Menelusuri Keberadaan Harta Karun Nabi Sulaiman yang Telah Lama Hilang, Apa Saja Isinya?
Nabi Sulaiman yang juga seorang raja disebutkan memiliki kekayaan yang tertandingi. Namun harta itu lenyap saat kerajaannya diserang pasukan Babilonia.
Nabi Sulaiman yang juga seorang raja disebutkan memiliki kekayaan yang tertandingi. Namun harta itu lenyap saat kerajaannya diserang pasukan Babilonia.
Menelusuri Keberadaan Harta Karun Nabi Sulaiman yang Telah Lama Hilang, Apa Saja Isinya?
Menelusuri Keberadaan Harta Karun Nabi Sulaiman yang Telah Lama Hilang, Apa Saja Isinya?
Dalam Alkitab Ibrani, raja ketiga Israel, Sulaiman atau Nabi Sulaiman, digambarkan sebagai sosok raja yang bijak, kuat, dan kaya raya. Nabi Sulaiman berkuasa antara tahun 965 dan 925 SM.
Di dalam Alquran, Nabi Sulaiman juga disebut memiliki istana yang sangat indah.
Kerajaan Nabi Sulaiman juga digambarkan sangat makmur, seperti yang tertulis dalam Book of Kings I.
Dia membangun istana-istana megah dan benteng di Yerusalem, juga membuat bangunan khusus untuk menyimpan Tabut Perjanjian, kotak berlapis emas yang diyakini menyimpan Sepuluh Perintah asli yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Musa.
Lenyapnya Tabut Perjanjian
Namun ketika bangunan suci itu dihancurkan pasukan Babilonia pada tahun 597 dan 586 SM, disebutkan bahwa Tabut Perjanjian dan harta karun lainnya lenyap dan tidak pernah terlihat lagi.
Menelusuri Jejak Harta Karun
Kekayaan Nabi Sulaiman yang tidak tertandingi ini membuat banyak pihak meyakini ada harta karun besar yang tersembunyi di suatu tempat, dan menunggu untuk ditemukan. Namun harta karun ini belum jelas isinya dan kemungkinan berupa benda yang terbuat dari emas dan perak sampai Tabut Perjanjian.
Isi Harta Karun Nabi Sulaiman
Dalam sebuah naskah Ibrani, Risalah Kapal, harta karun Nabi Sulaiman ini disebutkan berupa Tabut Perjanjian, alat musik emas, kemah, dan jubah.
Cincin Ajaib
Benda lainnya juga disebutkan dalam sejumlah kisah legenda terkait Nabi Sulaiman. Sulaiman disebut memiliki sebuah cincin dengan ukiran nama Tuhan. Dengan cincin ini, Sulaiman bisa memerintah setan untuk melakukan apapun yang dimintanya.
Meja Emas
Artefak lainnya milik Nabi Sulaiman adalah sebuah meja, yang juga disinggung dalam kisah seputar penaklukan Islam atas Iberia. Dalam kisah ini, gubernur Maroko, Musa bin Nasyr sebagai komando pasukan penyerang, dan memerintahkan Tariq Ibn Ziyad, salah satu pengikut Berbernya, untuk memimpin barisan depan. Tariq mendarat di Gibraltar (nama ini konon merupakan turunan bahasa Spanyol dari Jabal Tariq, yang berarti 'Gunung Tariq'.)
Bahkan sebelum komandannya menyeberangi Selat Gibraltar, Tariq sudah mengalahkan Roderick, raja Visigoth, dan merebut ibukotanya, Toledo. Di kota inilah Tariq konon menemukan meja emas yang dikabarkan berasal dari Kuil Sulaiman, dan mengklaimnya sebagai rampasan perangnya.
Meja Emas
Ketika Ibn Nasyr tiba di Toledo, dia mendengar tentang meja emas tersebut, dan berhasrat memilikinya sehingga dia dapat memberikannya sebagai hadiah kepada Khalifah di Damaskus. Alhasil, meja tersebut dirampas dari Tariq. Pengikut Tariq jelas marah dengan tindakan Ibn Nasyr, mematahkan salah satu kaki meja, dan menggantinya dengan yang lebih rendah.
Meja itu kemudian diserahkan kepada khalifah. Namun sang khalifah menyadari kondisi meja itu tidak sesuai dengan aslinya.
Ketika diminta menjelaskan, Ibnu Nasyr hanya bisa menjawab bahwa menurutnya demikian. Thariq, yang juga hadir di Damaskus, kemudian mengambil kaki yang sebenarnya, sebagai bukti bahwa meja tersebut telah dirampas darinya. Thariq diberi hadiah, Ibnu Nasyr dihukum, dan meja yang disimpan Khalifah akhirnya hilang dari sejarah.
Karpet Terbang
Nabi Sulaiman juga disebut sebagai pemilik karpet sutra yang disimpan dalam kotak kayu cendana di Toledo. Karpet ini dibawa ke Toledo oleh orang Yahudi yang mengungsi ke daerah itu setelah keruntuhan Yerusalem. Dalam Legenda Pangeran Ahmed Al Kamel, karpet ini disebut bisa terbang dan digunakan oleh pangeran tersebut untuk terbang pulang ke Granada dengan seorang putri.
Pada tahun 589 SM, orang Babilonia di bawah Nebukadnezar II mengepung Yerusalem, yang berpuncak pada penghancuran kota dan Kuil Sulaiman pada musim panas tahun 587 SM. Harta Nabi Sulaiman lenyap, tidak pernah terlihat lagi.
Menurut Risalah Kapal atau Treatise of the Vessels, harta karun itu disembunyikan oleh sejumlah orang Lewi di berbagai lokasi di Tanah Israel dan di Babilonia, sementara yang lain diserahkan kepada para malaikat.Arkeolog dan sejarawan tidak yakin apakah Tabut Perjanjian dicuri, dihancurkan, atau disembunyikan, dan banyak yang terus mencari harta karun yang telah lama hilang ini.