Demo Terbesar dalam Sejarah AS, 7 Juta Warga Turun ke Jalan Tolak Kepemimpinan Trump
Demonstrasi No Kings yang diikuti 7 juta warga Amerika pada 18 Oktober 2025 menjadi salah satu aksi protes terbesar dalam sejarah AS.
Pada Sabtu, 18 Oktober 2025, jutaan warga Amerika Serikat (AS) turun ke jalan dalam demonstrasi nasional bertajuk "No Kings". Aksi ini berlangsung di lebih dari 2.700 lokasi di seluruh 50 negara bagian AS, menunjukkan partisipasi publik yang masif.
Penyelenggara memperkirakan sekitar 7 juta orang turut serta, menjadikannya salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern. Ini adalah respons terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter dan mengikis norma demokrasi di negara tersebut.
Demonstrasi ini mencatatkan partisipasi yang signifikan, bahkan melampaui beberapa aksi protes historis sebelumnya. Tujuannya jelas: menyuarakan kedaulatan rakyat dan menolak pemerintahan yang dianggap bertindak layaknya seorang "raja".
Skala Demonstrasi "No Kings" yang Memecahkan Rekor
Penyelenggara "No Kings" mengestimasi hampir 7 juta warga AS berpartisipasi dalam aksi protes ini. Angka tersebut 2 juta lebih banyak dibandingkan demonstrasi serupa yang diadakan pada Juni 2025. Ini menandai salah satu mobilisasi massa terbesar melawan pemerintahan Donald Trump selama dua masa jabatannya.
Beberapa ahli berspekulasi bahwa demonstrasi No Kings ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam sejarah AS modern. Partisipasi masif ini menunjukkan tingkat kekecewaan publik yang mendalam terhadap arah kebijakan negara. Jumlah peserta yang mencapai 7 juta warga Amerika ini menjadi sorotan utama di kancah politik global.
Aksi ini melampaui Women's March 2017 yang dihadiri 3,3 hingga 4,6 juta orang di AS. Bahkan, aksi protes anti-perang Vietnam pada Oktober 1969 yang melibatkan ratusan ribu orang pun terlampaui. Skala demonstrasi No Kings ini benar-benar historis dan mencerminkan kekuatan suara rakyat.
Menentang Otoritarianisme dan Membela Demokrasi
Tujuan utama demonstrasi No Kings adalah menentang kebijakan Presiden Donald Trump yang dianggap otoriter. Para pengunjuk rasa mengecam erosi norma-norma demokrasi yang terjadi di bawah pemerintahannya. Mereka menyuarakan kemarahan atas ancaman terhadap prinsip-prinsip dasar demokrasi.
Isu lain yang diangkat termasuk penggerebekan oleh Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) serta pengerahan Garda Nasional di kota-kota AS. Pemotongan program federal seperti perawatan kesehatan juga menjadi poin protes yang signifikan. Gerakan ini lahir dari kekhawatiran akan pergeseran menuju otoritarianisme yang secara fundamental ditolak oleh konstitusi AS.
Slogan "No Kings" sendiri menegaskan prinsip kedaulatan rakyat, bukan kekuasaan absolut. Salah satu pendiri Indivisible, Leah Greenberg, menyatakan bahwa "Tidak ada yang lebih Amerika daripada mengatakan, 'Kami tidak punya raja.'" Ini adalah inti dari pesan yang disampaikan oleh 7 juta warga Amerika yang turun ke jalan.
Suasana dan Reaksi di Berbagai Penjuru AS
Demonstrasi berlangsung di seluruh 50 negara bagian AS, dari New York hingga Los Angeles, mencakup kota-kota kecil dan bahkan dekat kediaman Trump di Florida. Di Washington D.C., ribuan orang berbaris menuju Gedung Capitol AS, tempat pemerintah federal ditutup selama minggu ketiga akibat kebuntuan legislatif.
Suasana demonstrasi sebagian besar berlangsung damai dan meriah, dengan para pengunjuk rasa membawa spanduk dan balon raksasa bergambar Trump. Beberapa peserta juga mengenakan kostum unik untuk menarik perhatian. Di Los Angeles, bendera One Piece bahkan dikibarkan, yang telah menjadi simbol perlawanan anti-pemerintah di beberapa negara.
Meskipun demikian, di pusat kota Los Angeles, dilaporkan terjadi insiden polisi melepaskan peluru tidak mematikan dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Presiden Trump sendiri meremehkan aksi ini, menyatakan ia bukan raja dan mengunggah serangkaian video buatan AI dirinya sebagai raja. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Mike Johnson, menyebutnya sebagai "hate America rally" atau aksi benci Amerika.