Sejarawan Ungkap Bagaimana Operasi Spionase dan Mata-Mata di Zaman Yunani Kuno
Sama seperti zaman modern, mata-mata musuh yang tertangkap di zaman Yunani kuno mendapat hukuman berat.
Ketika perang berlangsung di zaman Yunani kuno, para jenderal dan negarawan mengandalkan spionase untuk mengungkap niat dan kemampuan musuh mereka. Filsuf Plato meyakini, negara-negara Yunani kuno selalu dalam keadaan perang, baik yang dideklarasikan maupun tidak.
Belum ada sumber yang jelas mengenai praktik spionase di zaman Yunani kuno. Kendati demikian, ada cukup bukti yang memberikan gambaran meyakinkan tentang pengumpulan intelijen rahasia di zaman tersebut.
Dalam sebuah makalah akademis yang diterbitkan dalam jurnal Greece & Rome, sejarawan J. A. Richmond menjelaskan bagaimana mata-mata digunakan dalam berbagai skenario di Yunani kuno.
Orang Yunani kuno memahami pentingnya informasi dalam peperangan. Misalnya, pada pertengahan abad keempat SM, Aeneas Tacitus, seorang penulis militer Yunani yang terkenal, menekankan pentingnya apa yang sekarang kita kenal sebagai Intelijen Militer. Ia menekankan peran penting memiliki pengetahuan yang luas tentang geografi negara sendiri dalam melakukan peperangan defensif secara efektif. Demikian dikutip dari Greek Reporter, Kamis (15/5).
Menurut Richmond, orang-orang Yunani kuno mendapatkan informasi intelijen melalui berbagai metode. Pelabuhan merupakan tempat yang sangat tepat untuk memperoleh informasi dan intelijen. Para pedagang merupakan salah satu orang yang paling sering bepergian di zaman kuno dan membawa berita dari tempat-tempat yang jauh. Para duta besar asing juga bisa menjadi sumber yang berharga.
Ada juga peluang untuk menyebarkan informasi yang salah. Misalnya, konsep Yunani kuno tentang xenia atau keramahtamahan, dapat dimanfaatkan. Tamu asing pada umumnya diharapkan untuk memberikan nasihat kebijakan luar negeri yang baik dan jujur jika ditanya, tetapi tamu yang kurang teliti mungkin memberikan informasi yang menyesatkan untuk membingungkan calon musuh.
Mereka yang ketahuan menjadi mata-mata bisa dihukum berat. Mata-mata musuh di Athena biasanya disiksa dan bahkan dihukum mati. Salah satu mata-mata yang dihukum mati adalah pria bernama Anaxinus, yang mengaku berada di Athena untuk membeli barang-barang untuk ratu Makedonia.
Mata-mata juga dapat melakukan sabotase. Bertindak sebagai agen Raja Philip II dari Makedonia, Antiphon berusaha membakar gudang senjata Athena di Piraeus. Antiphon ditangkap dan dihukum mati karena percobaan pembakaran.
Spionase Alexander Agung
Alexander Agung kemungkinan mewarisi pemahaman tentang spionase dan cara-cara rahasia dari ayahnya, Philip, yang menggunakan agen dan suap untuk menyusup dan melemahkan Athena.
Menurut Plutarch, Alexander muda sangat ingin menanyai para duta besar Persia yang mengunjungi kerajaan ayahnya. Sejak usia muda, pikirannya sudah terbiasa dengan dimensi perang, dan ia bertanya kepada para duta besar tentang panjang jalan di Asia Kecil dan keterampilan raja Persia sebagai seorang komandan.
Menurut sejarawan D. Engles, sumber-sumber kuno tentang sistem intelijen Alexander terpisah-pisah dan tidak jelas. Sulit untuk menentukan prosedur apa yang digunakan mata-mata, pengintai, dan agen Alexander untuk mengungkap intelijen. Ketika intelijen disebutkan dalam sumber-sumber Yunani kuno, sedikit yang disebutkan tentang mata-mata itu sendiri, dan fokusnya malah diberikan pada penggunaan intelijen itu oleh Alexander.
Meskipun demikian, Egnles berpendapat bahwa Alexander mengirimkan utusan diplomatik ke negara-negara tetangga untuk memperoleh informasi intelijen tingkat strategis sebelum melancarkan kampanye militer. Ia juga menginterogasi pejabat tinggi dari negara-negara tersebut untuk memperoleh informasi lebih lanjut sebelum melancarkan invasi.
Dalam hal intelijen taktis selama kampanye, Alexander akan mengandalkan berbagai sumber, seperti pemandu lokal dan pengintainya sendiri. Mengungkap geografi wilayah untuk keperluan logistik sama pentingnya dengan menemukan komposisi pasukan musuh sebelum pertempuran.