Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah mengunggah video buatan kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya mengenakan mahkota dan menerbangkan jet tempur bertuliskan “King Trump”, menjatuhkan cairan cokelat menyerupai kotoran ke arah para demonstran.
Video berdurasi sekitar 19 detik itu diunggah ke akun Truth Social miliknya pada Sabtu (19/10), bertepatan dengan gelombang aksi nasional bertajuk “No Kings” yang menentang kepemimpinannya.
Aksi tersebut digelar di lebih dari 2.700 lokasi di seluruh 50 negara bagian AS, diikuti sekitar 7 juta peserta yang membawa spanduk bertuliskan “I Pledge Allegiance to No King” sebagai simbol penolakan terhadap gaya kepemimpinan otoriter.
Mengutip NBCNews & Anadolu Ajansi, Selasa (21/10), dalam video itu, Trump tampak duduk di kokpit jet tempur dan menjatuhkan cairan cokelat ke arah kerumunan demonstran, termasuk sosok mirip influencer politik sayap kiri Harry Sisson.
“Bisakah seorang jurnalis menanyakan kepada Trump mengapa dia memposting video AI dirinya menjatuhkan kotoran pada saya dari jet tempur? Itu akan sangat membantu, terima kasih,” tulis Sisson di platform X.
Wakil Presiden JD Vance menanggapi sindiran itu dengan menulis: “Aku akan menanyakannya untukmu, Harry.”
Advertisement
Trump diketahui sering menggunakan video dan gambar buatan AI untuk menyindir atau menyerang lawan politiknya.
Berdasarkan laporan NBC News, selama sembilan bulan terakhir, ia telah membagikan puluhan video semacam itu di Truth Social—sekitar separuhnya diunggah pada Agustus dan September.
Sebagian besar konten itu bukan hasil produksi tim Trump sendiri, melainkan unggahan pengguna lain yang kemudian ia bagikan ulang.
Sebelumnya, Trump juga sempat mengunggah meme yang menggambarkan Ketua Fraksi Demokrat DPR AS, Hakeem Jeffries, mengenakan sombrero dan kumis palsu dengan musik mariachi di latar belakang. Jeffries, yang berkulit hitam, mengecam unggahan itu sebagai tindakan rasis dan diskriminatif.
Video terbaru Trump diiringi lagu “Danger Zone” milik Kenny Loggins. Namun, pada Senin (21/10), Loggins mengeluarkan pernyataan resmi yang meminta agar rekamannya segera dihapus dari video tersebut.
“Saya tidak bisa membayangkan mengapa seseorang ingin musiknya digunakan untuk sesuatu yang dibuat dengan tujuan memecah belah,” ujar Loggins.
“Kita semua orang Amerika dan seharusnya bersatu, bukan saling menyerang," tambah dia.
Advertisement
Gerakan No Kings yang digelar Sabtu lalu diorganisir oleh berbagai kelompok progresif nasional dan lokal, termasuk Indivisible, 50501, dan MoveOn. Protes tersebut merupakan lanjutan dari aksi serupa pada Juni lalu yang diikuti sekitar lima juta orang di lebih dari dua ribu lokasi.
Sejumlah tokoh Partai Republik menilai aksi itu sebagai upaya memperpanjang kebuntuan politik, bahkan menyebutnya “rally kebencian terhadap Amerika”.
Ketika ditanya mengenai tanggapan Gedung Putih terhadap aksi tersebut, juru bicara Abigail Jackson menjawab singkat lewat email: “Siapa yang peduli?”
Dalam wawancara dengan Fox News yang tayang Minggu (20/10), Trump menepis tudingan bahwa dirinya berperilaku seperti raja. “Mereka bilang saya disebut sebagai raja,” kata Trump. “Saya bukan raja.”