China Eksekusi Mati Pelaku Dua Penembakan Massal Hanya 70 Hari Setelah Insiden Terjadi
Pemberian hukuman mati memicu perdebatan yang sengit di masyarakat.
China mengalami insiden pembunuhan massal terburuk dalam satu dekade terakhir pada November lalu. Tujuh puluh hari setelah kejadian tersebut, pada Senin (20/1), China menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku, bersama dengan individu lain yang terlibat dalam serangan lanjutan.
Keputusan cepat untuk memberikan hukuman mati tersebut disambut baik oleh banyak netizen di China, meskipun para analis hukum mengkritik langkah ini, berpendapat bahwa eksekusi yang dilakukan dengan cepat tidak akan menghentikan kejahatan di masa depan.
Fan Weiqiu (62) mengemudikan mobilnya ke arah kerumunan di sekitar Stadion Zhuhai di Provinsi Guangdong, yang mengakibatkan 35 orang meninggal dan 43 lainnya terluka. Dalam persidangan yang berlangsung pada 27 Desember, Fan mengungkapkan tindakan brutalnya dipicu ketidakpuasan atas proses perceraiannya. Pengadilan pun menjatuhkan hukuman mati pada hari yang sama, menganggap motivasinya sebagai "sangat kejam dan sifat kejahatannya sangat mengerikan."
Di media sosial Weibo, banyak yang menunjukkan dukungan terhadap eksekusi Fan; salah satunya, seorang dokter gigi bernama Wu Bin, menyatakan bahwa kematian pelaku tersebut "memuaskan semua orang."
Seorang pengguna lain dari Hong Kong dengan nama A Girl's Runaway Dream menulis, "Saya mendukung keputusan itu! Jangan biarkan orang-orang jahat ini terus bersuara pada tahun baru Imlek. Saya berharap mereka beristirahat dengan damai. Keadilan tidak pernah terlambat!"
Meskipun demikian, terdapat juga beberapa netizen yang menunjukkan skeptisisme terhadap hukuman mati.
"Kapan China bisa menghapuskan hukuman mati sebagai bentuk penyiksaan?" kata seorang pengguna Weibo, Shumu Yangshenwo dari Provinsi Hainan.
Pelaku kejahatan lainnya, Xu Jiajin, juga dijatuhi hukuman mati pada hari yang sama karena membunuh delapan orang dan melukai 17 lainnya di almamaternya, sebuah sekolah teknik di Wuxi. Xu, yang baru berusia 21 tahun, melakukan serangan tersebut sebagai bentuk balas dendam setelah gagal dalam ujian akhir dan tidak mendapatkan ijazah kelulusannya.
Di dunia maya, pesan yang ditulis oleh Xu menyebar, di mana ia menyatakan, "Saya berharap kematian saya akan memajukan undang-undang ketenagakerjaan. Jangan salahkan saya, tetapi beberapa masalah harus diselesaikan."
Eksekusi terhadap Xu dilaksanakan hanya 66 hari setelah kejadian dan pembacaan vonisnya.