Profil Sanae Takaichi: Drummer Heavy Metal yang Siap Jadi PM Jepang Pertama
Kombinasi antara sikap politik yang kuat dan kepribadian yang khas membuat Takaichi menjadi salah satu tokoh yang paling menonjol dalam dunia politik Jepang.
Sanae Takaichi baru saja terpilih menjadi pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), sebuah kemenangan yang mengantarkannya pada kemungkinan menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang.
Pemilihannya terjadi dalam situasi sulit bagi partai, yang telah kehilangan mayoritas di parlemen akibat berbagai skandal dan kekalahan dalam pemilu.
Meskipun dikenal sebagai politikus ultra-konservatif, Takaichi memiliki latar belakang yang unik: ia pernah menjabat sebagai menteri dan juga menjadi pembawa acara televisi.
Selain itu, di luar dunia politik, ia dikenal sebagai seorang drummer dalam genre musik heavy metal.
Menurut BBC, Takaichi yang merupakan murid politik mendiang Shinzo Abe, berkomitmen untuk melanjutkan warisan gurunya.
Ia berjanji untuk menghidupkan kembali Abenomics, yang merupakan strategi ekonomi yang mengandalkan belanja fiskal besar-besaran dan pinjaman dengan suku bunga rendah.
Takaichi juga memiliki pandangan sosial yang cukup tegas: ia menolak legalisasi pernikahan sesama jenis dan menentang perubahan hukum yang memungkinkan perempuan untuk mempertahankan nama keluarga asal setelah menikah.
Hal ini sejalan dengan tradisi di Jepang yang mengharuskan pasangan untuk berbagi nama keluarga yang sama.
Selain itu, ia secara rutin melakukan ziarah ke Kuil Yasukuni, yang merupakan tempat peringatan perang yang sering memicu kontroversi karena menghormati para penjahat perang.
Pemimpin wanita yang kuat dari Jepang
Kursi kepemimpinan partai yang saat ini dipegang oleh Takaichi datang dengan berbagai tantangan yang signifikan.
Ia dihadapkan pada tugas untuk memulihkan LDP yang terpecah akibat skandal dan kekalahan dalam pemilu, serta harus menjawab keresahan masyarakat terkait kondisi perekonomian yang stagnan.
Inflasi yang terus meningkat semakin membebani rumah tangga, sementara kenaikan upah belum terlihat.
Di tingkat internasional, Takaichi juga harus menangani hubungan Jepang dengan Amerika Serikat yang kini tengah mengalami ketegangan, khususnya terkait kesepakatan tarif.
Menurut laporan AP, Takaichi dikenal sebagai seorang China hawk, yaitu seorang politisi yang sering menunjukkan sikap tegas dan berhati-hati terhadap kebijakan yang diambil oleh Beijing.
Reuters menyebutkan bahwa dalam kebijakan luar negerinya, ia menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan Taiwan, yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut dengan China.
Takaichi telah lama mengagumi Margaret Thatcher, perdana menteri perempuan pertama Inggris, dan ia sering menyebut dirinya sebagai "Thatcher Jepang" untuk menunjukkan keteguhan dan disiplin politik yang ia anut.
Meskipun kekagumannya terhadap Thatcher, hal itu tidak otomatis membuatnya diakui sebagai pejuang perempuan.
Profesor Jeff Kingston dari Temple University Tokyo menilai bahwa Takaichi memiliki kekuatan dalam menarik dukungan dari sayap kanan, tetapi kurang memiliki daya tarik yang luas di kalangan publik.
Kingston menilai bahwa Takaichi belum banyak berkontribusi untuk mendorong kesetaraan gender, meskipun ia kini memiliki peluang besar untuk menjadi perdana menteri perempuan pertama di Jepang.