Arab Saudi Eksekusi Mati Jurnalis Pro-Palestina yang Kritik Pemerintah Lewat Media Sosial
Eksekusi mati ini diumumkan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi di media sosial.
Arab Saudi mengeksekusi mati seorang jurnalis ternama, Turki al-Jasser, pada Sabtu (14/6), yang kerap mengkritik pemerintah melalui akun Twitter atau X, setelah pengadilan tinggi negara kerajaan ini memperkuat vonis matinya. Eksekusi mati ini diumumkan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi di X.
Dikutip dari Middle East Eye, Selasa (17/6), pihak berwenang Saudi menggerebek rumah Jasser pada Maret 2018, menyita perangkat elektronik dan menangkapkan. Dia kemudian didakwa atas kasus terorisme dan pengkhianatan.
Namun menurut para pegiat HAM, Jasser ditangkap karena pihak berwenang Saudi meyakini dia punya akun Twitter atau sekarang X yang melaporkan kasus korupsi dan pelanggaran HAM penguasa di negaranya, termasuk keluarga kerajaan Saudi. Jasser juga dikenal sebagai tokoh yang pro-Palestina.
Para pendukung dan pembela Al-Jasser mengatakan eksekusinya, yang dilakukan saat perhatian dunia tertuju pada serangan Israel terhadap Iran, menunjukkan kritik terhadap otoritas di Arab Saudi tidak akan ditoleransi.
Mereka juga membandingkan eksekusi Jasser dengan pembunuhan Jamal Khashoggi, jurnalis Saudi terkemuka lainnya, pada tahun 2018 yang dimutilasi oleh regu pembunuh Saudi di kedutaan besar kerajaan di Istanbul.
"Eksekusi ini sekali lagi menunjukkan bahwa di Arab Saudi, hukuman karena mengkritik atau mempertanyakan Putra Mahkota Muhammad bin Salman berarti kematian," jelas Jeed Basyouni, yang memimpin tim hukuman mati Timur Tengah dan Afrika Utara untuk organisasi Reprieve yang berbasis di Inggris.
Basyouni mengatakan, dalam dua tahun terakhir otoritas Arab Saudi mengeksekusi lebih banyak warganya daripada sebelumnya.
"Dan eksekusi harian kini menjadi norma. Hukuman mati tetap menjadi alat utama penindasan bagi rezim otoriter yang brutal ini," ujarnya.
Pada tahun 2024, Arab Saudi mengeksekusi lebih dari 300 orang. Sementara sampai Mei tahun ini, negara kerajaan ini telah mengeksekusi mati tahanannya yang ke-100.
Kepala program Komite Perlindungan Jurnalis, Carlos Martínez de la Serna, mengatakan eksekusi Jasser merupakan konsekuensi dari impunitas yang dinikmati para pemimpin Saudi setelah pembunuhan Khashoggi.
“Kegagalan masyarakat internasional untuk memberikan keadilan bagi Jamal Khashoggi tidak hanya mengkhianati seorang jurnalis,” cetusnya pada Sabtu.
“Hal itu membuat penguasa de facto, Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS), semakin berani untuk melanjutkan persekusinya terhadap pers, dan hari ini, seorang jurnalis Saudi lainnya telah membayar harganya.”