Diwariskan Pada Anak Cucu, Warga Negara China Kelahiran Kebumen Ini Buka Usaha Makanan Indonesia di Negeri Rantau
Walaupun sudah lama meninggalkan tanah air, Ibu Bunga terdengar lancar berbahasa Indonesia.
Walaupun sudah lama meninggalkan tanah air, Ibu Bunga terdengar lancar berbahasa Indonesia.
Diwariskan Pada Anak Cucu, Warga Negara China Kelahiran Kebumen Ini Buka Usaha Makanan Indonesia di Negeri Rantau
Kota Yingde hanyalah sebuah kota kecil setingkat kota kabupaten yang berada di Provinsi Guangdong, China. Kota itu dikenal karena kawasan perkebunan tehnya.
Kota itu juga dikenal sebagai tempat tinggal bagi orang-orang China perantauan atau yang lebih dikenal dengan nama “Guiqiao”.
Salah satu Guiqiao di Kota Yingde berasal dari Indonesia. Diperkirakan ada lebih dari 2.000 orang Guiqiao dari Indonesia yang menetap di kota itu.
Di antara mereka ada Ibu Bunga, salah seorang warga perantauan yang lahir di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Di negeri rantau ia membuka usaha kuliner yang menjajakan berbagai macam makanan khas Indonesia.
Tak hanya itu, ia juga mewariskan resep-resep kuliner Nusantara ke anak-anaknya.
Seperti apa kisahnya?
Ibu Bunga menjajakan berbagai kuliner Indonesia di rumahnya seperti lemper, ongol-ongol, nasi kuning, dan ada juga kue pukis.
“Di sini juga ada urap-urap, sambal lado udang, sayur lodeh, dan lain sebagainya,” kata Ibu Bunga dikutip dari kanal YouTube Rudy Chen.
Ibu Bunga mengatakan kalau bahan-bahan untuk masakanya ia datangkan langsung dari Indnonesia. Di tengah komunitas keturunan Indonesia yang lain, Ibu Bunga memang dikenal pandai memasak.
Tak hanya masakan Jawa, namun ia juga mahir meracik bumbu untuk masakan Indonesia yang lain.
Ibu Bunga bercerita ia bersama keluarganya beramai-ramai merantau dari Indonesia ke negeri China tepatnya pada tahun 1960-an.
“Waktu itu saya masih kecil. Tapi dari dengar-dengar keluarga yang lain, waktu itu orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia memang banyak dilarang melakukan ini itu. Makanya kami pindah saja ke sini,”
kata Ibu Bunga kenapa ia dan rombongan warga negara Indonesia yang lain merantau ke negeri China.
Saat tiba di China, Ibu Bunga hidup dalam keadaan miskin. Ia dan keluarga harus berjuang hidup agar tetap bisa survive.
“Mereka disuruh kerja. Mereka kerja di manapun seperti tanam teh, tanam ubi, dan lain-lain,” kata Ibu Bunga.
Ibu Bunga mengatakan bahwa selama hidupnya ia sudah enam kali mengunjungi tanah kelahirannya. Setiap kali mengunjungi Indonesia, ia mengaku senang.
“Saya pernah ke Surabaya, Pulau Bali, Medan, Jakarta,” kata Ibu Bunga
Saat besar, Ibu Bunga menikah dengan warga negara China yang juga keturunan Indonesia. Di kampung itu, penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa sehari-hari tetap dijaga. Ia ingin agar warisan kuliner dari tanah kelahirannya tetap lestari meski berada di negera orang.
“Saya juga ajarin anak saya untuk membuat kuliner ini dan juga cara membuatnya,” kata Ibu Bunga dikutip dari kanal YouTube Rudy Chen.