Trump dan Zelenskyy Saling Sindir, Hubungan AS-Ukraina Memanas
Kedua pemimpin ini saling melontarkan sindiran yang memperburuk hubungan keduanya.
Hubungan antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memburutk setelah Zelenskyy mengungkapkan bahwa Trump terjebak dalam "ruang disinformasi buatan Rusia," sementara Trump membalas dengan menyebut Zelenskyy sebagai "seorang diktator tanpa pemilu." Komentar tajam ini menunjukkan adanya ketegangan antara dua pemimpin yang sebelumnya memiliki hubungan baik, terutama di bawah pemerintahan pendahulu Trump, Joe Biden.
Saat Biden menjabat, AS memberikan dukungan militer yang krusial kepada Ukraina untuk membantu negara tersebut dalam mempertahankan diri dan berupaya mengisolasi Rusia di kancah internasional. Namun, kini pemerintahan Trump tampak mengambil langkah berbeda dengan menjalin hubungan lebih dekat dengan Rusia dan mendorong proses perdamaian. Pada Selasa lalu, pejabat senior dari kedua negara melakukan pertemuan untuk membahas peningkatan hubungan, merundingkan akhir konflik, dan mempersiapkan pertemuan antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin setelah bertahun-tahun ketegangan.
Serangan Trump yang menyebut Zelenskyy sebagai diktator dinilai berkaitan dengan keputusan Ukraina untuk menunda pemilu yang seharusnya berlangsung pada April 2024 karena situasi perang yang masih berlangsung. Trump juga menambahkan Zelenskyy adalah seorang komedian yang berhasil membujuk AS untuk mengeluarkan USD350 miliar untuk terlibat dalam konflik yang dianggap tidak dapat dimenangkan. Dia menekankan, perang ini seharusnya tidak pernah dimulai, dan tanpa keterlibatan AS dan 'TRUMP', konflik ini tidak akan pernah berakhir.
Presiden AS tersebut melanjutkan dengan pernyataan bahwa satu-satunya keahlian Zelenskyy adalah memanipulasi Biden, dan dia memperingatkan agar Zelenskyy segera bertindak atau dia akan kehilangan negaranya. Sementara itu, Putin menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan Trump.
"Saya ingin melakukan pertemuan, namun perlu dipersiapkan agar memberikan hasil," ungkap Putin dalam pernyataan yang disiarkan di televisi pada Rabu.
Putin menambahkan bahwa dia akan "senang" bertemu dengan Trump, meskipun dia mencatat bahwa Trump telah menyadari bahwa penyelesaian konflik di Ukraina mungkin memerlukan waktu lebih lama dari yang diharapkan. Pemimpin Rusia itu juga memuji pertemuan yang berlangsung pada Selasa antara pejabat senior Rusia dan AS di Riyadh, yang dia sebut "sangat positif." Dia menyatakan pejabat yang terlibat dalam pembicaraan menggambarkan delegasi AS sebagai pihak yang terbuka untuk negosiasi tanpa prasangka, bersedia untuk bekerja sama dengan Rusia tanpa mengutuk tindakan masa lalu.
Putin menyatakan "tujuan dan subjek" dari pembicaraan tersebut adalah "pemulihan hubungan Rusia-AS." Dia menekankan, tanpa meningkatkan tingkat kepercayaan antara Rusia dan AS, penyelesaian banyak masalah, termasuk krisis Ukraina, tidak mungkin dilakukan.
"Tujuan pertemuan ini adalah meningkatkan kepercayaan antara Rusia dan AS," tambah Putin. Menanggapi keluhan Zelenskyy tentang Ukraina yang tidak diundang dalam pembicaraan AS-Rusia, Putin menyebut reaksi Ukraina tersebut "tidak berdasar."
Presiden Trump mengatakan kepada saya selama pembicaraan telepon bahwa AS berasumsi proses negosiasi akan melibatkan Rusia dan Ukraina," ujar Putin.
Dia menegaskan tidak ada yang akan mengecualikan Ukraina dari proses ini. Selain itu, Putin mengungkapkan keterkejutannya melihat Trump menunjukkan "kendali diri" terhadap para pemimpin Eropa yang mendukung saingannya dalam pemilihan presiden AS.
"Semua pemimpin Eropa secara efektif campur tangan langsung dalam pemilu AS," ujarnya, sambil menambahkan bahwa beberapa di antaranya bahkan menghina Trump secara langsung.
Putin mengulangi pernyataan resmi Kremlin bahwa Rusia tidak pernah menolak kemungkinan untuk bernegosiasi dengan Ukraina atau sekutu-sekutu Eropa. "Pihak Eropa telah menghentikan kontak dengan Rusia. Pihak Ukraina telah melarang dirinya sendiri untuk berunding," katanya merujuk pada keputusan Zelenskyy pada tahun 2022 yang menolak segala bentuk perundingan dengan Rusia. Ketegangan ini menunjukkan betapa rumitnya situasi yang dihadapi oleh kedua negara dalam upaya mencari solusi damai.
Trump Kurang Sabar
Ukraina beserta para pendukungnya di Eropa mengungkapkan keprihatinan mendalam karena mereka tidak dilibatkan dalam dialog antara pejabat tinggi AS dan Rusia yang berlangsung di Arab Saudi. Kekhawatiran ini semakin meningkat, mengingat adanya ketakutan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas dapat merugikan kepentingan Ukraina.
Dalam sebuah konferensi pers pada hari Selasa, Trump menunjukkan sikap yang kurang sabar terhadap keberatan Ukraina yang merasa diabaikan. Dia menyatakan, tanpa menyebutkan sumbernya, bahwa "peringkat persetujuan Zelenskyy hanya 4 persen," sambil menegaskan kepada wartawan bahwa Ukraina seharusnya tidak pernah memulai perang dan seharusnya mampu mencapai kesepakatan untuk menghindarinya.
Pada hari Rabu, Zelenskyy memberikan tanggapan dalam konferensi persnya, "Kami telah melihat disinformasi ini. Kami paham itu berasal dari Rusia." Ia menuduh Trump terjebak dalam ruang disinformasi tersebut. Reaksi positif datang dari televisi negara Rusia dan media yang berada di bawah pengaruh negara, yang menggambarkan apa yang mereka sebut sebagai ketidakpedulian Trump terhadap Zelenskyy. Saluran Rossiya melaporkan, "Trump bahkan tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya terhadap Zelenskyy," dalam awal siaran berita mereka. Selain itu, harian Komsomolskaya Pravda mencatat, "Trump menanggapi keras keluhan Zelenskyy tentang perundingan dengan Rusia."
Trump juga menyarankan agar Ukraina mengadakan pemilihan umum, yang telah tertunda akibat perang dan penerapan undang-undang militer, sesuai dengan ketentuan Konstitusi Ukraina. Namun, situasi di lini pertempuran menunjukkan berita yang lebih suram bagi Ukraina dalam beberapa bulan terakhir. Serangan yang terus-menerus di wilayah timur oleh tentara Rusia yang lebih besar "menggiling" pasukan Ukraina, yang perlahan namun pasti didorong mundur di beberapa titik di garis depan yang membentang sepanjang 1.000 kilometer. Pejabat AS telah mengindikasikan bahwa harapan Ukraina untuk bergabung dengan NATO sebagai langkah untuk menanggulangi agresi Rusia setelah mencapai kesepakatan perdamaian mungkin tidak akan terwujud. Zelenskyy menekankan, setiap penyelesaian akan memerlukan komitmen keamanan dari AS untuk menjaga Rusia tetap terkendali.