Isi Khotbah Idulfitri Bung Hatta: Kurang kejujuran, Susah Memperbaikinya!
Saat itu, Indonesia belum genap dua tahun Merdeka. Sebagai negara yang baru terbentuk, Hatta mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Juni 1947, Wakil Presiden Mohammad Hatta mudik ke kampung halamannya di Bukittinggi. Selain mudik untuk merayakan Idulfitri, Bung Hatta membawa misi penting di tengah upaya Belanda mengusik kemerdekaan Indonesia.
Saat itu, Indonesia belum genap dua tahun Merdeka. Sebagai negara yang baru terbentuk, Hatta mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Bung Hatta menyampaikan khotbah tentang tanggung jawab partai politik untuk berjuang membangun negara di bawah pimpinan pemerintahan dan membangun semangat rakyat. Dalam pandangannya, pertikaian antar partai politik mengakibatkan kehancuran sebuah negara.
Bung Hatta juga menyampaikan, negara membutuhkan pemimpin yang tegas. Agar rakyatnya bisa membedakan demokrasi dan anarki. Bung Hatta mengakui kekurangan pemerintahan yang baru.
“Pemerintahan yang baru, juga partai-partai politik belum memiliki pengalaman dan kecakapan. Solusinya sederhana saja, kurang kecakapan dapat dicukupkan dengan pengalaman, kurang kesanggupan dapat dicukupkan dengan latihan, tetapi kurang kejujuran, susah memperbaikinya!,” kata Bung Hatta yang tertulis dalam buku Mohammad Hatta, Kumpulan Pidato III.
Di Tengah Gangguan Belanda
Saat itu, Belanda masih mengganggu kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta menyelipkan misinya memberikan pemahaman dan semangat perjuangan lewat perdamaian dan kesabaran.
Misi utama Bung Hatta ke Sumatera adalah bertemu tokoh-tokoh perjuangan dan rakyat untuk menjelaskan kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia dalam menghadapi Belanda. Bung Hatta menyiapkan Sumatera sebagai basis perlawanan apabila Jawa terus ditekan pasukan Belanda.
"Perdamaian yang berdasarkan kebenaran dan keadilan tidak dapat diperoleh secara mudah, tetapi harus diperjuangkan dengan penuh keberanian dan tetap tawakal kepada Allah SWT."
Bung Hatta menyampaikan Indonesia bisa berdamai dengan Belanda jika kemerdekaan diakui. Langkah diplomasi diambil untuk menyelesaikan masalah. Menurutnya, ini adalah cara terbaik untuk mencapai perdamaian.
"Kemerdekaan Indonesia adalah syarat bagi kita untuk mencapai perhubungan persaudaraan antara bangsa Belanda dan bangsa Indonesia. Indonesia dan Belanda juga sederajat untuk duduk setara di meja perundingan, oleh karena itu perang yang selalu meminta korban jiwa harus dihindari agar tercapai perdamaian," tutur Bung Hatta.