Gadis Kecil di Gaza Ini Selamat dari Kobaran Api Akibat Bombardir Israel: ‘Dia Menyaksikan Ibu dan Kakaknya Terbakar Hidup-Hidup’
Video anak perempuan Palestina yang mencoba menyelamatkan diri dari kobaran api viral di media sosial.
Anak Palestina yang terekam saat menyelamatkan diri dari kobaran api akibat bombardir Israel selamat dari insiden tersebut. Namun ia harus menyaksikan ibu dan empat saudara kandungnya tewas terbakar api, sementara ayahnya masih dalam kondisi kritis. Israel mengebom sekolahnya pada Senin (26/5) dini hari.
Gadis dengan kuncir kuda pendek itu melangkah di atas puing-puing yang hancur dengan api berkobar di sekelilingnya. Ia mencoba melarikan diri dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
Anak berusia lima tahun dalam rekaman viral itu adalah Ward Jalal al-Sheikh Khalil. Ia terperangkap di dalam sebuah sekolah yang terlalap api, tempatnya berlindung selama serangan Israel.
Ward menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk bertahan hidup di tengah perang Israel di Gaza. Ia melarikan diri dari ruang kelas yang dibom di sekolah Fahmi al-Jerjawi setelah menyaksikan ibu dan empat saudara kandungnya terbakar hangus hingga syahid.
“Saya menerima panggilan telepon saat larut malam yang memberi tahu saya bahwa sekolah tempat saudara laki-laki dan keluarga saya berlindung dibom,” kata paman Ward, Iyad Muhammed al-Sheikh Khalil, seperti dikutip dari Middle East Eye pada Rabu (28/5).
“Saya panik dan ingin segera bergegas ke sana, tetapi tidak bisa. Pengeboman masih berlangsung intens dan hari sudah gelap gulita,” lanjut Iyad. Ia menunggu hingga fajar untuk bisa mencapai lokasi.
“Pemandangan yang mengerikan,” kata dia. “Asap masih mengepul dari ruang kelas. Bau darah tercium di mana-mana. Orang-orang hangus terbakar.”
Sekitar pukul 1 dini hari, pesawat tempur Israel menjatuhkan sedikitnya tiga bom di sekolah tersebut dan menewaskan lebih dari 35 orang. Menurut saksi mata dan korban yang selamat, orang-orang yang syahid di sekolah itu termasuk 18 anak-anak dan enam wanita.
Saudara laki-laki Iyad dan keluarganya tidur di kasur tipis yang mereka bawa selama beberapa kali pengungsian.
“Tidak ada kasur yang tersisa, hanya potongan tubuh dan daging berserakan di mana-mana,” ujar Iyad.
“Kami mulai mencari mayat-mayat itu, tetapi mereka sudah tercabik-cabik, jadi kami mulai mencari potongan tubuh sebagai gantinya,” katanya.
"Yang kami temukan adalah kaki dan tangan, hanya potongan-potongan seperti itu.”
Pria berusia 53 tahun itu kemudian diberi tahu bahwa saudara dan keponakan bungsunya, Ward, dibawa ke Rumah Sakit Baptis di sebelah timur Gaza.
“Saya bergegas ke rumah sakit dan mendapati Ward bersama kakak laki-lakinya Seraj yang berusia 16 tahun. Mereka berdua terluka,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa Ward sepenuhnya sadar atas apa yang terjadi karena dia langsung memberitahu Iyad siapa saja anggota keluarganya yang syahid. Bocah kecil itu menyaksikan kematian ibu dan keempat saudaranya, yakni Abd al-Rahman (17), Muhammed (14), Maria (13), dan Siwan (11). Ayahnya kini masih dirawat di unit perawatan intensif
“Ward memberitahu saya bahwa dia melihat mereka terbakar hidup-hidup hingga mati, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Ward mencoba melarikan diri dari api sebelum beberapa pria datang dan menariknya keluar,” jelas Iyad.
“Ward-lah yang mengenali jenazah ibu dan saudaranya setelah dibawa ke rumah sakit. Kami bahkan tidak bisa mengenali mereka karena jenazah mereka telah hangus dan rusak parah.”
Mencari Sisa-Sisa Jenazah
Di rumah sakit, Iyad mencoba menebak identitas beberapa jenazah berdasarkan detail kecil seperti potongan pakaian atau bentuk tangan atau jari. Ia kemudian meninggalkan saudaranya di unit perawatan intensif dan membawa Ward keluar dari rumah sakit karena hanya mengalami luka ringan.
“Begitu tiba di sekolah, dia melihat sandal saudara perempuannya dan langsung menangis tersedu-sedu. Masalah terbesarnya bukan hanya seluruh keluarganya yang terbunuh, tetapi dia sadar sepenuhnya atas apa yang terjadi,”
Jenazah orang-orang hilang sering kali ditinggalkan agar keluarga dapat menemukannya sendiri.
“Sekarang saya kembali ke sekolah untuk mencari mereka yang tersisa dengan mencari bagian-bagian tubuh mereka, tetapi kami tidak dapat menemukan apa pun,” lanjut Iyad.
“Kami bahkan tidak dapat memberikan mereka pemakaman yang layak.”
Namun, Iyad sekarang lebih khawatir bagaimana ia bisa menghapus kejadian ini dari ingatan keponakannya.
"Ia benar-benar hancur. Situasinya tidak dapat digambarkan. Saya tidak tahu bagaimana dia akan pulih, atau apakah ia akan bisa pulih." jelasnya.
Menurut Iyad, keponakannya tidak hanya selamat dari pengeboman dan tidak hanya kehilangan seluruh keluarganya. Tetapi dia menyaksikan mereka semua terbakar hidup-hidup dan harus melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya dan meninggalkan mereka.
Menurut Pertahanan Sipil Palestina, sekitar 10.000 orang dilaporkan hilang sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka diduga tewas di bawah reruntuhan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey