Polisi Israel Larang Masuk Jurnalis Asing yang Kritis terhadap Israel, Artikel Mereka Dipantau
Jurnalis Italia Alessandro Stefanelli dilarang masuk Israel karena menulis artikel yang dianggap kritis terhadap Tel Aviv.
Polisi Israel memantau jurnalis asing yang mengkritik Israel dan merekomendasikan agar mereka dilarang memasuki negara itu, demikian laporan harian Israel Haaretz pada Selasa.
“Polisi Israel memantau artikel para jurnalis asing dan merekomendasikan penolakan masuk bagi reporter yang kritis terhadap Israel,” tulis surat kabar tersebut, mengutip sejumlah dokumen, seperti dilansir Anadolu, Rabu (20/5).
Haaretz mengatakan salah satu dokumen yang diperolehnya berisi ulasan terhadap artikel-artikel jurnalis Italia Alessandro Stefanelli, yang ditolak masuk ke Israel pada Juli tahun lalu.
Peninjauan tersebut dilakukan oleh unit Distrik Yudea dan Samaria kepolisian Israel yang menangani kejahatan nasionalis, kata surat kabar itu.
Ditahan Lima Jam
Stefanelli, seorang jurnalis lepas, pernah menerbitkan artikel di The Atlantic, Libération di Prancis, serta La Repubblica dan La Stampa di Italia.
Jurnalis Italia itu menghubungi Kedutaan Besar Israel, tetapi tidak menerima penjelasan atas keputusan tersebut, menurut laporan Haaretz.
Ia kemudian mencoba memasuki Israel dari Yordania melalui Jembatan Allenby, yang juga dikenal sebagai Jembatan Raja Hussein, di mana ia ditahan dan diinterogasi oleh Otoritas Kependudukan dan Imigrasi Israel. Setelah lima jam, ia diberitahu bahwa dirinya dilarang masuk dan dipulangkan ke Yordania.
Menurut Haaretz, dokumen interogasi yang diberikan kepada Stefanelli menyebutkan bahwa ia dipindahkan ke “penanganan aparat keamanan karena diperlukan menjalani penyelidikan keamanan.”
Otoritas Kependudukan dan Imigrasi mengutip dokumen kepolisian yang merekomendasikan agar ia ditolak masuk karena menuduh Israel menerapkan “apartheid” di Tepi Barat yang diduduki.
Rezim Apartheid
Dokumen polisi tersebut menggambarkan Stefanelli sebagai “jurnalis dan fotografer yang memberikan liputan sepihak tentang Israel,” tulis surat kabar itu. Dokumen tersebut berisi tautan dan tangkapan layar dari tiga artikelnya serta satu unggahan di akun X miliknya.
Tautan pertama mengarah pada esai foto Stefanelli mengenai minimnya tempat perlindungan bom dan area aman di desa-desa Badui tak diakui di Negev, wilayah selatan Israel, menurut Haaretz.
Tautan kedua tidak mengarah ke artikel apa pun, tetapi polisi menyebut Stefanelli menuduh Israel menciptakan “rezim apartheid” di Tepi Barat.
Bantahan Jurnalis Italia
Tautan ketiga mengarah pada artikel singkat yang diterbitkan di surat kabar Italia Il Manifesto mengenai polusi lingkungan dan pelanggaran hak-hak buruh di kawasan industri Nitzanei Shalom dekat Tulkarem di Tepi Barat bagian utara.
Media Israel sebelumnya juga memberitakan kawasan industri tersebut dalam sejumlah artikel yang menyoroti diskriminasi terhadap pekerja Palestina dan risiko lingkungan di area itu, tambah Haaretz.
Stefanelli membantah seluruh tuduhan terhadap dirinya.
“Tuduhan ini sangat tidak masuk akal — mereka menempatkan saya dalam daftar yang sama dengan teroris,” katanya kepada Haaretz.
“Ini hanyalah foto-foto yang bisa saja diambil fotografer lain dari Tepi Barat. Saya kesulitan memahami bagaimana seorang polisi di negara demokrasi bisa menulis hal-hal seperti itu. Anda hanya bisa membuat dokumen seperti itu jika tahu ada hakim yang akan mempercayainya,” tambah jurnalis tersebut.