Apa Saja Aktivitas Penduduk Surga? Temukan Penjelasannya dalam Al-Qur'an
Berikut adalah penjelasan dalam Al-Qur'an mengenai kegiatan yang dilakukan oleh penghuni surga.
Tema eskatologi dalam Islam yang sering menjadi perbincangan serta menarik perhatian banyak orang adalah surga. Banyak dijelaskan dalam Al-Qur'an dan al-Hadits tentang gambaran keindahan dan kenikmatan surga sebagai tempat yang diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang taat.
Selain itu, aktivitas penghuni surga juga menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para penduduk surga tidak kalah menarik untuk diketahui.
Jika Anda penasaran mengenai aktivitas yang mereka jalani, mari kita simak penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an, dilansir Merdeka.com dari berbagai sumber, Jum'at (7/2/2025).
Kegiatan yang Dilakukan oleh Penghuni surga
Dalam Al-Qur'an Surah Yasin ayat 55-58, Allah SWT menjelaskan tentang kehidupan para penghuni surga. Firman-Nya menyatakan bahwa "Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.
Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan), 'Salam,' sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." Berdasarkan informasi dari ibnukatsironline.com, Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang yang berada di surga, di mana mereka akan menikmati kebahagiaan dan kesenangan setelah melewati hari kiamat dan tiba di taman-taman surga.
Para penghuni surga ini terlibat dalam berbagai aktivitas yang membuat mereka terlena dalam kenikmatan abadi dan keberuntungan yang melimpah. Al-Hasan Al-Basri dan Ismail ibnu Abu Khalid menjelaskan bahwa penghuni surga sangat fokus pada kesibukan mereka hingga tidak memperhatikan penderitaan yang dialami oleh penghuni neraka.
Mujahid menafsirkan makna dari firman-Nya mengenai "bersenang-senang dalam kesibukan (mereka)" (Yasin: 55) sebagai perasaan kagum terhadap kenikmatan yang mereka rasakan.
Qatadah pun menyampaikan pandangan serupa. Ibnu Abbas menafsirkan istilah fakihun sebagai bersenang-senang. Sejumlah ulama seperti Abdullah ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan lainnya juga sepakat bahwa kesibukan para penghuni surga berkaitan dengan interaksi intim dengan istri-istri mereka.
Ibnu Abbas menambahkan bahwa kesibukan ini juga dapat berarti mendengarkan alunan musik petikan kecapi. Abu Hatim mencatat kemungkinan adanya kesalahpahaman terkait pernyataan Ibnu Abbas, dan menekankan bahwa yang dimaksud dengan kesibukan di sini adalah interaksi intim tersebut.
Berkumpul dan Bersenang-senang Bersama Pasangan
Abu Hatim menyatakan bahwa mungkin ada kesalahpahaman dari pendengarnya, yang mendengar dari Ibnu Abbas. Sebenarnya, yang dimaksud dengan kesibukan di sini adalah proses memecahkan selaput dara. Firman Allah Swt.:
"Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh sambil berbaring di atas ranjang berkelambu. (Q.S Yasin:56)"
Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Muhammad ibnu Ka'b, Al-Hasan, Qatadah As-Saddi, dan Khasif, makna ara-ik adalah ranjang-ranjang yang berkelambu. Dalam pandangan kami, perumpamaan ini di dunia ini mirip dengan pelaminan yang dihiasi berbagai kain kelambu.
Firman Allah Swt:
"Di (surga) itu mereka memperoleh buah-buahan dan apa saja yang mereka inginkan. (Q.S Yasin:57)"
Ibnu Abu Hatim menceritakan bahwa Muhammad ibnu Auf Al-Himsi menyampaikan kepada kami, bahwa Usman ibnu Sa'id ibnu Kasir ibnu Dinar juga menceritakan hal yang sama. Muhammad ibnu Muhajir, dari Ad-Dahhak Al-Mu'afiri, menyampaikan dari Sulaiman ibnu Musa yang mendengar dari Kuraib, bahwa ia pernah mendengar Usamah ibnu Zaid r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: "Adakah orang yang menginginkan masuk surga, karena sesungguhnya surga itu keindahannya tidak dapat terbayangkan.
Surga itu demi Tuhan Ka'bah, semuanya merupakan nur (cahaya) yang berkilauan, wewangian yang semerbak, gedung-gedung yang kokoh, sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan yang masak, istri-istri yang cantik jelita, perhiasan yang banyak, tempat tinggal yang abadi di negeri yang penuh keselamatan, buah-buahan yang segar, kebaikan dan nikmat yang berlimpah di tempat yang tinggi lagi menyenangkan.”
Para sahabat menjawab, "Ya, wahai Rasulullah, kamilah orang-orang yang sedang mempersiapkan diri untuk memasukinya." Rasulullah Saw. bersabda, "Katakanlah. 'Insya Allah'." Maka para sahabat menjawab, "Insya Allah."
Hal yang serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Kitabuz Zuhud, bagian dari kitab Sunan-nya melalui hadis Al-Walid ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Muhajir dengan sanad yang sama.