PM Australia Dievakuasi Selama 3 Jam, Alasan Insiden Keamanan
Polisi Australia menegaskan bahwa saat ini tidak ada ancaman yang berpotensi membahayakan masyarakat atau keselamatan publik.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, telah dievakuasi dari kediaman resminya, The Lodge, yang terletak di Canberra, akibat insiden keamanan yang terjadi pada Selasa (24/2) pukul 18.00 waktu setempat. Kejadian ini memicu respons besar dari kepolisian, sehingga Albanese harus dipindahkan ke lokasi lain selama beberapa jam demi keselamatan.
Kepolisian Federal Australia (AFP) mengonfirmasi bahwa mereka sedang menangani "dugaan insiden keamanan" di kediaman resmi perdana menteri. Dalam pernyataan resmi mereka, AFP menjelaskan bahwa mereka telah melakukan pemeriksaan menyeluruh di lokasi yang dilindungi tersebut.
"Pemeriksaan menyeluruh terhadap lokasi yang berada di bawah pengamanan khusus telah dilakukan dan tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan," demikian pernyataan AFP seperti dikutip dari ABC.
AFP bertanggung jawab atas perlindungan anggota parlemen federal dan sejumlah gedung milik pemerintah persemakmuran, termasuk The Lodge dan Gedung Parlemen. Juru bicara perdana menteri menyatakan kepercayaannya kepada AFP untuk menjalankan tugasnya dan mengucapkan terima kasih atas upaya yang telah dilakukan. AFP juga menyampaikan bahwa mereka akan merilis informasi lebih lanjut mengenai insiden ini.
The Lodge adalah kediaman resmi PM Australia yang berlokasi di Canberra, dan tempat tersebut juga menjadi saksi pernikahan Albanese dengan Jodie Haydon pada bulan November lalu. Mengacu pada laporan dari kantor berita Xinhua, PM Albanese telah kembali ke The Lodge setelah dievakuasi selama tiga jam.
Ancaman Terhadap Politisi Meningkat
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya risiko terhadap para politisi Australia dari berbagai latar belakang politik. Sebelumnya, senator independen Lidia Thorpe dan Fatima Payman menerima surat ancaman. Pada pertengahan tahun 2024, AFP melaporkan bahwa jumlah ancaman terhadap keselamatan politisi federal telah meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Di awal Februari, seorang pria berusia 33 tahun di Melbourne ditangkap karena diduga mengancam akan membunuh dan membuat komentar antisemitisme terhadap seorang anggota parlemen federal.
Polisi mengungkapkan bahwa pria tersebut menggunakan media sosial dan email untuk menghubungi seorang anggota parlemen federal yang berasal dari New South Wales beberapa kali pada bulan Januari, dengan mengirimkan ancaman pembunuhan dan komentar antisemitisme.
Menanggapi situasi yang mengkhawatirkan ini, Albanese menyatakan bahwa pengaturan keamanan untuk politisi federal akan terus dipantau secara berkala. "Kita memang hidup dalam situasi di mana jumlah ancaman terhadap wakil rakyat terpilih telah meningkat secara signifikan," ungkap Albanese saat itu.
Tim Khusus Investigasi
Pada bulan Oktober 2025, AFP membentuk sebuah tim investigasi keamanan nasional dengan tujuan untuk menangani kelompok dan individu yang menyebabkan kerugian signifikan terhadap kohesi sosial di Australia. Tim ini juga memfokuskan perhatian pada ancaman yang ditujukan kepada anggota parlemen federal.
Komisioner AFP, Krissy Barrett, mengungkapkan bahwa sejak tim tersebut dibentuk, sebanyak 21 orang telah didakwa di seluruh wilayah Australia. Kebanyakan dari dakwaan tersebut berkaitan dengan ancaman yang ditujukan kepada anggota parlemen, pejabat tinggi negara, dan komunitas Yahudi.
Barrett menyatakan bahwa ia menerima laporan harian yang merangkum berbagai ancaman serta komunikasi yang bersifat ofensif dan kasar terhadap para anggota parlemen dalam 24 jam terakhir. Ia juga menambahkan bahwa, pada hari-hari tertentu, isi laporan tersebut dapat sangat panjang. Dalam insiden terpisah, seorang pria dinyatakan bersalah pada 10 Februari karena menggunakan media sosial untuk mengancam, melecehkan, dan menyinggung Perdana Menteri Albanese. Pengadilan mendengar bahwa ancaman pembunuhan serta hinaan kasar telah ditujukan kepada perdana menteri dan istrinya.
Albanese, bersama dengan para menteri seniornya, telah berulang kali menyerukan agar ketegangan politik segera diturunkan. Hal ini dilakukan di tengah meningkatnya konflik sosial yang semakin memperkeruh situasi domestik.