itu hanya bisa untuk mencetak satu permen. Kini satu mesin press bisa mencetak banyak permen sehingga produksinya bisa lebih cepat.
Mengingat usia pabrik yang hampir satu abad, beberapa pegawai di sana ada yang sudah bekerja cukup lama. Salah satunya adalah Pak Darsono. Ia sudah bekerja di pabrik Davos selama 40 tahun.
“Dari bujangan saya sudah kerja di sini. Sekarang saya sudah berusia 60 tahun,” kata Pak Darsono.
Walaupun penghasilan yang diperoleh tidak banyak, namun Pak Darsono rajin menyisihkan gaji yang diperoleh untuk ditabung. Dari tabungan itulah, pada tahun 2004, ia menggunakannya untuk modal mendirikan kos-kosan.
Selain itu, ada sosok Pak Willy yang juga sudah bekerja hampir 42 tahun di pabrik itu. Kini ia menjabat sebagai manager produksi.
Ia bercerita, dulu produksi permen Davos masih dijalankan di rumah pemiliknya. Usaha itu terus berkembang hingga mereka bisa membangun pabrik sendiri.
Tak hanya permen mint, Pak Willy bercerita dulu pabrik itu juga memproduksi minuman limun. Selain itu ia juga bercerita, dulu proses produksi permen dilakukan dengan cara dijemur, belum ada proses oven seperti sekarang.
“Dulu saya sempat ditugasi untuk menjemur bahan permen yang sudah dicampur gula. Hampir tiap hari saya mengamati cuaca,” kata Pak Willy dikutip dari kanal YouTube Jejak Siborik.