Kisah Orang Makassar Jadikan Australia Rumah Kedua, Ajari Warga Aborigin Isap Tembakau hingga Lukis Perahu
Pada abad ke-17, bangsa Makassar pernah menetap di Australia dan mengenalkan budaya lokal ke suku Aborigin.
Pada 1650 bangsa Makassar sudah melaut secara teratur hingga ke daratan Australia. Mereka melakukan pelayaran ini untuk mencari ikan dan teripang sebagai mata pencaharian utama.
Adapun bangsa Makassar yang biasa berlayar hingga lintas benua tersebut merupakan orang-orang keturunan Gowa dan Bugis. Biasanya, mereka membawa rombongan puluhan perahu besar menuju perairan tersebut.
Ada temuan sejarah yang menarik dari masyarakat Makassar, di mana mereka rupanya turut menjalankan kehidupan di sebagian daratan Australia. Bahkan, mereka juga membaur dengan penduduk asli setempat yakni Suku Aborigin dengan mengajarkan cara mengisap tembakau dan melukis perahu.
Tak sekedar dongeng, lantaran di beberapa daerah Australia seperti Arnhem dan Kimberley terdapat jejak peninggalan berupa tempat tinggal hingga bahasa lokal yang serupa dengan Makassar. Berikut kisahnya.
Datang Lebih Dulu dari Penemu Benua Australia
Mengutip ANTARA, para pelaut asal Makassar itu sudah berabad-abad lalu berlayar menuju daratan Australia. Mereka sejak abad ke-17 sudah berlayar dan menjalani kehidupan sebagai rumah ke dua.
Saat itu disebutkan bahwa daerah Marege atau nama asli Benua Australia merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan Gowa.
Ini memperkuat informasi bahwa yang pertama kali datang ke benua tersebut adalah bangsa Makassar dan bukan James Cook yang merupakan penjelajah asal Britania Raya (Inggris) pada 1770.
Mencari Teripang
Merujuk laman Lembaga Australia – Indonesia, dfat.gov.au, hubungan antar benua dan negara itu kemudian terjalin erat lantaran banyak kesamaan geografi, budaya dan sosial. Sebanyak puluhan kapal asal Kesultanan Gowa dan warga Bugis juga semakin sering datang untuk meminta izin menangkap hasil laut.
Sebelum menangkap teripang, bangsa Makassar akan singgah di Australia dan berinteraksi. Setelah diizinkan oleh Suku Aborigin, mereka kemudian mengambil ikan dan teripang secukupnya.
Ketika itu, hasil laut memang menjadi andalan bangsa Makassar sebagai pemasukan ekonomi. Hasil tangkapannya biasa dijual ke Eropa dan Tiongkok, dengan harga yang lumayan.
Tinggal Sementara di Australia
Selama mencari ikan, mereka turut menetap selama beberapa bulan di Australia. Rumah-rumah sementara dibangun, sumur air digali dan bibit-bibit pohon asam ditanam. Sampai sekarang, hutan pohon asam peninggalan bangsa Makassar masih dapat dijumpai.
Menariknya, turut terjadi percampuran budaya antara kebiasaan Suku Aborigin dengan kearifan lokal yang dibawa oleh orang Makassar. Warga Aborigin diajarkan sejumlah kebiasaan seperti mengisap tembakau sampai menggambar di atas perahu (kapal).
Selain Arnhem, ada wilayah barat laut Australia yang juga menjadi daerah persinggahan dan diberi nama Kayu Jawa.
Aborigin Diajak ke Makassar
Perjalanan bangsa Makassar menuju Australia akan disesuaikan waktunya dengan kondisi cuaca hingga selamat tiba di pantai utara Australia. Biasanya, mereka memulai perjalanan pada Maret hingga April atau di akhir musim hujan.
Selama perjalanan pulang dan kembali itu, orang-orang Aborigin turut membantu para nelayan tripang tersebut, termasuk mempelajari bahasa Makassar.
Warga Aborigin bahkan ikut berlayar sampai ke Sulawesi, dan kembali ke Australia pada musim monsun berikutnya saat bangsa Makassar kembali. Tak sedikit orang asli Australia menetap dan memilih tinggal di Sulawesi.