China Kritik Keras Serangan AS ke Iran: Mereka Negara Pecandu Perang
Juru bicara militer China Kolonel Wu Qian menyebut Amerika Serikat “kecanduan perang” setelah serangan AS–Israel ke Iran, dan menuduh memicu kekacauan.
China melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat setelah serangan militer bersama Israel terhadap Iran.
Juru bicara Kementerian Pertahanan China, Kolonel Wu Qian, bahkan menyebut Washington sebagai negara yang “kecanduan perang”.
Dalam sebuah pernyataanya ke publik, Wu menilai kebijakan militer AS selama ini justru menjadi sumber ketegangan global. Ia menyebut rekam jejak sejarah menunjukkan Amerika Serikat hampir selalu terlibat konflik bersenjata.
“Dalam lebih dari 240 tahun sejak berdiri, Amerika Serikat hanya memiliki sekitar 16 tahun tanpa perang,” kata Wu dikutip dari WashingtonTimes, Rabu (4/3/2026).
“Fakta telah membuktikan bahwa Amerika Serikat adalah akar penyebab kekacauan dalam tatanan internasional, manipulator di balik layar kekacauan global, dan perusak terbesar perdamaian dan stabilitas regional,” tambahnya.
800 Pangkalan Militer AS di Lebih dari 80 Negara
Ia menyoroti keberadaan lebih dari 800 pangkalan militer Amerika Serikat di lebih dari 80 negara dan wilayah di dunia.
Kehadiran militer AS tersebut, kata Wu, telah memicu konflik di sejumlah kawasan seperti Afghanistan, Irak, Suriah, hingga Libya.
Selain itu, Wu juga menyinggung dukungan militer Washington terhadap sejumlah konflik internasional. Ia menyebut Amerika Serikat mengirimkan amunisi uranium terdeplesi dan bom tandan ke Ukraina, mengerahkan kelompok tempur kapal induk ke kawasan Mediterania, serta memasok senjata dan amunisi ke Israel.
“Apakah ini yang disebut ‘kabar baik’ yang dibawa oleh negara yang mengklaim diri sebagai pembela hak asasi manusia?” ujar Wu.
Di kawasan Asia-Pasifik, Wu juga menilai peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat dan penguatan aliansi keamanan regional justru memperuncing konfrontasi blok dan memicu perlombaan senjata.
Langkah tersebut, menurutnya, berpotensi merusak keamanan internasional serta mengganggu tata kelola global.
Terlepas itu, Iran dan China diketahui memiliki kemitraan strategis saling menguntungkan. Teheran merupakan salah satu pembeli utama persenjataan dan peralatan militer dari China, sementara Beijing membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah Iran.
Meski memiliki hubungan erat, China diperkirakan tidak akan terlibat langsung dalam konflik tersebut. Kapabilitas militer China dinilai belum memiliki kemampuan proyeksi kekuatan yang cukup untuk melakukan intervensi jauh dari wilayahnya.