Mungkinkah Paus yang Terpilih dalam Konklaf Berasal dari Negara Muslim? Begini Analisis Pengamat
Kepausan secara historis dipegang oleh para kardinal dari negara-negara dengan mayoritas Katolik.
Sebuah momen bersejarah siap terukir di Kota Vatikan, saat para kardinal dari seluruh dunia berkumpul dalam konklaf untuk memilih Paus baru. Namun, tahun ini, sorotan tidak hanya tertuju pada Eropa, pusat tradisional Gereja Katolik, melainkan juga pada negara-negara minoritas Katolik, termasuk Indonesia.
Jika ditelusuri kembali ke akar bahasa Latinnya, istilah "konklaf" secara kasar diterjemahkan menjadi "di bawah kunci dan gembok," menurut Kathleen Sprows Cummings, seorang pakar Paus Fransiskus yang diakui secara nasional dan profesor Studi dan Sejarah Amerika di Universitas Notre Dame.
Dilansir ABC News, dari 135 kardinal elektor yang akan memberikan suara, hanya 52 berasal dari Eropa. Asia, Afrika, dan Amerika Latin kini memiliki representasi yang jauh lebih besar dibanding konklaf sebelumnya. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Indonesia, negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.
Peluang semakin terbuka
Meski nama Kardinal Suharyo jarang disebut dalam spekulasi kandidat paus, kehadirannya menyiratkan perubahan arah dalam Gereja Katolik global. Paus Fransiskus sendiri, dalam kunjungannya ke Indonesia pada tahun 2024, memuji Gereja Katolik di negeri ini sebagai komunitas kecil namun "hidup dan dinamis".
“Gereja Katolik di Indonesia, meski hanya mencakup 3% dari populasi, menunjukkan kekuatan spiritual yang luar biasa dalam keragaman budaya,” ujar Paus Fransiskus saat itu.
Dalam wawancara, Dr. Joel Hodge, pakar teologi dari Universitas Katolik Australia, menyatakan bahwa peluang paus dari negara non-Katolik semakin terbuka.
Yang penting bukan asal negaranya
"Geopolitik jelas menjadi pertimbangan. Yang terpenting bukan asal negaranya, tapi teologi, spiritualitas, dan gaya kepemimpinannya,” jelasnya. “Bahkan negara seperti Mongolia kini punya kardinal. Ini perkembangan signifikan.”
Sementara itu, banyak yang melihat konklaf kali ini sebagai titik balik, saat suara dari pinggiran dari negara-negara seperti Timor Leste, Filipina, dan Indonesia mulai diperhitungkan dalam pengambilan keputusan tertinggi Gereja.
Meski Kardinal Suharyo tidak secara terbuka menyatakan ambisi untuk menjadi paus, sosoknya dikenal blak-blakan dan progresif. Karakter ini mungkin mencerminkan kebutuhan zaman, yakni pemimpin yang tidak hanya rohani, tetapi juga mampu menjawab tantangan sosial-politik global secara bijak.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey