Paus Leo XIV Peringatkan AI Tantangan Terbesar Umat Manusia
Paus Leo XIV menekankan bahwa kecerdasan buatan merupakan tantangan signifikan bagi umat manusia.
Paus Leo XIV mengungkapkan visinya untuk masa depan kepausannya pada Sabtu (10/5), dengan menyoroti kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini. Ia juga menegaskan komitmennya untuk melanjutkan beberapa prioritas utama yang telah diwariskan oleh pendahulunya, Paus Fransiskus.
Paus Leo XIV melaksanakan perjalanan pertamanya sebagai paus dengan mengunjungi tempat suci Madonna di Genazzano, yang terletak di selatan Roma. Lokasi ini memiliki keterikatan yang kuat dengan ordo Augustinian tempat ia berasal, serta dengan Paus Leo XIII, sosok yang menjadi inspirasi bagi namanya. Warga Genazzano pun berbondong-bondong memadati alun-alun di depan gereja utama yang menaungi tempat suci Madre del Buon Consiglio (Bunda Penasihat yang Baik) untuk menyambut kedatangan Leo, seperti yang dikutip dari laman AP, Minggu (11/5).
Tempat suci ini, yang dikelola oleh para biarawan Augustinian, telah menjadi tujuan ziarah sejak abad ke-15. Paus Leo XIII pernah mengangkatnya menjadi basilika kecil dan memperluas biara yang ada di sebelahnya pada awal tahun 1900-an. Setelah berdoa di dalam gereja, Leo XIV menyapa masyarakat setempat, mengingatkan mereka bahwa kehadiran Bunda Maria merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab yang besar. Setelah memberikan berkat, ia kembali ke mobil Volkswagen hitam yang menemaninya.
Dalam perjalanan kembali ke Vatikan, ia menyempatkan diri untuk singgah di Basilika Santa Maria Maggiore guna berdoa di makam Santo Fransiskus. Kunjungan ini dilakukan setelah Leo memimpin audiensi resmi pertamanya dengan para kardinal yang telah memilihnya. Dalam pertemuan tersebut, Leo mengutip banyak pernyataan misi Paus Fransiskus dari tahun 2013, yang menegaskan kembali komitmennya terhadap gereja yang inklusif, berfokus pada mereka yang terpinggirkan, serta mengutamakan perhatian terhadap yang paling kecil dan terpinggirkan.
Sebagai paus pertama dari Amerika, Leo menegaskan tekadnya untuk terus mendorong reformasi Konsili Vatikan II, sebuah gerakan besar yang terjadi pada tahun 1960-an yang bertujuan untuk memodernisasi Gereja Katolik. Ia menekankan bahwa AI merupakan tantangan utama di zaman sekarang, dengan dampak yang signifikan terhadap martabat manusia, keadilan sosial, serta dunia kerja.
Ciri-ciri Awal Kepemimpinan yang Baru
Vatikan telah mengungkapkan beberapa informasi mengenai identitas simbolis Leo XIV. Ia mempertahankan moto dan lambang yang digunakannya saat menjabat sebagai Uskup Chiclayo di Peru. Motto yang digunakan, "In Illo uno unum" -- yang diambil dari khotbah Santo Agustinus -- menekankan pentingnya persatuan umat Kristen dalam satu Kristus. Lambang yang dipilihnya menunjukkan ikon khas Augustinian: hati yang menyala dan tertusuk serta sebuah buku yang melambangkan Kitab Suci. Selain itu, Leo juga tetap mengenakan salib dada yang diberikan oleh ordo Augustinian saat ia diangkat menjadi kardinal pada tahun 2023. Salib tersebut menyimpan relikui Santo Agustinus dan ibunya, Santa Monica, yang merupakan dua tokoh penting dalam sejarah Gereja awal.
Dalam pidato yang disampaikan, Leo XIV menjelaskan alasan di balik pemilihan nama kepausannya. Ia terinspirasi oleh Paus Leo XIII, yang memimpin gereja dari tahun 1878 hingga 1903 dan meletakkan dasar pemikiran sosial Katolik modern melalui ensiklik Rerum Novarum pada tahun 1891. Ensiklik ini membahas hak-hak pekerja dan mengkritik ekstremisme dari kapitalisme serta sosialisme.
"Di zaman kita sendiri, gereja menawarkan ajaran sosialnya sebagai jawaban atas revolusi industri baru dan tantangan yang ditimbulkan oleh perkembangan kecerdasan buatan," kata Leo.
Isu mengenai AI memang semakin menjadi perhatian Vatikan. Di akhir masa kepausannya, Paus Fransiskus sering kali memperingatkan tentang ancaman yang bisa ditimbulkan oleh AI terhadap kemanusiaan dan bahkan menyerukan adanya perjanjian internasional untuk mengaturnya. Leo XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai Robert Prevost, dianggap sebagai salah satu figur kepercayaan Paus Fransiskus. Setelah menjabat sebagai Uskup Chiclayo, Peru, ia dipanggil ke Roma untuk memimpin salah satu kantor Vatikan yang sangat penting, yang bertugas mengawasi nominasi uskup, sehingga memperkuat pandangan bahwa Leo adalah penerus spiritual yang disiapkan oleh Paus Fransiskus.