Taktik Rahasia Dean Henderson saat adu penalti Melawan Liverpool di Community Shield Akhirnya Terungkap
Psikolog olahraga mengungkap strategi yang diterapkan Dean Henderson dalam adu penalti melawan Liverpool di Community Shield.
Kiper Crystal Palace, Dean Henderson, kembali menunjukkan kemampuannya dalam membaca arah penalti setelah berhasil membantu timnya mengalahkan Liverpool di Community Shield 2025.
Kemenangan melalui adu penalti di Wembley pada hari Minggu (10-8-2025) ini membawa Palace meraih trofi kedua mereka tahun ini, sebelumnya mereka menjuarai Piala FA 2024/25 pada Mei lalu.
Dalam pertandingan Community Shield tersebut, Palace harus berjuang keras karena dua kali tertinggal dari Liverpool, yang menurunkan empat pemain baru: Florian Wirtz, Hugo Ekitike, Jeremie Frimpong, dan Milos Kerkez.
Wirtz dan Ekitike berhasil berkolaborasi untuk mencetak gol cepat pada menit kelima, sementara Frimpong kembali membawa Liverpool unggul pada menit ke-20. Namun, Ismaila Sarr menyamakan kedudukan dan memaksa pertandingan dilanjutkan ke adu penalti dengan golnya di menit ke-77.
Dalam babak adu penalti, Henderson menunjukkan ketangguhannya dengan menggagalkan eksekusi dari Alexis Mac Allister dan Harvey Elliott. Sementara itu, Mohamed Salah lebih dulu melepaskan tendangan yang melambung, memberikan keuntungan bagi Crystal Palace dalam perebutan trofi tersebut.
Bukanlah Metode Baru, tapi Ada Sesuatu yang Unik
Pemandangan kiper yang mencatat arah penalti di botol minum sudah menjadi hal yang biasa. Namun, menurut Geir Jordet, seorang pakar psikologi olahraga, Dean Henderson melakukan lebih dari sekadar mencatat ke mana bola biasanya diarahkan oleh lawan.
"Henderson telah memetakan tidak hanya arah tendangan, tetapi juga teknik yang digunakan oleh penendang," tulis Jordet di akun X miliknya.
"Jika penendang menggunakan teknik yang tidak bergantung pada kiper, di mana arah sudah ditentukan sebelum melakukan tendangan dan mereka tidak melihat kiper, Henderson akan bergerak sangat cepat ke sisi yang telah dipilih, seperti yang ia lakukan saat menepis penalti Mac Allister hari ini," jelasnya.
Jordet juga memberikan contoh lain ketika Henderson menghadapi Harry Kane pada bulan Agustus 2022.
"Dia bergerak dengan cepat dan berhasil menepis tendangan tersebut. Hanya ada empat kiper di Premier League yang pernah menggagalkan penalti dari Kane, dan Henderson adalah salah satunya," ujarnya.
Menurut Jordet, strategi "memprediksi arah lalu bergerak cepat" sangat efektif terhadap penendang yang memiliki sudut favorit dan jarang mengubahnya.
"Sebagai contoh, Dominik Szoboszlai hampir selalu mengarahkan tendangannya ke kiri," tambahnya.
Kelemahan dan Strategi Mengatasinya
Meski strategi ini dianggap efektif, Jordet mengingatkan bahwa teknik tersebut dapat menjadi tidak berguna jika tendangan yang dilakukan sangat keras dan tepat sasaran.
"Orjan Nyland, yang merupakan mantan rekan Szoboszlai di Leipzig, menyatakan: 'Meskipun kita mengetahui arah tendangannya, sangat sulit untuk menghentikannya. Teknik kakinya memang luar biasa'," ujarnya.
Selain itu, Jordet menjelaskan cara untuk mengatasi taktik kiper seperti Henderson dengan menggunakan pendekatan yang bergantung pada kiper, yaitu menunggu gerakan kiper dan kemudian menendang ke arah yang berlawanan.
Salah satu contoh penerapan teknik ini terlihat pada aksi Eberechi Eze dalam pertandingan tersebut.
Namun, kiper yang berpengalaman umumnya mengetahui siapa saja yang menggunakan teknik tersebut. Mereka cenderung tetap diam di garis gawang, sehingga penendang merasa tertekan untuk segera memilih arah tendangannya, yang pada akhirnya dapat mengurangi kualitas tendangan yang dihasilkan.
Henderson menerapkan strategi ini kepada Elliott, yang berujung pada kegagalan dalam mencetak gol. Dengan demikian, meski ada berbagai teknik yang bisa digunakan, pengalaman kiper sering kali menjadi faktor penentu dalam situasi seperti ini.
Maju Mundur
Salah satu trik yang efektif adalah melakukan gerakan tipu pada saat penendang menentukan arah, kemudian segera mengalihkan berat badan dan melompat ke sisi yang berlawanan.
"Yann Sommer pernah melakukan ini dengan sempurna saat menghadapi Jorginho," ungkap Jordet.
Ia menambahkan bahwa penendang kelas atas seperti Kane dan Lewandowski mempersiapkan diri untuk situasi ini dengan cara yang bervariasi, terkadang menggunakan teknik independen, kadang teknik dependen, dan bahkan mengubah strategi dalam pertandingan yang sama.
Saat ini, Liverpool sedang memfokuskan perhatian mereka untuk mempersiapkan laga perdana Liga Inggris melawan Bournemouth yang akan berlangsung di Anfield, Sabtu (16-8-2025) dini hari WIB.
The Reds dapat merasa lebih tenang karena pertandingan liga tidak akan berlanjut ke adu penalti jika hasilnya imbang setelah waktu normal berakhir.
Sumber: Give Me Sport