Sanae Takaichi Ukir Sejarah sebagai Perdana Menteri Perempuan Pertama Jepang
Perempuan berusia 64 tahun yang dikenal sebagai "Iron Lady" Jepang ini merupakan pengagum setia mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher.
Parlemen Jepang pada hari Selasa (21/10/2025) memilih Sanae Takaichi, seorang politikus ultrakonservatif, sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah negara tersebut.
Pemilihan ini terjadi sehari setelah partai Takaichi yang sedang mengalami kemunduran berhasil menjalin kesepakatan koalisi dengan mitra baru, yang diperkirakan akan menggeser blok pemerintahannya semakin ke arah kanan.
Takaichi menggantikan Shigeru Ishiba, yang selama tiga bulan terakhir terlibat dalam persaingan politik menyusul kekalahan signifikan Partai Demokrat Liberal (LDP) dalam pemilu bulan Juli.
Ishiba, yang hanya memimpin selama satu tahun, mengundurkan diri beserta kabinetnya pada pagi hari yang sama, memberi jalan bagi Takaichi untuk mengambil alih.
Koalisi mendadak antara LDP dan Partai Inovasi Jepang (Japan Innovation Party/JIP) yang berbasis di Osaka, juga dikenal dengan nama Ishin no Kai, memastikan posisi Takaichi sebagai perdana menteri, meskipun pihak oposisi tidak bersatu.
Namun, aliansi baru ini masih belum memiliki suara mayoritas di kedua majelis parlemen dan perlu mengajak kelompok oposisi lainnya untuk meloloskan undang-undang, yang dapat menimbulkan risiko bagi stabilitas pemerintahannya.
"Stabilitas politik sangat penting saat ini," ungkap Takaichi pada upacara penandatanganan kesepakatan dengan pemimpin JIP, Gubernur Osaka Hirofumi Yoshimura, pada hari Senin (20/10), seperti yang dilaporkan oleh Associated Press.
"Tanpa stabilitas, kami tidak bisa mendorong kebijakan untuk memperkuat ekonomi atau diplomasi," tambahnya.
Kedua partai telah menandatangani perjanjian koalisi yang mencerminkan pandangan Takaichi yang keras dan berorientasi nasionalis.
Kesepakatan ini muncul setelah LDP kehilangan mitra lamanya, Komeito, yang merupakan partai berhaluan Buddhis dengan sikap yang lebih moderat dan sentris.
Perpecahan ini mengancam keberlangsungan kekuasaan LDP, yang telah memerintah Jepang selama beberapa dekade tanpa henti.
Pada hari yang sama, Takaichi diharapkan mengumumkan kabinet yang kemungkinan besar akan terdiri dari sejumlah sekutu Taro Aso, seorang kingmaker yang paling berpengaruh di LDP, serta beberapa tokoh lain yang mendukungnya dalam pemilihan kepemimpinan partai.
"JIP tidak akan memegang jabatan menteri dalam kabinet Takaichi sampai partai tersebut yakin dengan kemitraannya bersama LDP," ujar Yoshimura.
Berlomba dengan Waktu
Takaichi sedang berusaha keras untuk memenuhi tenggat waktu yang ketat. Ia harus menyampaikan pidato kebijakan utama pada akhir pekan ini, berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan menghadiri sejumlah pertemuan puncak regional.
Selain itu, ia juga harus segera menangani masalah kenaikan harga serta merumuskan langkah-langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebelum akhir Desember, demi meredakan kekecewaan publik.
Meskipun menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai perdana menteri Jepang, Takaichi tampaknya tidak terburu-buru dalam memajukan isu kesetaraan gender dan keberagaman.
Takaichi merupakan salah satu politikus Jepang yang cenderung menahan penerapan kebijakan untuk kemajuan perempuan.
Ia mendukung sistem suksesi kekaisaran yang hanya mengizinkan pewaris laki-laki dan menolak pernikahan sesama jenis serta penggunaan nama keluarga terpisah untuk pasangan suami istri.
Sebagai seorang murid politik dari mantan Perdana Menteri Shinzo Abe yang tewas dibunuh, Takaichi diperkirakan akan melanjutkan kebijakan Abe, termasuk memperkuat militer dan ekonomi, serta mendorong revisi konstitusi Jepang yang bersifat pasifis.
Namun, dengan cengkeraman kekuasaan yang mungkin tidak kuat, belum jelas seberapa jauh Takaichi dapat mewujudkan rencananya.
Ketika Komeito menarik diri dari koalisi pemerintahan, mereka menuduh LDP bersikap longgar terhadap skandal dana gelap, yaitu praktik penyembunyian dana politik dari penggalangan dana partai, yang mengakibatkan kekalahan beruntun mereka dalam pemilu.
Partai yang berhaluan moderat ini juga mengungkapkan keprihatinan atas pandangan revisionis Takaichi mengenai sejarah perang Jepang, serta kebiasaannya berdoa di Kuil Yasukuni.
Tindakan tersebut sering kali memicu protes dari Beijing dan Seoul karena dianggap menunjukkan kurangnya penyesalan atas agresi Jepang di masa lalu, serta pernyataannya yang belakangan bernada xenofobik.
Takaichi berusaha meredakan retorikanya yang tajam; pada hari Jumat, ia memilih untuk mengirimkan persembahan keagamaan ke Kuil Yasukuni daripada mengunjunginya secara langsung.