Timnas Turki akan menandai kembalinya mereka ke panggung Piala Dunia setelah 24 tahun absen. Pertandingan perdana mereka di Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada Minggu (14/6) pukul 11.00 WIB di Stadion BC Place Vancouver, Kanada. Ini menjadi penampilan ketiga Turki di Piala Dunia setelah edisi 1954 di Swiss dan 2002 di Korea Selatan dan Jepang.
Di bawah asuhan pelatih Vincenzo Montella, Turki mengusung gaya permainan menyerang yang produktif dan atraktif. Mereka akan diuji oleh Timnas Australia yang dikenal dengan pertahanan solid dan strategi serangan balik mematikan. Laga ini menjanjikan duel taktik menarik antara dua filosofi sepak bola yang berbeda.
Pertandingan ini menjadi pembuktian bagi generasi emas Turki yang dipimpin oleh Arda Guler dan Kenan Yildiz. Sementara itu, Australia siap memberikan kejutan dengan filosofi bermain yang nyaman tanpa bola. Pertemuan antara Turki dan Australia ini akan menjadi salah satu sorotan awal di Piala Dunia 2026.
Advertisement
Advertisement
Kebangkitan Turki di Bawah Montella
Timnas Turki kembali ke Piala Dunia 2026 setelah absen panjang sejak edisi 2002. Pelatih asal Italia, Vincenzo Montella, menjadi arsitek di balik kebangkitan “Bulan Sabit-Bintang” ini. Montella berhasil menyulap Turki menjadi tim dengan pendekatan permainan menyerang yang agresif dan efektif.
Generasi muda seperti gelandang Real Madrid Arda Guler dan penyerang Juventus Kenan Yildiz menjadi motor serangan Turki. Mereka berhasil membawa negaranya lolos setelah mengalahkan Kosovo dengan skor 1-0 pada babak final Playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 Jalur C zona Eropa. Mayoritas penghuni skuad Turki saat ini masih bocah ingusan ketika negara mereka tampil di Piala Dunia 2002, bahkan Guler dan Yildiz sama sekali belum lahir.
Produktivitas Turki terlihat dari torehan 18 gol dalam delapan laga kualifikasi zona Eropa, dengan rata-rata 2,25 gol setiap pertandingan. Kemenangan terbesar mereka termasuk membantai Bulgaria 6-1 dan mengalahkan Georgia 4-1. Guler menyumbang satu gol dan empat assist, sementara Yildiz mencetak tiga gol selama kualifikasi.
Advertisement
Sebelum Piala Dunia 2026, Turki juga menunjukkan performa impresif dengan sembilan laga terakhir tanpa kekalahan. Mereka meraih kemenangan telak 4-0 atas Makedonia Utara dan menundukkan Venezuela 2-1 dalam laga pemanasan. Dua kemenangan ini menjadi modal positif bagi Turki menghadapi Australia.
Advertisement
Strategi Bertahan Australia dan Ancaman Serangan Balik
Berbeda dengan Turki, Timnas Australia di bawah asuhan Tony Popovic mengusung filosofi bermain lebih bertahan. Latar belakang Popovic sebagai mantan bek tengah sangat memengaruhi gaya permainan “Socceroos” yang nyaman tanpa bola. Mereka akan mencoba memancing Turki untuk menguasai pertandingan penuh.
Australia lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 bersama Jepang dari Grup C sebagai runner-up. Pertahanan mereka sangat solid selama kualifikasi zona Asia, hanya kebobolan tujuh gol dari 10 laga. Rekor ini menempatkan mereka sebagai salah satu tim dengan pertahanan terbaik di kualifikasi, bersama Uzbekistan.
Senjata utama Australia adalah transisi cepat dan serangan balik mematikan. Mereka mencetak 16 gol selama babak kualifikasi, menunjukkan efektivitas serangan balik yang terorganisir. Strategi ini berpotensi menyakiti Turki yang memiliki kelemahan di lini pertahanan, terbukti dari 12 gol yang bersarang ke gawang mereka di kualifikasi, termasuk enam gol saat kalah 0-6 dari Spanyol.
Advertisement
Selain itu, Australia juga memiliki keunggulan fisik dengan pemain-pemain berpostur besar, yang berbahaya dari skema bola mati. Kapten Turki, Hakan Calhanoglu, mengakui ancaman ini. “Kami tahu Australia adalah tim yang kuat secara fisik dan berbahaya dalam situasi tendangan sudut maupun tendangan bebas karena mereka memiliki pemain-pemain yang tinggi dan kuat,” katanya.
Advertisement
Rekor Pertemuan dan Ambisi Montella
Menurut catatan 11v11, Turki dan Australia baru bertemu dua kali, keduanya dalam laga persahabatan pada Mei 2004. Saat itu, Turki berhasil memenangkan kedua pertandingan dengan skor 3-1 dan 1-0. Rekor ini menjadi modal positif bagi “Bulan Sabit-Bintang” menjelang laga pembuka Piala Dunia 2026.
Vincenzo Montella, yang baru menangani Turki sejak September 2023, telah membawa tim ini meraih 20 kemenangan, lima seri, dan delapan kekalahan dari 33 pertandingan. Ia sebelumnya sukses mengantarkan Turki mencapai perempat final Piala Eropa 2024. Montella memiliki ambisi besar untuk Piala Dunia kali ini.
Montella optimis dengan peluang Turki di Grup D Piala Dunia 2026, yang juga dihuni Amerika Serikat dan Paraguay. Meski demikian, ia tidak meremehkan lawan. “Saya pikir ini adalah grup yang sangat seimbang, dan keempat tim tentu berharap bisa lolos dari fase grup,” kata Montella.
Advertisement
Pelatih asal Italia ini menambahkan, “Sejujurnya, saya tidak merasa ada tim yang lebih kuat atau lebih lemah dibanding tim lainnya. Kalau pun ada perbedaan, mungkin justru kami bisa dianggap sebagai tim keempat di antara mereka.” Pernyataan ini menunjukkan kewaspadaan Montella terhadap kekuatan merata di grup tersebut, sekaligus ambisinya untuk membawa Turki melangkah jauh.
Sumber: AntaraNews